“Seandainya gak sembuh dan meninggal, ya sudah ketentuan dari Allah mas,” katanya.
Safii dan banyak orang lainnya yang hidupnya pas-pasan dari hari ke hari, hidup di tengah pandemi Covid-19 adalah memilih yang buruk dari yang terburuk.
Jadi, kita juga tidak bisa menyalahkan manakala sebagian orang tak kuat bertahan hidup di rumah, karena mereka memang tidak punya cadangan hidup.
Dari cerita Anto dan Safii tadi, tentu seperti mewakili dua kelompok masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.
Anto dan orang-orang berduit memilih hidup dalam keisolasian sosial, karena takut terpapar Covid-19 yang bisa fatal akibatnya, mati.
Safii dan orang-orang yang hidupnya pas-pasan memilih tetap berinteraksi sosial dengan risiko terpapar Covid-19. Baginya, mati kelaparan lebih menakutkan daripada mati karena ikhtiar.
Penulis:
Krista Riyanto
Jurnalis dan Penulis
