Aku kadang malu ketika ada teman yang datang ke rumah tanpa sepengetahuanku, mengutuk diri dan menyalahkan mamak kenapa tidak seperti orang tua yang lainnya, yang memberi anak-anak mereka kehidupan layak.
Kadang aku menemani mamak menjadi buruh cuci di rumah orang, ataupun menggarap sawah milik tetangga.
Tak jarang ada teman-teman yang tak sengaja lewat dan melihatku tengah menggosok daki orang lain bersama orang tua rentah ini, rasa kesalku semakin bertambah.
Bagiku waktu itu, hidup sangat tidak adil bagi orang-orang yang berkantong tipis.
Hingga ketika aku lulus sekolah MA, mamak menyuruhku tak lagi melanjutkan pendidikan karena beliau tak lagi mampu.
Kata-kata itu kutolak mentah-mentah dengan durhakanya, aku ingin tetap melanjutkan pendidikan, memaksa mamak yang rambutnya semakin memutih, dan kulitnya yang makin hitam legam, untuk bekerja agar aku bisa mewujudkan ambisi ini.
Sebagai orang tua, mamak tak bisa menolak tawaran itu, ia terpaksa mengiyakan, bekerja lebih keras, bahkan harus mengurangi porsi makannya untuk mengumpulkan rupiah agar aku, putrinya yang durhaka ini bisa bergelar sarjana.
Tak jarang aku melihat beliau berjalan tanpa alas kaki di bebatuan tajam, jikapun memakai sandal, pasti sebelah kiri dan kanannya berbeda, atau keduanya sama tapi bolong di tumitnya.
Saat usiaku mulai beranjak dewasa dan pendidikanku semaki tinggi, aku menyadari satu hal yang harusnya sudah disadari sejak dulu, perempuan tua rentah yang buta huruf itu telah membantuku dalam meraih mimpi.
Mengetahui bahwa dunia tak sesederhana yang terlihat, bahwa alam tak selalu mendiskriminasi orang-orang berkantong tipis, kuncinya hanya satu, rasa syukur, mau berusha, serta tak mau menyerah begitu saja pada takdir.
Suatu hari, aku tengah duduk di bawah pohon rambutan dekat rumah yang tak pernah berbuah, bersama mamak selepas hujan.
Saat itu mamak masih memakai baju dinas petaninya, aku memperhatikan lamat-lamat seorang perempuan bertubuh kurus dan pendek di depanku itu.
Gurat wajahnya semakin terlihat jelas sebagai tanda perjuangan, beliau tak pernah tebang pilih pekerjaan, pantang mengeluh, selagi halal dan bisa menghasilkan rupiah selalu diembatnya.
Hanya demi seorang anak keras kepala yang berambisi untuk mengubah hidup melalui jalur pendidikan.
Padahal kalau beliau mau, bisa menikah lagi dan hidup lebih baik.
Tapi itu tak dilakukan, hanya terus menyiksa diri, banting tulang demi kehidupan anaknya yang lebih baik.
Aku banyak belajar dari beliau.
Tentang kesabaran, kegigihan, dan kerja keras, serta cinta yang tak pernah menemui dasarnya.
