Bolmong Raya

Mamak! Selamat Hari Pahlawan

DALAM mencapai mimpi, seseorang harus punya landasan kenapa ia harus berjuang mewujudkannya.

Dalam hal ini pun, seseorang harus mendapat dukungan minimal dari segi finansial, atau paling tidak dari seluruh rakyat Indonesia.

Tapi, itu adalah hal yang sedikit ngawur dan menggelikan.

Sejak kepergian bapak 11 tahun lalu dengan hanya meninggalkan sedih, aku hanya punya seseorang dalam hidup yang membosankan ini, mamak.

Kami harus bertahan hidup pada arena pertempuran yang mewajibkan seseorang harus melawan takdir untuk mendapat sesuatu yang lebih mengagumkan.

Waktu kepergian bapak kala itu, aku masih sangat kecil dan butuh kasih sayang, mamak menjadi seseorang yang dipaksa harus kuat, menjadi ibu sekaligus ayah.

Mencari nafkah dari berbagai tempat, mulai dari buruh tani, buruh cuci, penggarap sawah, hingga harus berjualan di pasar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi kami yang memang hanya bisa membeli beras untuk dimakan hari ini dan besoknya harus mencari lagi, selalu begitu.

Pernah dulu ada yang berkata pada mamak, bahwa aku tak perlu disekolahkan karena kami tak punya cukup uang.

Tapi mamak tak menghiraukannya, menguras tenaga untuk terus bekerja demi pendidikan anaknya yang lebih baik, karena beliau sendiri bahkan lulus SD pun tidak.

Menjadi butah huruf yang kadang membuatku jengkel.

Mamak bilang, meski hidup susah, pendidikan adalah hal yang utama, setidaknya jika tak punya uang, punya pengetahuan sebagai landasan hidup, itu adalah sesuatu yang mahal sekali harganya.

Ya, meski tanpa dukungan finansial dan keluarga, tapi mamak mampu mengantarkan anaknya sampai pada titik ini, hebat sekali.

Saat aku mulai masuk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), kami tak punya rumah—sampai kini pun masih tetap sama—dan aku harus dititipkan di rumah saudara.

Mamak pergi merantau ke kabupaten seberang, mencari hidup yang lebih baik berharap ada belas kasih dari tuhan.

Usahanya berhasil, membeli rumah yang mirip kandang kambing, yang ketika hujan bocor dan malam dingin.

Sebagai anak yang baru merasakan masa-masa pubertas, aku kesal sekali dengan kehidupan kami yang tak lagi bisa dikatakan miskin, semuanya serba terbatas, bahkan pernah waktu itu kami tak lagi punya beras dan harus tidur dengan perut yang lapar.

Dan saat tengah malam, mamak keluar mencari singkong kemudian ia membakarnya dan diberikan kepadaku, meski ia sendiri lapar, tapi mengutamakan anaknya yang durhaka dan keras kepala ini.

Kemudian saat aku mulai masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), kehidupan berkali lipat menjadi lebih sulit, rumah kami yang tadinya mirip kandang kambing, mulai berdiri miring condong ke barat.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara