Berita Utama

Minim Anggaran, Bank Sulut ‘Bergoyang’

Minim Anggaran, Bank Sulut 'Bergoyang'
Suasana Kantor Pusat Bank Sulut (foto beritamanado)

MANADO – Mengklaim Bank Sulut sebagai “Torang Pe Bank”, ternyata tidak terlalu tepat. Dilihat dari segi pelayanan ternyata bank itu sendiri tidak secara umum menyentuh dan mengakomodir semua lapisan masyarakat. Lihat saja, dalam sistem pelayanan kredit, itu hanya diperuntukkan kalangan tertentu.

Seperti yang diungkapkan Ketua Komisi II DPRD Sulut, Steven Kandouw. “Bank Sulut dalam pemberian kredit selalu mengutamakan kalangan Pegawai Negeri Sipil. Untuk masyarakat apalagi pengusaha kecil, sangat minim. Kemungkinan dengan pertimbangan, memberikan kredit ke PNS sistem penagihannya mudah, sehingga bank ini kemungkinan lebih memilih posisi aman,” jelas Kandouw.

Setelah dievaluasi lebih jauh lagi dan berdasarkan data, kata Kandouw, perkembangan kinerja Bank Sulut 2011, deviden belum disetor lebih disebabkan karena CAR (Capital Adequacy Rasio) atau Rasio Kecukupan Modal dalam posisi rawan, apalagi modal Kas Torang pe Bank seret. Ini bisa berbahaya, sebab dengan kondisi demikian Bank Indonesia bisa ambil alih (Take Over).

“Posisi CAR Bank Sulut hanya 8% lebih, ini merupakan tanda awas, seharusnya CAR terendah diposisi 12 %” tegasnya. Yang menyebabkan CAR menurun menurut Kandow, perhitungan tindakan ekspansi bank sulut sendiri kurang matang, dimana ekspansi yang dilakukan Torang Pe Bank tidak sesuai dengan kemampuan bank itu sendiri.

Seharusnya pihak perbankan tahu bahwa CAR perbankan merosot terutama karena dua hal. Yaitu kebutuhan perbankan yang tinggi terhadap likuiditas paska penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. Kemudian situasi terjepitnya perbankan pada masa likuiditas ketat. Perlu diingat, jika modal bank besar maka keuntungan yang akan didapatkan pihak bank juga semakin besar begitu juga sebaliknya.

“Ekspansi yang dilakukan Bank Sulut sangat tinggi, padahal kemampuannya belum cukup untuk itu, sehingga CAR turun drastis,” tegasnya. Persoalan sekarang ini Bank Sulut terlambat menyetor Deviden sehingga tidak ada manfaat sedikitpun.“Untuk apa deviden di setor bulan ini (November, red), tidak ada manfaatnya,” tegasnya.

Disentil ratting Bank Sulut dalam kapasitas pengucuran kredit kepada masyarakat daerah ini, Kandow menuturkan bahwa, sebagai bank daerah, Bank Sulut masih relative jauh dibawah dibanding dengan bank-bank yang ada di daerah ini.

“Di Sulut saat ini ada 22 bank, sedangkan soal penyaluran kredit bagi masyarakat, bank ini masih relative kalah jauh dibanding bank-bank lainnya,” pungkasnya. (iks)

15 tanggapan untuk “Minim Anggaran, Bank Sulut ‘Bergoyang’”

  1. ha..ha..ha..saya salut dan acungkan jempol kepada bapak2 (Prof.Lucky, pak Ferdinand JW dan Tong Kosong,dan bapak2 lain) atas kepedulian pada Bank Sulut.
    Memang ada ratio keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dan CAMELS untuk menilai tingkat kesehatan Bank (sekarang kalau tdak salah sudah ada aturan BI yang baru ttg penilaian tingkat kesehatan Bank). Kalau dianalisis dgn menggunakan angka2 dari data yang akurat (representative) hasilnya pasti “mendekati kebenaran”.
    CAR awalnya merupakan salah satu standar regulasi negara2 Eropa yang diadopsi juga oleh Bank Indonesia, walau di negara cina dorang nda pusing dengan aturan2 tsb tapi tetap eksis.
    Dengan adanya pengembanagn usaha di Daerah Jawa, selain peningkatan Dana Pihak Ketiga karena disana merupakan “pusat bisnis” di Indonesia, ada juga “Intangible Benefit” menurut Prof.Lucky yang mungkin dapat saya terjemahkan sebagai nilai positif untuk mengendalikan “risiko reputasi”.
    Prinsipnya kalo mau maju harus diutamakan pengurus yg PROFESIONAL, bukan orang2 yg hanya selalu berpikir : KAPAN KITA JADI DIRUT, sehingga “mengayuh” pada arah yang berbeda akhirnya tenggelam (pinjam kata dari pak Ferdinand) dan langsung “cuci tangan”.

