Agama dan Pendidikan

Paula Gugur di Penjaringan, Tuerah Melenggang Mulus di Pilrek Unima

MANADO – Prediksi banyak kalangan bahwa Prof Dr Ph EA Tuerah MSi DEA, Rektor Unima yang sedang menjabat (incumbent) akan mendapat perlawanan keras dari Prof Dr Julieta Paula A Lumentut-Runtuwene DEA, tak terbukti. Ini setelah istri tercinta, Wali Kota Manado, Dr GS Vicky Lumentut DEA, itu telah gugur terlebih dahulu di tahap penjaringan.

Informasi yang diperoleh pemungutan suara yang dilakukan 62 anggota senat Unima, Kamis (1/12), Paula sapaan akrabnya, hanya memperoleh satu suara. Dekan Fakultas Teknik ini menempati posisi kedua dari belakang.

Dengan hasil ini maka tiga nama yang akan lolos pada suksesi Rektor Unima adalah, Prof Dr Ph EA Tuerah MSi DEA, Prof Dr AG Senduk, dan Prof Dr Orbanus Naharia MSi. Selengkapnya daftar perolehan suara Carek Unima antara lain; Prof Dr Ph EA Tuerah MSi DEA (64 suara), Prof Dr AG senduk (42 suara), Prof Dr Orbanus Naharia MSi (31 suara), Prof Dr Maria Wantah MPd (29 suara), Prof Dr Benyamin Tampang MPd (25 suara), Prof Dr Julieta PA Runtuwene Lumentut (1 suara), Prof Dr Raymond Rumampuk (0 suara), Prof Dr Heindrich Taunaumang (Menungundurkan diri).(ried)

Tag: unima

32 tanggapan untuk “Paula Gugur di Penjaringan, Tuerah Melenggang Mulus di Pilrek Unima”

  1. @Biongo…betul itu …. masa dorang tu bacalon…torang yang lelah ja berdebat…hahaha….

    Bagus se usul bagitu pa Panitia Pemilihan Rektor.

  2. @Aristoteles …. in fact kita adalah guru dan murid…hahahaha….

    Tapi dalam hal Unsrat, saya mendukung Prof. Ellen Kumaat dan anda mendukung Prof. Donald Rumokoy …. mari kita berdebat dan berdiskusi secara damai tanpa saling maki memaki, hujat menghujat dan tuduh menuduh….

    for apa mo bk tuduh…bukang torang pe diri le kwa….hehehe…cuma secara konsep, program tantu setiap orang memiliki jagoan masing2, itu gunanya Demokrasi…

    Kita boleh beda pendapat tapi yang terutama kita sama2 ingin Unsrat semakin hari semakin baik. Dan yang terpenting jangan ada permusuhan diantara kita oi to…persaingan ada tp permusuhan harus dijauhi.

    Saya pribadi, jujur mendukung Prof. Ellen Kumaat … meskipun blum ada hak pilih suara…mar siapapun yang jadi apa itu Prof. Ellen ataupun Prof. Donald..kita percaya itulah yang terbaik yang dimiliki Unsrat saat ini.

    Era Prof. Lucky so lewat, mudah2an Prof. Lucky memberi dukungan kepada siapapun itu tanpa ada “maksud”.

    Marilah kita jadi akademisi yang sejati, bagi saya prestasi terbesar yang ingin saya capai adalah “publikasi internasional” jadi siapapun yang jadi torang pe Rektor kita harapkan lebih lagi menghargai “penelitian2” yang bermutu untuk mencapai publikasi yang diakui nasional dan internasional…

    Sorry for lemlit saat ini, belum ada terobosan, karena rata2 penelitian yang maso samua cuma asal2…cuma for mo dapa itu 15 juta, tapi kenyataannya untuk mendapatkan hibah Dikti saja sangat sulit dari kita2….

    VIVA UNSRAT…dan sorry bagi UNIMA…ini thread tentang UNIMA mar orang2 UNSRAT so ba trosol….

  3. Pembaca 2 dan Binongkol nda usah tlalu pusing dgn statement Prof2 yg ada dsni. Prof ‘asli’ nda mo tlalu eksis dsni mar drang kase tnjung kapa drang dapa gelar Professor dgn mbangun universitas dan terutama loyal kpda atasan.

    Kalo kwa qta cma mnymbung soal sumur di atas. Depe inti for apa mo gali parigi dolong2 kalo so dapa aer yg bersih???? Kalo depe aer so bersih, nda usah mo tambah gali dolong2 karna pasti depe tukang gali cuma mo ‘mati’ di dlm parigi. Tukang gali parigi pe tinggi cma satu meter, depe aer so tinggi satu meter lebe di parigi kong mo pake acara gali lebe dlm, cma mo tepar di parigi itu tukang gali.

