Nasional

Maya Rumantir: Generasi Bangsa Harus Manfaatkan Era Digital

Maya Rumantir: Generasi Bangsa Harus Manfaatkan Era Digital
Maya Rumantir saat memberikan materi lokakarya

Penulis: Frangki Wullur I Medan

Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara mengatakan bahwa generasi bangsa Indonesia saat ini harus memanfaatkan era digital saat ini sebagai kesempatan untuk meraih mimpi dan cita-cita masa depan.

Hal itu disampaikan Maya Rumantir dalam kegiatan Lokakarya Kelompok DPD RI di MPR RI pada 12 April 2026 di Kota Medan, Sumatera Utara.

Dikatakannya, dalam hal ini kaum Perempuan mempunyai peran strategis dalam membentuk karakter anak bangsa di era digital saat ini.

Pada kesempatan tersebut, Senator Maya Rumantir menyebutkan bahwa transformasi digital telah mengubah secara fundamental cara masyarakat berinteraksi, memperoleh informasi, dan membentuk opini publik.

Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik baru yang memengaruhi pola pikir, nilai dan karakter bangsa.

Dalam konteks ini, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis. Selain sebagai individu, perempuan juga berperan sebagai pendidik pertama (madrasatul ula) dalam keluarga, serta agen sosial yang berkontribusi dalam pembentukan karakter generasi.

Di era digital, perempuan semakin aktif memanfaatkan media sosial sebagai ruang ekspresi, advokasi, edukasi, dan partisipasi dalam kehidupan demokrasi. Namun demikian, dinamika tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan.

Maya Rumantir: Generasi Bangsa Harus Manfaatkan Era Digital

Perempuan kerap menjadi sasaran berbagai bentuk kekerasan digital seperti body shaming, misogini digital serta standar ganda yang berdampak pada kesehatan mental dan kepercayaan diri.

Konten media sosial juga masih sering mereproduksi stereotip yang menempatkan perempuan dalam peran yang sempit dan bias.

Di sisi lain, terdapat perkembangan positif dimana perempuan, terutama generasi muda, menunjukkan peningkatan kehati-hatian, daya kritis serta kemampuan analisis dalam mengonsumsi informasi digital. Media sosial juga menjadi sumber informasi penting yang dimanfaatkan perempuan untuk kepentingan keluarga dan masyarakat.

Penetrasi internet yang semakin luas di Indonesia telah mendorong lahirnya ruang-ruang interaksi baru yang tidak lagi mengenal batas geografis dan sosial. Perempuan kini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten

yang aktif membentuk narasi publik. Dalam posisi ini, perempuan memiliki peluang besar untuk memengaruhi arah wacana sosial, budaya, hingga kebangsaan melalui pesan-pesan yang disampaikan di ruang digital.

Namun, besarnya peluang tersebut juga diiringi dengan risiko yang tidak kecil. Algoritma media sosial yang cenderung mengutamakan sensasi dan viralitas seringkali mendorong penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, bias, bahkan merugikan kelompok tertentu, termasuk perempuan.

Dalam situasi ini, kemampuan literasi digital tidak lagi bersifat opsional, melainkan menjadi kebutuhan mendasar untuk menjaga kualitas ruang publik digital.

Lebih jauh, konstruksi identitas perempuan di media sosial seringkali berada dalam tarik-menarik antara representasi autentik dan tekanan sosial yang bersifat normatif. Perempuan dihadapkan pada ekspektasi yang tidak seimbang.

Di satu sisi dituntut untuk tampil ideal secara visual, di sisi lain diharapkan berperan aktif dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Ketegangan ini dapat memengaruhi pembentukan karakter, baik pada individu perempuan itu sendiri, maupun generasi yang menjadikannya sebagai referensi.

Dalam konteks keluarga, perempuan memiliki peran sentral sebagai pendidik utama yang mentransmisikan nilai, norma, dan karakter kepada anak-anak. Di era digital, peran ini mengalami perluasan, di mana perempuan tidak hanya membimbing secara langsung, tetapi juga menjadi kurator informasi bagi keluarga.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara