Metode visual memungkinkan anak autis secara mandiri mengendalikan proses belajar, sehingga membangun pengendalian diri dan kecerdasan emosional.
Berdasarkan metode penelitian yang ada, ditemukan bahwa metode pembelajaran piano terhadap anak autis meliputi pendekatan deskritif fenomologi, ditemukan: Metode pembelajaran piano sebagai strategi adaptasi, melihat tantangan yang dijumpai dalam proses pembelajarannya dan kemudian melihat respon dari anak autis itu sendiri,
- Metode Pembelajaran Piano sebagai strategi adaptif terhadap anak autis.
aspek-aspek metode pembelajaran piano sebagai strategi adaptif terhadap anak autis terdiri dari:
1.Memory singing yaitu kemampuan mendengar dan menyanyikan partitur melodi lagu yang belum pernah maupun pernah dikenal dan dinyanyikan sebelumnya;
2. Hearing yaitu kepekaan terhadap dinamika, aural, maupun aksen dalam music;
3. Reading yaitu membaca notasi balok yang sudah disediakan oleh guru berupa kartu-kartu yang bergambar notasi balok;
4. Finger drill yaitu melatih keterampilan dan penjarian siswa dalam bermain piano[7].
Bisa kita lihat bahwa, strategi adaptif dari pembelajaran piano terhadap anak autis dengan menggunakan pendekatan ini sangat mendukung karakteristik dari anak autis seperti yang dikemukakan oleh Muna, dkk (2024), bahwa anak autis adalah salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang bersifat luas yaitu memiliki gangguan kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial, sehingga anak ini terlihat memiliki dunia sendiri[8].
Empat aspek metode pembelajaran piano sebagai strategi adaptif sangat cocok untuk anak autis.
Pendekatan ini mengatasi gangguan kognitif, bahasa, perilaku komunikasi, dan sosial, di mana bisa kita lihat, anak autis punya dunianya sendiri. Metode pembelajaran piano jadi jembatan visual dan ritme, tingkatkan fokus, emosi, dan interaksi tanpa tekanan verbal terhadap anak autis.
- Tantangan yang dijumpai (Proses & Metode Pembelajaran Piano)
Tantangan muncul akibat karakteristik autis seperti gangguan kognitif, bahasa, perilaku, dan interaksi sosial seperti yang dikemukakan oleh Switri (2020) menyatakan bahwa anak autis memiliki tiga karakteristik utama diantaranya kesulitan komunikasi, gangguan berinterksi sosial serta gangguan perilaku.
- Kesulitan komunikasi: anak autisme seringkali menghadapi tantangan mendasar dalam berkomunikasi, diantaranya: a. Kesulitan atau keterlambatan dalam berbicara. b. Kesulitan dalam menulis, membaca serta memahami bahasa isyarat, misalnya menunjuk dan melambai sehingga sulit untuk memulai percakapan atau petunjuk yang diberikan oleh orang lain. c. Kecenderungan untuk mengulang kata atau frasa yang baru didengar, berbicara dengan suara keras atau nada tinggi, sering bersenandung dan mengalami tantrum. d. Kurang inisiatif untuk berkomunikasi secara dan verbal melalui bahasa tubuh. e. Mengeluarkan ucapan yang tidak dapat dipahami f. Cenderung mengulang perkataan orang lain. g. Kesulitan dalam memahami pembicaraan orang lain.
- Gangguan dalam berinteraksi sosial Kesulitan dalam berinteraksi sosial merupakan karakteristik yang sangat terlihat pada anak autis. Hal ini dilihat dari: a. Anak autis seringkali lebih tertarik dalam dunianya sendiri, sehingga membuatnya sulit untuk membangun koneksi dengan orang-orang di sekitarnya. b. Anak autis seringkali menunjukkan kurangnya respon atau kepekaan terhadap perasaan diri sendiri ataupun orang lain.
- Gangguan perilaku Anak autisme seringkali menunjukkan perilaku seperti: a. Kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. b. Perilaku yang tidak terfokus misalnya berjalan mondar mandir, berlari, memanjat, berputar-putar dan melompat melompat. c. Keterikatan yang kuat pada objek atau barang tertentu. d. Kebutuhan yang kuat terhadap rutinitas yang kaku. e. Sering mengalami ledakan emosi atau tantrum. f. Perilaku obsesif – kompulsif g. Ketertarikan yang berlebihan pada benda yang bergerak atau berputar. h. Menghindari kontak mata. i. Tidak merespon ketika dipanggil. j. Kurang berinteraksi atau berteman dengan anak semuanya. k. Lebih suka bermain sendiri[9].
Sehingga, anak autis cenderung terisolasi dalam dunianya sendiri. Pertama, memory singing sering terhambat oleh kesulitan memori dari anak autis itu sendiri, menyebabkan pengulangan berlebih yang memicu frustrasi; kedua, hearing memicu sensitivitas terhadap dinamika suara keras, sehingga anak menutup telinga atau menarik diri. Ketiga, reading notasi kartu visual menghadapi berlebihannya reaksi dari anak autis, jika gambar terlalu kompleks, mengakibatkan kehilangan fokus; keempat, finger drill terkendala koordinasi motorik kasar, dengan tangan kaku atau gerakan repetitif yang menghalangi kemajuan.
Tantangan ini diatasi melalui modifikasi seperti ritme pendek bertahap, volume yang terkendali, simbol dibuat lebih sederhana, dan istirahat sensorik, menjadikan metode pembelajaran piano sebagai jembatan efektif yang meningkatkan fokus, regulasi emosi, dan interaksi tanpa paksaan verbal, selaras dengan adaptasi visual sensorik neurobiologis anak autis.
- Respon Anak Autis dalam Pembelajaran Piano (memory singing, hearing, reading dan finger drill)
strategi adaptif metode pembelajaran piano yang selaras dengan keunikan neurobiologis anak autis, di mana pengolahan informasi lebih kuat lewat penglihatan dan sentuhan.
Menurut Nurfadillah (2022), ada beberapa teori yang mendukung terhadap timbulnya gangguan autisme yaitu:
1. Teori psikososial, teori ini menjelaskan bahwa pola asuh orang tua yang memiliki emosi tinggi, kaku dan cenderung obsesif mempengaruhi perkembangan emosional anak. Lingkungan keluarga yang tidak kondusif dan kurang ramah dapat mempengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak yang pada akhirnya dapat memicu munculnya gejala autisme.
2. Teori biologis, teori ini berkembang berdasarkan beberapa pengamatan, termasuk tingginya angka are terjadi mental pada individu autis (sekitar 75% sampai 85%), perbandingan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang signifikan (4:1), serta meningkatnya kondisi medis yang mempengaruhi sistem saraf. Fakta-fakta tersebut mengindikasikan adanya dasar biologis dalam perkembangan autisme.
3. Teori imunologis, teori ini menekankan adanya kemungkinan keterkaitan antara sistem kekebalan tubuh pada kasus autisme. Ditemukan beberapa anak autis menunjukan penurunan respon imun. Selain itu, adanya antibodi pada ibu terhadap antigen leukosit anak autis semakin memperkuat dugaan adanya faktor imunologis. Antigen leukosit ini juga ditemukan pada sel-sel otak, sehingga antibodi ibu berpotensi merusak jaringan syaraf otak janin dan mempengaruhi timbulnya autisme[10].
