
Manado – Aktifis Pemuda Sulut, Melky Pangemanan mengungkapkan, penurunan bea masuk (BM) impor kedelai belum cukup untuk menurunkan harga kedelai yang naik hingga 100 persen, namun upaya tersebut dianggap respon positif dari pemerintah. “Mana mungkin harganya yang naik mendekati 110 persen, ditangani hanya dengan menurunkan 10 persen? jelas tidak. Tapi artinya pemerintah bukannya tidak berbuat apa-apa,” kata Pangemanan.
Dia menambahkan, pemerintah diharapkan juga memperbaiki sisi modal industri UKM yang menggunakan bahan dasar kedelai, dengan menyediakan kredit murah. “Kredit untuk rakyat yang dulu dicanangkan presiden masih belum berjalan,” katanya kepada beritamanado.
Menurutnya, untuk saat ini, yang dilakukan pengusaha adalah menurunkan (scale down) produksi hingga separuh dari kapasitas produksi awal. Bahkan, tambahnya, pihaknya menengarai adanya protes dari beberapa daerah yang menggunakan tempe atau tahu sebagai pelengkap utama makanan pokok mereka akibat ketiadaan dua jenis makanan tersebut.
“Ada beberapa yang merasa belum makan, jika belum makan tempe dan tahu, seperti Semarang dan Yogyakarta, untuk di Sulawesi Utara sendiri persoalan ini belum cukup mempengaruhi, karena konsumsinya masih rendah” katanya. Dirinya meminta kepada pemerintah untuk terus memikirkan jalan keluar akan persoalan ini, agar masyarakat tidak semakin terbebani dengan hal ini. (oke)
