Berita Utama

Mengenal Bataga Santiago, Putra Nusa Utara yang Akan Dianugerahi Pahlawan Nasional

Mengenal Bataga Santiago, Putra Nusa Utara yang Akan Dianugerahi Pahlawan Nasional
Bataga Santiago. Foto: Ist

Manado, BeritaManado.com — Bataga Santiago, akan dianugerahi Presiden Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2023.

Pastinya, hal ini tak lepas dari perhatian Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur, Steven Kandouw, yang konsisten mengusulkan pejuang asal Sulut untuk dianugerahi pahlawan nasional.

Di era, Olly – Steven, sebelumnya ada dua pejuang Sulut ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Adalah AA Maramis pada 2019 dan Arnold Mononutu di tahun 2020.

Lantas, bagaimana sebenarnya sepakterjang Bataga Santiago dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Berikut ulasan FG Tangkudung, yang disadur dari Newsantara.id;

“Kita bukan sahabat Spanyol, juga bukan sahabat VOC. Mereka hanya ingin mengambil hasil bumi kita,”

Penggalan kalimat itu sangat terkenal karena lantang terlontar dari Bataga Santiago, raja yang menolak kolonialisme bangsa asing.

Santiago, sudah melegenda di masyarakat Kepulauan Nusa Utara pada umumnya dan masyarakat Kepulauan Sangihe khususnya.

Dia melambangkan jiwa patriotisme dalam menentang kolonialisme sejak abad ke-16.

Sayang, kini banyak generasi muda tak pernah tahu lagi sejarah perjuangan gagah berani dari pasukan Bataha Santiago.

Santiago lahir di Bowongtiwo (sekarang bernama Desa Kauhis, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe) pada tahun 1622 dari pasangan Raja Tompoliu dan Permaisuri Lawewe.

Bernama lengkap Don Jugov Santiago, ia adalah raja ketiga Kerajaan Manganitu yang memerintah pada tahun 1670-1675.

Santiago yang mendapat gelar Bataha (sakti), naik takhta menggantikan ayahnya yang mangkat pada tahun 1670.

Ayahnya merupakan raja kedua Kerajaan Manganitu (1645-1670), yang semasa hidupnya menginginkan Santiago mendapat pendidikan setinggi mungkin.

Itu agar kelak menjadi seorang raja yang cakap dalam memerintah Kerajaan Manganitu.

Keinginan ayahnya dia patuhi pada tahun 1666, saat itu Santiago yang sudah berumur 44 tahun pergi ke Manila, Filipina, untuk menuntut ilmu pemerintahan di Universitas Santo Thomas.

Santiago berhasil menamatkan pendidikannya di salah satu Universitas tertua di Filipina ini (berdiri tahun 1611) selama empat tahun.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara