Berita Utama

Menguak Kisah Warisan Budaya Pacu Jalur yang Makin Mendunia Gegara Tren “Aura Farming”

Semuanya diawali dengan musyawarah kampung yang dihadiri pemuka adat, tokoh masyarakat, pemuda, hingga kaum ibu.

Rapat yang dipimpin pemimpin adat ini bertujuan untuk menyepakati pembuatan jalur baru dan menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Tahap berikutnya adalah memilih batang kayu yang sesuai.

Jenis kayu yang umum dipakai adalah banio, kulim kuyiang, atau jenis lain yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual.

Kayu yang dicari harus lurus, dengan panjang sekitar 25-30 meter dan diameter 1–2 meter. Konon, kayu pilihan ini diyakini dihuni oleh “mambang,” yaitu roh penjaga pohon.

Pemilihan kayu ini tidak boleh asal-asalan, karena nantinya jalur harus mampu menampung 40 hingga 60 orang pendayung.

Seorang pawang memainkan peran penting dalam prosesi ini, termasuk memimpin ritual “semah” agar pohon tidak ‘hilang’ secara gaib.

Setelah itu, pohon ditebang menggunakan kapak dan beliung, lalu dahan dan rantingnya dipisahkan.

Kayu yang sudah bersih kemudian dipotong ujungnya sesuai ukuran jalur, kulitnya dikupas, dan diberi pembagian untuk haluan, badan, dan bagian penting lainnya.

Selanjutnya, dilakukan proses perataan bagian atas kayu yang disebut pendadan, dilanjutkan dengan pengerukan bagian dalam hingga ketebalannya merata, atau mencaruk.

Bagian sisi atas kayu pun diperhalus, membentuk bibir perahu agar terlihat ramping dan seimbang.

Proses membalikkan kayu, yang dikenal sebagai manggaliak, dilakukan dengan sangat hati-hati agar bentuk dan ketebalannya tetap seimbang.

Pengukuran ketebalan ini menggunakan lubang kecil yang nantinya akan ditutup pasak.

Setelah bagian luar selesai, jalur dikembalikan ke posisi semula untuk dibentuk haluan dan kemudinya.

Jalur yang hampir jadi kemudian ditarik bersama-sama menuju kampung dalam sebuah tradisi gotong royong yang dikenal dengan maelo jalur.

Ini adalah prosesi penting yang sangat mempererat persatuan warga.

Setibanya di kampung, jalur akan dihaluskan lagi, dihias dengan ukiran khas, dan diasapi untuk memperkuat kayu.

Proses pembuatan jalur ditutup dengan penurunan perahu ke sungai melalui upacara adat, menandai selesainya seluruh rangkaian pembuatan jalur yang penuh nilai budaya dan kebersamaan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara