Nasional

Indonesia Jadi Negara dengan Pertumbuhan Orang Super Kaya Tercepat di Dunia, Jumlahnya Tembus 6.966 Orang

Ilustrasi pertumbuhan orang super kaya Indonesia atau UHNWI yang diproyeksikan mencapai 6.966 orang pada 2031
Populasi orang super kaya atau UHNWI Indonesia diproyeksikan mencapai 6.966 orang pada 2031, tumbuh sekitar 82 persen.

Penulis: Tim Redaksi

Peta kekayaan global sedang bergeser. Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan populasi orang super kaya tercepat di dunia dalam lima tahun ke depan.

Proyeksi tersebut tercantum dalam The Wealth Report 2026 yang diterbitkan konsultan properti global Knight Frank. Populasi Ultra-High-Net-Worth Individuals (UHNWI) di Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 82 persen sepanjang 2026–2031.

ADVERTISEMENT

Apa Itu UHNWI dan Berapa Jumlahnya di Indonesia?

UHNWI merupakan individu dengan kekayaan bersih sedikitnya US$30 juta atau sekitar Rp534 miliar.

Berdasarkan Wealth Sizing Model Knight Frank, populasi UHNWI Indonesia mencapai 3.833 orang pada 2026. Jumlah tersebut meningkat 36,6 persen dibandingkan 2.805 orang pada 2021.

Dari sisi jumlah absolut, Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara dan wilayah Asia dengan populasi UHNWI yang lebih besar. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah kecepatan pertumbuhannya dalam lima tahun mendatang.

Proyeksi 2031: Mencapai 6.966 Orang

Knight Frank memperkirakan populasi UHNWI Indonesia meningkat dari 3.833 orang pada 2026 menjadi 6.966 orang pada 2031.

Artinya, jumlah orang dengan kekayaan bersih sedikitnya US$30 juta di Indonesia diproyeksikan bertambah sekitar 82 persen hanya dalam lima tahun.

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dalam daftar negara yang diproyeksikan Knight Frank. Indonesia berada di atas Arab Saudi dan Polandia yang masing-masing diproyeksikan tumbuh sekitar 63 persen, disusul Vietnam dan Australia sekitar 59 persen.

Dengan demikian, posisi Indonesia dalam laporan tersebut merujuk pada pertumbuhan populasi UHNWI tercepat, bukan jumlah orang super kaya terbanyak di dunia.

Jumlah Miliarder Indonesia Juga Diproyeksikan Naik

Pada kelompok miliarder, Knight Frank memperkirakan jumlah miliarder Indonesia meningkat dari 33 orang pada 2026 menjadi 49 orang pada 2031.

Kenaikan tersebut setara sekitar 49 persen dan menempatkan Indonesia di posisi ke-12 dalam daftar negara dengan proyeksi pertumbuhan populasi miliarder selama periode 2026–2031.

Gambaran mengenai kelompok miliarder Indonesia juga terlihat dari perkembangan daftar kekayaan terbaru. 10 Orang Terkaya Indonesia September 2026 versi Forbes, misalnya, memperlihatkan kuatnya posisi sektor energi, pertambangan, petrokimia, perbankan, dan bisnis lainnya dalam membentuk kekayaan para taipan nasional.

Angka tersebut berbeda dengan kategori UHNWI. Untuk UHNWI, Indonesia berada di posisi pertama dalam proyeksi pertumbuhan, sementara untuk miliarder berada di posisi ke-12.

Apa yang Mendorong Pertumbuhan Kekayaan?

Knight Frank melihat pertumbuhan kekayaan global ke depan semakin banyak berasal dari negara-negara berkembang dengan ekonomi yang tumbuh pesat. Indonesia termasuk pasar yang diperkirakan menjadi salah satu sumber pertumbuhan kekayaan baru.

Sejumlah faktor ekonomi turut menjadi konteks pertumbuhan tersebut, antara lain perkembangan sektor komoditas, hilirisasi, jasa keuangan, teknologi, properti, dan bisnis keluarga.

Besarnya pasar domestik, basis populasi, perkembangan sektor produktif, serta digitalisasi ekonomi juga menjadi bagian dari perubahan lanskap kekayaan di Indonesia.

Pergerakan daftar orang terkaya nasional juga menunjukkan bagaimana nilai kekayaan dapat berubah mengikuti perkembangan pasar. Prajogo Pangestu, misalnya, pernah tercatat sebagai orang terkaya Indonesia dalam pembaruan Forbes Real-Time Billionaires 2026 dengan kekayaan yang sangat dipengaruhi valuasi perusahaan dan pergerakan harga saham.

Bayang-Bayang Ketimpangan di Balik Angka

Pertumbuhan populasi orang super kaya tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan berlangsung merata.

Data Bank Dunia menunjukkan adanya tekanan pada kelompok kelas menengah Indonesia. Proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan setara kelas menengah turun dari 14,5 persen pada 2018 menjadi sekitar 7 persen pada 2025.

Bank Dunia juga mencatat upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi mengalami penurunan sekitar 1–2 persen per tahun sejak 2018.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya tantangan berbeda di dalam perekonomian Indonesia. Di satu sisi, jumlah individu dengan akumulasi kekayaan sangat tinggi diproyeksikan bertambah cepat. Di sisi lain, perluasan kesejahteraan dan penguatan kelas menengah tetap menjadi persoalan penting.

Karena itu, proyeksi Knight Frank lebih tepat dibaca sebagai gambaran mengenai pesatnya pembentukan dan akumulasi kekayaan di kelompok teratas, bukan sebagai ukuran tunggal pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia.