Shalom. Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Bapak ibu dan saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan.

Kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang memungkinkan kita menikmati kehidupan walaupun di tengah banyak pergumulan dan tantangan.
Tetapi kita percaya bahwa apapun yang kita alami, Tuhan tidak akan membiarkan kita karena ada jaminan kasih setia Tuhan.
Sekilas tentang bacaan kita, Yeremia 29.
Yeremia 29 adalah bagian dari Kitab Yeremia dalam Alkitab Ibrani dan kitab Perjanjian Lama.
Surat dikirim oleh nabi Yeremia bin Hilkia dari Yerusalem ke Babel, kepada Nebukadnezar, raja Babel, sekitar tahun 597 sebelum masehi (mungkin ditulis setahun atau dua tahun setelah mereka tiba di Babel).
Surat ditujukan kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel.
Bapak ibu dan saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan.
Ketika kita melihat sisi uang logam maka akan terlihat dua sisi yang saling melengkapi nilai uang tersebut. Tanpa salah satu sisi, tentunya uang logam tersebut tidak akan memiliki nilai.
Kedua sisi uang tersebut saling mengikat satu dengan lainnya.
Demikian juga dalam memahami karakter Tuhan Allah kita sebagaimana yang diajarkan firmannya.
Kasih setia dan keadilannya beriringan dalam setiap tindakan Tuhan Allah.
Firma Tuhan malam hari ini mengajarkan dua hal tersebut kepada kita.
Hal yang PERTAMA: KASIH SETIA TUHAN (ay. 1-14)
Ayat 1-3 dalam bacaan kita menjelaskan bahwa Yeremia membuat surat khusus bagi orang Israel di pembuangannya. Maksud Yeremia adalah memberikan berita Tuhan yang benar tentang situasi yang harus dijalani Israel akibat kegagalan rohani mereka.
Israel harus menjalani masa pembuangan 70 tahun di Babel sebagai konsekuensi atas dosa mereka.
Akan tetap sekalipun mereka berada di pembuangan, kasih setia Tuhan tidaklah hilang dari mereka. Tuhan tetap memberikan kelegaan bagi umatNya di tengah situasi sulit mereka. Tetap ada berkat untuk menikmati hidup di tanah pembuangan.
Mereka, meskipun tidak memiliki Bait Allah, oleh Kasih Tuhan mereka tetap menikmati berkat rohani. Mereka tetap menikmati persekutuan rohani bersama degngan Tuhan melalui doa dan ibadah.