    Semoga “badai” di Bank Sulut Torang pe Bank yang selalu menjadi kebanggaan warga Sulut dan Gorontalo cepat berlalu….

  2. sorry ditambahkan….Memang literatur2 menunjukkan sebaiknya CAR itu 12 % dan minimal 8 %…jadi tugas torang selanjutnya ialah bantu Bank Sulut su[paya bisa meningkat CAR nya ke 12 % kan?….caranya?…apakah dengan harus mengganti Dirut…I dont know.

  3. Yth. Sdr “Orang Bijak” dll. Maaf ya, sekali lagi saya bukan spesialist perbankan, cuma pernah sedikit belajar. Yang umum kita ketahui bersama, peniliaan kinerja perbankan, atau kinerja seorang CEO Bank, perlu secara terpadu dinilai dari analisis CAMEL kan? C for Capital, A for Assets, M for Management, E for earning (rentabilitas), L, for liquidity and S for Sensitifity to risk. Untuk C dan A, yang diukur dengan CAR, menurut literatur memang minimal 8 %.Untuk management dilihat effisiensi misdalnya “cost for amount of saved and credited) dsb, Untuk Earnings diukur dengan ROA (Return on Assets, ROE (Return on Equity), Interest-sprad ratio, Earning Spread Ratio dan Intermediation Cost Ratio. Untuk Likwiditas, diukur dengan LDR (Loan to deposit Ratio) baik long term maupun short term.

    Lalu, dengan “risk analysis”, stabilitas atau ‘tingkat kepastian’ kelima indikator diatas tidak boleh dilihat secara ‘deterministik’ tapi harus secara ‘stochastic’, diantisipasi dengan teori probability kemungkinan melencengnya perkiraan perkiraan terhadap CAMEL.

    Torang tentu sayang skali “Torang Pe Bank Sulut” ini. Kalau SVR mau tarik dana dari Kab Minahasa keluar dari Bank Sulut pasti yangt untungn ialah bank rival lainnya….

    Saya “awam” disoal kemelut Bank Sulut, tapi saya percaya pasti pada RUPS nanti, laporan analisis berdasarkan CAMELS dalam mengevaluasi kinerja Dirut Utama Bank Sulut, Dr Jeff Wurangian hendaknya ditampilkan supaya ‘bebas’ dari intervensi atau “like and dislike” para politisi…..Catatan: Kalau saya yang “awam” dalam perbankan ada kekelitruan mohon dikoreksi ya…salam. Lucky Sondakh, M.Ec; Ph.D.
    Kelima indikatopr diatas itu akan menentukan ‘market trust’ (kepercayaan pasar).

    Saya sebetulnya bangga melihat Bank Sulut telah memperluas ‘teritory operasi” dalam menjaring “sentimen kawanua” diluar daerah untuk memperkuat ‘bank Sulut”. Jadi, perlu juga diappresiasi adanya “intangible benefit) , manfaat yang tidak harus terukur dengan CAMEL terhadap kinerja Bank Sulut ini. Dan menurut teori “learning curve”, mungkin saja pada tahap awal ini belum terlampau “performed” dari ukuran CAR, ROA,ROE,NPL, LDR dsb akan tetapi dari segi “image” kan l;umayan?…yah ini cuma masukan pada RUPS nanti. Viva Bank Sulut…..

  4. betul itu tong kosong……, tapi saya harap pemberitaan itu benar. ada juga laporan keuangan Bank Sulut tiap triwulan yang dimuat di koran (audited) bisa kita lihat. Memang sebaiknya kita jangan saling menghancurkan, tetapi saling memberi support.
    Kalo yang bagus dinilai tidak bagus, dan yang jelek dinilai bagus, artinya kita tinggal menunggu hari kiamat…..

  5. Kalau ibarat perahu bos2 seharusnya mengayuh ber sama2 kesatu
    tujuan/kedepan, pasti aka laju cepat.
    Kalau mengayuh keberbagai arah karena kepentingan berbeda
    walaupun semuanya kuat/pandai mengayuh perahu akan oleng
    kemudian tenggelam alias semua basah kuyup.

  6. orang bijak, kita nintau bagitu-bagitu tapi kalo deviden baru bayar belakang (nov) pasti ada sesuatu yaitu car yang rendah, jadi deviden ditahan supaya modal tarlihat besar, dan berita itu khan baru sepihak dari BS. Banyak Bank2 yg kolaps dp laporan keu sebelumnya wah , hebat, dll ternyata kolaps apalagi kalo main dg BI. Jadi kita tunggu tanggapan BI, noh sbg pengawas…

  7. Beberapa variabel seperti ROI, ROE,BOPO, NIM, LDR, dan NPL memang berpebgaruh terhadap CAR. Namun variabel2 tersebut diatas bagi bank Sulut justru berpengaruh positif dapat dilihat pada Laba Bank Sulut 2010 mencapai hampir 200 % dari target yang direncanakan. NPLmasih kurang lebih 1%, masih jauh dari 5%, sehingga Prof Lucky anda jangan takut karena debitur Bank Sulut kredibel dan Bank Sulut tidak akan bankrut. Penurunan rasio CAR walau masih diatas 8% memang harus diperhatikan.Hal ini dikarenakan pengembangan usaha yang besar tapi tidak diikuti penambahan modal. Ingat kedepan modal bank harus minimal 1T, sementara modal bank Sulut sekarang belum mencapai 20% dari ketentuan tersebut. jadi kesimpulannya modal Bank Sulut mutlak ditambah… mari kita besarkan Bank Sulut dengan kesungguhan hati, bukan karena hal-hal lain apalagi “cari muka”

  8. Untuk menjawab komentar pak Mac Leonardo diatas tentang pendirian ekspansi di luar pulau Jawa yang katanya tidak diperhitungkan dengan matang , mari kita lihat pemberitaan pemberitaan antaranews.com sbb :”Manado, (Antaranews) – Kehadiran enam jaringan Bank Sulut di DKI Jakarta dan Jawa Timur mampu menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat sebanyak Rp820 miliar hingga pertengahan November 2010. “Dana terhimpun tersebut dihasilkan dari enam kantor jaringan baru, masing-masing empat di Jakarta, dan masing-masing satu di Surabaya dan Malang, Jawa Timur,” kata Direktur Utama PT Bank Sulut, Jeffry Wurangian di Manado, Jumat.Jeffry mengatakan, paling produktif Bank Sulut Cabang Thamrin, hingga November 2010 mampu terhimpun dana di atas Rp400 miliar, atau hampir separuh dari total dana yang berhasil dihimpun dari seluruh cabang di pulau Jawa tersebut.Penghimpun dana tertinggi kedua, Bank Sulut Cabang Pembantu Thamrin hingga November 2010 mampu terserap lebih dari Rp200 miliar, sedangkan Bank Sulut Cabang Surabaya yang baru dibuka pada Juni 2010 lalu, sudah berhasil menggebrak DPK Rp80 miliar lebih.
    “DPK sebesar Rp820 miliar tersebut, maka enam cabang di pulau Jawa tersebut memberi kontribusi sebesar 26,45 persen dari total DPK Bank Sulut yang hingga 31 Oktober 2010 tercatat Rp3,1 triliun,” kata Jeffry.

    Pemimpin Divisi Pembinaan Cabang dan Pengembangan Bisnis Bank Sulut, James Salibana mengatakan, penyerapan DPK sebesar Rp820 miliar tersebut merupakan prestasi yang bahkan lebih tinggi ketimbang cabang lainnya di Sulut dan Gorontalo.

    Selanjutanya dalam pemberitaan Investor Daily Indonesia :
    “Enam kantor cabang dan cabang pembantu Bank Sulut di pulau Jawa mampu menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1,04 triliun hingga Mei 2011.
    DPK yang masuk sebesar Rp 1 triliun lebih tersebut, kata Jeffry mencapai sekitar 30% dari total dana yang terhimpun di seluruh kantor jaringan Bank Sulut, baik yang ada di Provinsi Sulut dan Gorontalo maupun Jakarta dan Jawa Timur.

    “Dari enam kantor cabang tersebut, empat cabang di antaranya belum genap berusia setahun, tetapi telah mampu dipercaya masyarakat di masing-masing daerah tersebut sebagai tempat menyimpan dana mereka dengan aman,” kata Jeffry seperti dikutip Antara.

    Jeffry mengatakan, secara total DPK terhimpun di 42 kantor jaringan di Sulut dan Gorontalo serta Jakarta dan Jawa Timur hingga tanggal 25 Mei 2011 sudah mencapai Rp 3,6 triliun.

    “Capaian ini dengan sendirinya mematahkan anggapan segelintir orang yang menilai pembukaan kantor cabang di luar daerah itu sebagai suatu pemborosan,” kata Jeffry.

    Terima kasih…….

  9. Bank Sulut, perusahaan terbaik milik SULUT dan Gorontalo ! Arah kebijakan pengembangan Bank sangat banyak ditentukan oleh manajemen. Adalah kelalaian besar jika pemegang kendali manajemen mengambil kebijakan yang sangat tidak memperhitungkan resiko. Adalah yang paling pokok dalam pengelolaan bank sekarang adalah Risk Management, penerapan GCG yang pada prinsipnya semua bertolak dari Prudential Banking. Jadi nda bisa seenaknya seperti kata prof Lucky. Jika Komisaris sebagai wakil owner memberikan resume atas kinerja Dirut jangan dipandang sebelah mata karna sepengetahuan saya Komisaris Utama dan komisaris lainnya telah lulus Ujian Risk Manajemen walaupun mereka tidak berlatar belakang Bankir. Yang perlu dikaji adalah berbagai kebijakan yang telah diambil Direktur Utama untuk ekspansi yang tidak memperhitungkan dengan matang untuk pembukaan kantor diwilayah jawa timur yang tidak mempertimbangkan banyak hal seperti, kesiapan SDM, bisnis forecasting yang dibuat tanpa pengkajian matang atau cuma diprediksi angkanya secara acak tanpa ada survey yang layak. Saya nilai bahwa calon Direktur Utama nanti misalnya Pak Lintang punya kapasitas yang sangat baik tetapi harus tetap mempersiapkan tim kerja yang betul2 mampu dan memiliki kredibilitas serta “sense of belonging” atas bank Sulut. Hati2 karena banyak yang ingin menakhodai Bank Sulut tetapi tujuannya bergeser untuk kepentingan pribadi atau beberapa pihak tertentu. Owner need to know ………….

  10. CAR yang biasa juga disebut CRAR (Capital to Risk Assets Ratio)
    yang seharusnya diatas 10% lebih baik lagi diatas 12% . Tiap negara
    akan menentukan angka yang paling tepat agak berbeda, tergantung si
    tuasi ekonomi dan jurisdiction masing masing.
    Tentunya bos setiap bank bertanggung jawab atas turun naiknya CAR.
    Dengan cermat dia harus mengawasi rasio besarnya risiko yg membebani
    asset TERHADAP equity capital, cadangan dan untung rugi yang berjalan..
    Tapi bijaksanakah kita kalau harus tukar ganti pejabat yang mungkin kemam
    puan nya sama???? Sebagai penganut demokrasi dimana power ada ditangan rakyat kita harus lebih cerdas, bijaksana dan mau belajar dari yang
    lebih maju.
    May God always be with Sulut.

  11. Memang sudah saatnya pengurus Bank Sulut di FPT ulang…. saya baca di Koran Posko hari ini, Dirut Bank Sulut diberhentikan oleh Komisaris, dengan alasan bahwa tindakan Dirut membahayakan operasional Bank padahal apa yang dilakukan Dirut untuk meningkatkan CAR Bank Sulut sehingga Bank Sulut boleh beroperasi dengan normal. Saya maklum tiga dari komisaris yang ada bukanlah bankir tetapi mantan birokrat, hanya 1 anggota komisaris pensiunan pegawai Bank Sulut yang tidak berkutik pada para mantan sekprov. Bank Sulut dalam keadaan bahaya jika campur tangan Komisaris begitu besar. Sudah saatnya Bank Sulut dikelola oleh pengurus Profesional. Semoga…..

  12. Wah……kalau dari sudut pemberitaan koran media terutama Manado Post tentang Bank Sulut kayaknya sangat keren, tapi saya yang kebetulan memperoleh gelar Master of Economics dan kemudian Doctor of Philosophy (Ph.D) dari University of New England, Australia, walaupun bukan ekspert, tapi agak sediikit paham sedikit tentang perbankan, bahwa seorang CEO dari sebuah Bank memang ibarat seorang Jendral piawai dalam Bisnis Strategy. karena Bank Sulut bersaing dengan bank bank lainnya, agar supaya jumlah dan volume dana yang ditabung (saving) /deposito akan bisa bersaing dengan perbankan lainnya. Strateginya ukan hanya dalam kebijakan “tingkat bunga” (i, rate of interest) tapi juga dalam staregi yang menyangkut “economy of scale” dan “economi of scope”. Makin tinggi i, makin besar daya tarik bank menarik atau memobilisasi dana masyarakat yang dipercayakan kepada bank….tapi kalau dana yang ditabung masyarakat di bank tersebut disalurkan pada nasabah pengguna kredit yang tidak “credible”…wah…bisa bankrut bank ini…..

    CA 8 % dari Bank Sulut harusnya sudah mewarning ada sesuatu yang harus dibenahi di bank Sulut…trapi saya percaya Bank Sulut mempunyai Dirut Utama yang adalah seorang Doktor dengan dibantu para Dirut yang profesional dan diawasi oleh Para Komisaris yang “bekend” bekend” dengan binaaan Pak Gubernur yang ahli strategi, syogianya akan mampu menjadikan “torang pe bank” menjadi Bank yang berjaya di paltform industri perbankan di Indonesia…..Semoga.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara