Komoditas kedua kelompok yang tercatat menyumbang inflasi cukup tinggi diantaranya obat dengan resep, tarif laboratorium, martabak, dan mie.
Kenaikan harga komoditas yang relatif jarang bergerak tersebut mengindikasikan adanya perubahan permintaan ataupun suplai komoditas tersebut selama Januari 2021 khususnya di Kotamobagu, disamping faktor tingginya volatilitas harga bahan baku yang ikut menjadi pendorong kenaikan harga sebagain komoditas tersebut yang menjadi produk turunannya.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Arbonas Hutabarat mengatakan, Bank Indonesia dan TPID Sulawesi Utara memandang meningkatnya tekanan inflasi di Kota Manado dan Kotamobagu menunjukan bahwa permintaan masih berjalan meski terjadi penurunan aktivitas sosial ekonomi.
Aktivitas ekonomi yang terus berada dalam tren positif sepanjang triwulan IV 2020 pada Januari 2021 terus menunjukan penurunan.
“Pembatasan jam operasional dalam rangka penanggulangan Covid-19 menurunkan tingkat aktivitas sosial ekonomi masyarakat Sulawesi Utara. Meski demikian, peningkatan tekanan inflasi yang terjadi memberikan indikasi bahwa terdapat realisasi permintaan ditengah pasokan sebagian komoditas yang cenderung terbatas sehingga memicu kenaikan harga,” ujar Arbonas.
Aktivitas sosial ekonomi masyarakat masih berpotensi meningkat sejalan dengan pengendalian pandemi yang lebih efektif ditunjang bergulirnya proses pemberian vaksin.
Peningkatan aktivitas tersebut tentu akan diiringi dengan peningkatan permintaan masyarakat, sehingga kenaikan tekanan inflasi berpotensi terjadi kembali.
“Ke depan, pengendalian inflasi masih akan dipengaruhi oleh dinamika aktivitas ekonomi masyarakat. Berbagai upaya untuk menurunkan kurva kasus aktif Covid-19 di Sulawesi Utara menjadi kondisi prasyarat untuk mendorong kembali kenaikan aktivitas ekonomi,” kata Arbonas.
Meski berisiko memberikan tekanan inflasi, kata Arbonas, peningkatan aktivitas diperlukan untuk menjaga permintaan dan mendorong pemulihan ekonomi daerah.
Adapun untuk tetap mengendalikan tekanan inlasi pada targetnya, Bank Indonesia memandang bahwa sinergi seluruh Dinas dan Kementerian/Lembaga terkait untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis.
Ketersediaan pasokan dan manajemen stok pangan akan lebih efektif dan efisien bila dilakukan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya daerah yang berlebih.
Koordinasi lintas TPID kabupaten/kota terutama dengan TPID di wilayah produsen pangan termasuk implementasi kesepakatan Kerjasama Antar Daerah (KAD), penting diperkuat untuk mengantisipasi potensi permasalahan pasokan, distribusi maupun keterjangkauan harga secara dini.
“Selain itu, sejalan dengan peningkatan anomali cuaca, antisipasi kenaikan harga komoditas yang relatif rentan seperti hortikultura dan perikanan perlu terus dioptimalkan antara lain melalui penguatan monitoring perubahan pasokan dan kelancaran distribusi di sepanjang rantai pasok khususnya di kota Manado dan kota Kotamobagu,” pungkas Arbonas.
(***/srisurya)
