Manado – Panen cengkih di beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Utara belum mampu mendorong nilai tukar petani (NTP) daerah tersebut ke posisi yang lebih baik. “Catatan NTP Sulut per Juli 2012 pada angka indeks 100,36, turun 2,66 persen dibandingkan bulan sama tahun lalu atau year on year(YoY) yang ketika itu capai 103,11,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik(BPS) Sulut, Novie Oroh, Jumat (3/8).
Bahkan untuk sektor perkebunan rakyat, dimana petani cengkih masuk dalam kelompok ini, kata Novie, mencatat pelemahan 4,48 persen dari angka indeks 111,26 Juli tahun lalu turun menjadi 106,28 Juli tahun ini. Produksi panen cengkih tahun ini, yang tidak sebanyak perkiraan semula, kata Novie, diperkirakan menjadi faktor penyebab pelemahan angka NTP tahun ini.
“Dari sisi harga cengkih, memang lebih baik tahun ini ketimbang tahun lalu, tetapi karena laju peningkatan biaya rumah tangga yang tidak sebanding dengan pendapatan, sehingga membuat NTP melorot,” kata Novie. Kondisi ini tercermin pada indeks yang diterima petani(iT) naik 1,29 persen, namun pengeluaran petani bertambah lebih tajam yakni 4,06 persen.
Panen cengkih petani Sulut sudah dimulai sejak bulan Mei dan masih berlangsung hingga kini dan diperkirakan segera selesai pada akhir Agustus ini. Dari lima subsektor pengukuran indeks NTP, kata Novie, semuanya mengalami pelemahan. NTP tanaman pangan turun 2,76 persen ke angka indeks 100,99 dari sebelumnya Juli tahun lalu masih mencapai 103,44.
Petani tanaman holtikultura mengalami pelemahan NTP 0,39 persen dari 98,88 tahun lalu ke angka indeks 98,49, peternakan turun 0,89 persen menjadi 100,36 sebelumnya 101,26 dan perikanan turun 2,64 persen ke posisi 93,96 sebelumnya 96,51.(dan)
