Dari 100 orang yang diedukasi atau diberi sosialisasi, bisa saja hanya 10 orang yang mau mendengar meski belum ikut secara aktif mempraktekkan itu.
Namun, dengan terciptanya ekosistem yang berjalan dengan baik dan berkelanjutan seperti yang baciraro lakukan, ini akan mulai menggerakkan banyak orang untuk ikut serta.

Proses itu kemudian mulai menghasilkan terciptanya sejumlah bank sampah dibeberapa daerah di Sulawesi Utara yaitu di Bitung, Minahasa Utara, Manado hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Babiraro juga punya 5 bank sampah di Tompaso hasil CSR dengan Pertamina.
“Di Tondano kami menjangkau sekolah-sekolah, total 17 sekolah, ada 3 di SMA, 3 di SMK, ada 6 di SMP dan ada 5 di SD,” ungkap Clay.
Baciraro pun tidak hanya meyakini jika masalah sampah adalah tanggung jawab bersama tapi juga membuktikan kontribusinya sehingga ini menjadi cara bagi baciraro untuk memberi diri membantu pemerintah dalam menangani masalah sampah.
Penerapan gaya hidup zero waste
Menerapkan gaya hidup yang meminimalisir produksi sampah juga bisa dilakukan secara pribadi.
Contoh sederhana, dimulai dari membiasakan diri untuk tidak menyia-nyiakan makanan di piring sendiri.
Jika setiap orang berpikir, makanan yang disia-siakan adalah makanan yang diharapkan oleh banyak orang yang kelaparan, maka tidak akan ada makanan yang terbuang sia-sia.
Kalaupun dengan terpaksa ada makanan yang harus tersisa seperti tulang ikan atau daging, maka bisa dimanfaatkan untuk pakan hewan seperti anjing atau kucing.
Gaya hidup seperti itu telah diterapkan oleh sebagian orang dan di Sulawesi Utara sudah mulai terlihat.
Mereka yang menerapkan gaya hidup ini terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari jurnalis, penyelam, Aparatur Sipil Negara (ASN), pengusaha, pelajar, hingga ibu rumah tangga.
Salah satu yang menerapkan gaya hidup ini yaitu Marianne Walukow, seorang ASN di Pemerintah Kota Manado yang juga Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Sulut.
Marianne yang akrab disapa Anne juga terlibat dalam komunitas 1000 guru sehingga dirinya telah sering bepergian ke berbagai daerah.
Dirinya juga telah menyaksikan secara langsung bagaimana sampah itu bisa memberi dampak buruk jika tidak dikelola dengan baik, yaitu bagaimana sampai mencemari lingkungan baik itu laut, hutan maupun lingkungan sekitar.
Termasuk bagaimana sesalnya melihat daerah yang kekurangan makanan sedangkan di daerah yang berkelimpahan, makanan justru banyak yang dibuang.
Anne menceritakan, hal itu jelas membuka pikirannya tentang tanggung jawab yang sering dilupakan, mengelola sampah.