    Samua so tau depe aer so bersih cma heran, byk orng trmasuk mahasiswa yg ‘malas’ kuliah suka mo beking kotor kase polusi itu aer dgn mngeluarkan statement politik yg hanya mementingkan kpntingan diri sndiri dan membela kaum yg salah karna kpntingan pribadinya itu. Masih lebe bagus kalo statement, mar kalo so pake acara fitnah utk menjatuhkan seseorang, so biadab skali itu.

    Cepat abis/nyanda ato tetap memancarkan keluar itu aer di parigi bukang karna depe parigi yg mnentukan, mar karna depe sumber mata aer yg ada di dekatnya yg mnentukan. Tantu dekat dgn Tuhan pasti nda mo abis itu aer. Faktor laeng yg mnentukan, krna depe lingkungan tanah yg berbatu2 mnentukan aer di dalam parigi. So itu cari lingkungan bagus for mo gali parigi, kalo so nentau nembole gali, jang gali. Percuma mo gali kalo so tau nda mo kaluar itu aer. Torang so imani torang pe Agama dgn gali di ‘lingkungan’ yg benar, jang gali di ‘lingkungan’ ajaran sesat. Kalo dukung orang jang ‘salah-salah’ krna jang cma krna nda puas, kase kaluar statement ‘aer yg kotor’. Percuma pake ayat Alkitab ato kata2 rohani mar kalo itu tindakan deng perilaku mencerminkan sebaliknya, sama deng aer raksa itu. GBU ALL…..

  4. Sory mo manumpang komentar….
    I am the strongest in the world, my name is more famous than the SBY, Ruth Sahanaya,Chris Jhon, Henki Lasut, Liem Swie King or any other celebrity indonesia!
    I am looking for and provide agreements for the people who strong and powerful in Indonesia such as professors, PhD, a specialist,ETC to beat ME, and I invite in IQLEAGUE.COM!!! Or I say coward YOU, AND I WILL SAY IS haughtily, I MOST FAMOUS INDONESIAN PEOPLE ALL THE TIME

  5. Kenapa seorang Professor cuma ada di PT? Karena sebenarnya tugas seorang profesor adalah mengayomi dan membimbing para yunior. Bukan mengeluarkan statemen politik demi kepentingan diri sendiri.

    Ketika seorang professor menyebut lawan diskusinya ‘so abis bahan’ dan kemudian dengan gaya angkuh bilang “cari ilmu sampai ke negeri cina” ada kesan bahwa si professor sebenarnya sementara menutupi kelemahannya.

    Do not worry Prof. Justru dengan ilmu saya maka saya bisa menganalisa gaya anda menulis. Selama ini tulisan2 andalah yang justru punya pendapat yang terpolusi (dengan kepentingan pribadi) dan partisan (karena mengangkat2 seorang individu karena punya tujuan khusus secara pribadi).

  6. Pak Binongkol deng Pembaca 2. Mungkin anda pe sumur/parigi…perlu gale lebeh dalam supaya itu “air jernih”, tetap memancar keluar deng nyanda cepat abis.

    Klu nyanda gale, itu air jernih cepat abis …kong yang kaluar so aer bapece…..maar aer bapece katuk tetap berguna toch….

    Demokrasi menjamin kebebasan beserikat dan mengeluarkan pendapat…tapi pendapat itu baiknya pendapat yang ‘jernih’ (“air yang bersih”)…bukan pendapat yang terpolusi dan partisan..memperjuangkan kepentingan orang tertentu….atau so kehabisan akal berargumentasi secara rational…..orang Manado bilang yah..”so abis bahan”….

    Supaya torang nyanda cepat abis bahan kong…atau supaya torang pe pendapat atau pandangan yang jernih tetap mengalir keluar…..torang pe ‘perbendaharaan pengetrahuan” perlu diperkaya……torang pa sumur musti gale lebeh dalam supaya itu “aer jernih” terus mengalir keluar memenuhi “sumur” perbendaharaan kita…

    …..pepatah mengatakan..carilah ilmu sampai ke negeri Cina…skaranhg..carilah ilmu sampai melampaui Mars dan Jupiter yaitu hikmat “Salomo”….yang mengeluarkan pendapat dengan “sopan”, santun”…serta mampu menyikapi kritikan, cemohan, sinis, dengan tetap menebar senyum..tetap mengasihi…tetap menghargai, tetap berpikir jernih……karena air yang terpolusi, hanya dapat dibersihkan dengan air yang jernih..

    Saya justru tedrbantu oleh [pandangan anda semua untuk saya makin mampu menggali sumur perbendaharaan saya lebih dalam supaya air disumur tetap “terbaharui”, tetap jernih….Kiranya Tuhan menol;ong Kita Semua….Amin.

  7. Ckckck so bagini dang tu karakter petinggi lembaga pendidikan di Sulut ???
    So nx ada etika, klo mo kase pendapat, saling menghujat merasa paling benar.

  8. Gosh… so bagini tu ta binci…. tutup dengan kata2 relijius….
    (yang kayaknya cuma mengaminkan kata2 yg gak menunjukkan keprofesoran the so called PROFESOR)….
    sayang sekali, dunia pendidikan didominasi oleh org2 seperti beliau…..

    Selamat datang Demokrasi ala para Profesor!!!

    note: untuk para Profesor yang BUKAN seperti Prof Sondakh, this posting is not for you guys….

  9. Congratulations dan selamat bagi Senat UNIMA sudah berhasil menghasilkan tiga Calon Rektor Unima 2012-2016. Hasil penjaringan Calon Rektor UNIMA, sekali lagi membuktikan bahwa benar sekali bahwa ‘pemimpin’ yang unggul dilahirkan melalui proses demokrasi’. Proses di Unima sudah memberikan contoh bukan hanya kepada Unima dan PTN lainnya tetapi juga kepada publik tentang pentingnya ‘demokrasi’ pentingnya membiarkan orang per orang (pemilih) mengambil keputusan memilih menurut “suara hati” nya sendiri, tanpa intervensi dan/atau dibatasi dengan ‘politik merekayasa aturan” yang khusus dibuat untuk kepentingan pribadi atau kelompok atau golongan.

    Unima telah mencontohkan bagaimana melaksumgkan proses demokrasi yang mengikuti “the rules of the game” dan bukan “the games of the rule” untuk kelanggengan trerpenuhinya kepentingan perorangan.

    Yah khusus untuk komenta balik ke Sdra Pembaca 2 diatas, saya justru melihat bahwa keunggulan Prof TRuerah yang diikuti oleh Prof Senduk dan Prof Nahania, merupkana kemenangan ‘demokrasi’ kemangan “Good University Governance” (transparan, partisipasi, respect of individual rights, dan law supremacy)…kemenagana darim paradigma menghiormati “suara hati” majoritas anggota senat .

    Salut bagi Rektor, Prof Tuerah dan Senat Unima yang memberi kebebasan penuh para anggota senat untuk : 1) Bagio yang memenuhi syarat untuk mencalonkan diri (sehingga berjumlah 10 orang); dan 2) Tidak merevisi statuta Unima seperti yang dilakukan Unsrat sekarang ini. Merevisi Statuta, yang alasannya’ ‘demi effisiensi’ dengan membatasi hanya sekitar 30 % Gurubesar yang berhak memilih “calon Rektor”.

    Prof Tuerah aja yang bukan Sarjana Hukum bisa melangsungkan proses Pilcarek yang demokratsi, apalagi tentunya Rektor Unsrat yang adalah ahli hukum, so pasti akan melangsungkan Pilcarek Unsrat lebih baik dari proses Pilcarek Unima. Mari torang samua dukung dalam doa.

    Khusus untuk Ibu Prof Runtuwene, jangan kecewa dengan hanya satu suara….bagaimanapun juga banyak yang salut atas keberanian melakukan langkah awal “menapaki pendakian menuju puncak kepemimpinan Unima”. Every long journey begins with a very small step….I wish you luck in your journey. Gid Bless. Patah tumbuh hilang berganti…esa hilang dua terbilang….sa kita keter ang kabenaran…cita keter ang kajobaan. Via UNIMA. Si Tou Tumou Tumou Tou.

    Slamat banyak Prof Tuerah ya……walaupun tentu siapapun nama yang diterbitkan melalui Kep Mendikbud….semua harus mendukung bukan?….Man Proposes God Disposes…Torang cuma Ora Eta Labora…Kepiutuisan Akhir ada ditangan DIA pembuat sejarah dan penentu hari depan kita semua.

  10. Teruslah berjuang wahai Pejuang UNIMA. Maar kalu berjuang, jangan komang ja beking2 besae katu orang pe nama. Ngana pe kata2 “Prof Paula belum menunjukkan kiprah yang positif dan belum memberi sumbangan besar pada Unima” bisa jadi batu yg ba bale kena pa ngana atau ngana pe junjungan yg terhormat lho!! Maar kita lia2 kwa ini so mulai okat anang kang? hehehehehe…

  11. jang asal malontok kawan2… Klo nentau jank asal2 bakoment.. Semua Kasus di UNIMA masih DUGAAN, dan belum ada keputusan hukum tetap yang menyatakan Prof PHILO bersalah, KALIAN harus menghormati Azaz Praduka tak bersalah donk.. jangan asal ngomong doang…
    proses pemilihan dengan 1 anggota senat memiih 3 carek merupakan meknisme yang disepakati SENAT Universitas, bukan oleh Incumbent. jadi hal itu sah2 saja dan legal, dan bukan sesuatu yang melanggar aturan..
    masalah Prof PAula tdk dipilih,, itu adalah demokrasilagi pula ybs belum menunjukkan kiprah yang positif dan belum memberikan subangsi besar kpd unima jadi wajarlah ybs tidak dipilih oleh anggota senat..|
    sx lagi klo nggak tau soal UNIMA jangan asal malontok dehh
    *tired deh..

  12. Indikasi Incumbent bakuat dgn menghalalkan segala cara krn dugaan kasus korupsi Unima. Hhmmm….. Blh jg strateginya!!!
    Mar mo lia2 ini kasus nda mo happy ending ni incumbent biar jd tapilih ulang.

  13. Kiapa?? so tako lia di Unima kong bilang dikti yg mo pimpin. Masih lebe bae dikti daripada tukang fitnah sama deng ngoni yg pimpin, mimpi stouu kang…..

  14. Gila stow, penjabat dikti yg mo pimpin, cuma ngana p asal malontok itu for apa mo catat kalo bukang kebenaran. Nanti torang lia leh noh….

  15. Unsrat semoga tanpa ancaman , money politik n janji2…ingat proses hukum lagi jalan…siap2 jo dipimpin pejabat dikti….catat ini……nanti torang lia..

  16. Satu pelajaran lagi: money can buy everything…. bahkan integritas, kepercayaan, harga diri….
    Kalo so bagitu, what is left?? Ada yg masih bisa mengklaim bahwa ‘institusi pendidikan bisa menjadi harapan untuk menghasilkan org2 yg berintegritas tinggi’?

  17. boleh saja incumbent menang, tapi proses hukum kasus unimaharus tetap jalan,, apalagi ada indikasi-indikasi gratifikasi buat rektor, baik tanah, mobil dan rumah yang diberikan oleh salah satu bank di sulut….

  18. Kalo so bagini, bukang ancaman berarti itu nomor dua dan tiga di Unima. Bahasa kasarnya, nomor dua dan tiga cuma sekedar boneka.
    Selamat buat (yang akan) terpilih….. GBU all

  19. @pembaca2 Makanya kita bilang, alus dorang pe permainan ini komang, mar tantu Prof. Paula malo skali dgn saki hati skali…dp orang2 tantu berbalik didetik2 terakhir…

  20. Satu lagi kote: sejelek2nya Unsrat, ternyata masih lebih bagus ketimbang Unima.
    I’m wondering, kalo Prof Sondakh baca ini kira2 dia masih menganggap Philo lebih demokratis dibanding rektor Unsrat gak yah? ;)

  21. Yang bilang ‘ancaman’ adalah koran. Sering (bukan cuma kadang2) bahasa koran lebih banyak menjelekkan seseorang yg ditulisnya hanya untuk memenuhi selera para pembaca.

    For Pembaca, kalo kita pribadi merasa bahwa ini bukan sekedar strategi seorang individu tapi merupakan permainan terorganisasi sekelompok orang. Entah ini dilakukan secara sadar demi rasa hormat pada sang incumbent, atau demi memenuhi ‘hasrat’ tertentu (kalo bicara hasrat, pasti panjang keterkaitannya karena berhubungan dengan banyak hal). Satu hal yang kita catat: strategi seperti yg dimainkan ini sangat licik (apalagi untuk sebuah institusi yang bertujuan menghasilkan manusia2 pendidik). Jadi, jangan pernah berharap akan ada perbaikan sistem pendidikan di Sulut kalau kita masih mendukung strategi seperti ini.

  22. Mar alus incumbent Unima pe permainan kang….
    kurang mo lia incumbent Unsrat bagimana…main alus ato main ….

  23. Boleh juga strategi yg diterapkan incumbent, “one man three votes” langsung tumbang tuh ancaman….. Susah memang lawan incumbent, musti bakuat bae2 punya…..

  24. Ado…cuma satu suara…bagimana mungkin bilang ini dia tu ancaman..mar ternyata nda dapa dukungan dari sapapun…kasiang eh

  25. Tumbang lagiiiiiii……. Kage ada yang mo menyusul ini di pilrek yang laeng…….

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara