Kota Manado

Kolintang Goes To Unesco, Pinkan Indonesia Napak Tilas di Sulawesi Utara

Kolintang Goes To Unesco, Pinkan Indonesia Napak Tilas di Sulawesi Utara
Foto bersama Penny Iriana Marsetio bersama pengurus Pinkan Indonesia dan Yayasan Alfred Sundah

Manado — Kolintang bukan hanya sekedar alat musik tradisional asli Sulawesi Utara tapi merupakan warisan budaya Indonesia yang tak boleh hilang.

Pelestarian kolintang pun tak semata-mata hanya dilakukan oleh orang Sulawesi Utara, melainkan oleh segenap bangsa Indonesia.

Kini, kata pelestarian dirasa tak cukup tanpa adanya pernyataan dan pengakuan resmi agar kolintang tak diambil oleh negara lain.

Untuk maksud tersebut, kolintang pun sedang diperjuangkan untuk tercatat di Unesco, yaitu Badan PBB untuk urusan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan sebagai warisan budaya Indonesia.

Usaha untuk mensukseskan hal itu telah dimulai sejak lama oleh banyak pihak sehingga kini saatnya target itu diraih atas kerjasama seluruh komponen yang terkait.

Salah satu pihak yang bekerja keras untuk itu adalah Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan) Indonesia.

Dibawah pimpinan kepengurusan yang baru dengan Ketua Umum Penny Iriana Marsetio, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Pinkan Indonesia hadir di Sulawesi Utara untuk belajar kolintang dari daerah asalnya.

Yayasan Alfred Sundah (YAS) di Lembean Minahasa Utara merupakan salah satu tempat yang dikunjungi mengingat sejarah kolintang di Sulawesi Utara, tak bisa lepas dari seniman dan budayawan asli Tonsea ini. Anak-anaknya pun kini meneruskan semangat tersebut di YAS. Selain itu, Prima Vista Lembean juga sempat disinggahi karena dikenal sebagai bengkel kolintang yang juga sering meraih juara dalam berbagai kompetisi.

Di Lembean, Penny dan rombongan DPP Pinkan Indonesia dibuat terpukau karena atmosfir budaya terutama kolintang yang begitu kental, dengan seniman yang berasal dari berbagai golongan dan usia, mulai anak-anak hingga dewasa.

“Kami ingin napak tilas kolintang di daerah asalnya. Terutama belajar bagaimana awal kolintang dan perkembangannya. Ternyata memang masyarakat disini sangat mengenal dan bahkan hidup dalam budayanya. Ini juga merupakan salah satu syarat Unesco, yaitu harus dari daerah asal,” ujar Penny kepada BeritaManado.com, Kamis (7/3/2019), saat berkunjung ke Yayasan Alfred Sundah.

Hal lainnya yang harus dipenuhi adalah adanya sekolah yang menjadikan kolintang sebagai salah satu bagian dari kurikulumnya dan ternyata Manado Independent School (MIS) sudah menerapkan itu.

“Di MIS sampai dilaksanakan konser kolintang oleh siswa-siswi. Bahkan ternyata yang mau belajar kolintang bukan hanya warga Indonesia tapi juga luar negeri. Ini jadi motivasi, masa orang luar mau lantas kita tidak,” kata Penny yang telah mengenal dan belajar kolintang sejak tahun 1985 ini.

Fakta-fakta dilapangan ini lantas disebut Penny sebagai pemicu semangat untuk terus bekerja keras mewujudkan tercatatnya kolintang dalam Unesco.

“Kami pun berharap, Pak Gubernur Sulawesi Utara mendukung ini, kami akan bertemu dan membahas soal ini bersama-sama,” ungkap Penny.

Usai blusukan dalam napak tilas kolintang, Penny Iriana Marsetio didampingi Ketua Harian Drs Joppie JA Rory SH, MH,
Sekjen Felix J Luntungan dan
Bendahara Renny Setyowati
serta seluruh pengurus yang ada turut menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelatih Kolintang Indonesia (Ipkolindo) di Rumah Budaya Nusantara Wale Mazani Minahasa, Tomohon.

Rakernas ini dibuka oleh Direktur Yayasan Institut Seni Budaya Pa’Dior Pinabetengan Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto dan dihadiri oleh para pelatih musik kolintang se-Indonesia.

(srisurya)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara