
Bitung—Kepala Sekolah (Kepsek) SMK Negeri 1 Kota Bitung, Treesje Tengker menganggap Pungutan Liar (Pungli) berkedok partisipasi di sekolahnya adalah hal yang biasa. Karena menurutnya, uang partisipasi tersebut merupakan kerelaan orang tua siswa yang diberikan ke tiap walikelas ketika mengambil rapor.
“Kalau partisipasi itu adalah hal yang biasa, karena itu bukan Pungli tapi partisipasi yang diberikan orang tua siswa kepada guru. Bisa juga diberikan bisa juga tidak dan tidak memaksa,” kata Tengker ketika dihubungi, Senin (18/6) oleh sejumlah wartawan.
Malah Tengker mengaku, dirinya juga sering memberikan uang kepada guru walikelas anaknya ketika mengambil rapor. Dan ia mengaku itu adalah hal yang lumrah terjadi disekolahnya, apalagi tidak ada orang tua siswa yang keberatan untuk memberikan uang sebagai ucapan terima kasih.
“Sampai saat ini kan belum ada komplain dari orang tua siswa, jadi saya anggap itu adalah hal yang wajar dan biasa saja,” katanya tanpa beban.
Apa yang dikatakan Tengker ini sangat bertentangan dengan pengakuan sejumlah orang tua siswa SMK Negeri 1 Kota Bitung. Dimana menurut pengakuan salah satu orang tua siswa, ketika mereka tidak memberikan uang partisipasi akan berimbas pada anak mereka yang menimba ilmu di sekolah tersebut.
“Bagaimana kami tidak memberikan uang jika setiap mengambil rapor para guru walikelas selalu mengingatkan untuk memberikan partisipasi baru membahas masalah perkembangan anak,” kata salah satu orang tua siswa yang identitasnya dirahasiakan.
Malah menurut orang tua lain, para guru di sekolah tersebut sudah hafal mana orang tua yang memberikan partisipasi dalam jumlah besar dan mana yang hanya pas-pasan. Dan itu terlihat ketika proses pengambilan rapor, dimana orang tua yang dianggap memberikan partisipasi lebih akan didahulukan sedangkan yang hanya pas-pasan dibirakan untuk menunggu berjam-jam.
“Otomatis kami mau tidak mau harus memberikan partisipasi walaupun harus mengutang ke tetangga hanya untuk mengambil rapor,” katanya.(enk)

jngan kase ssama samua…nda samua org model bgni….
@Radik
Betul Radik, masih cukup banyak guru yg masih punya nurani & mengabdi dgn tulus. Semoga para guru yang masih layak menyandang predikat Pahlawan Tanpa Tanda Jasa tersebut diberi rahmat melimpah & kesejahteraan yang cukup oleh Tuhan.
Semoga para guru muda seperti @Yustus masih mau ‘membersihkan diri’ lalu mengabdi secara tulus juga tanpa mencemarkan diri dari ‘budaya’ negatif seperti di atas.
Bukan ingin menakuti, tapi ada berita menarik pagi ini ttg pungli di sekolah:
http://news.detik.com/read/2012/06/25/064156/1949634/10/ada-pungutan-liar-saat-penerimaan-siswa-laporkan-ke-sini?9911012
@Cupkee
Betul, kita sekarang dijajah oleh bangsa sendiri dlm berbagai hal. Tapi setidaknya para guru jaman Belanda doeloe betul-betul bikin pintar para muridnya sehingga para Bapak Bangsa (Founding Fathers) bisa terdidik lalu memperjuangkan kemerdekaan.
Jangan heran jika para guru sangat dihormati di Tanah Toar Lumimuut sehingga dulu disebut secara sejajar dgn dokter: Tuan Guru dan Tuan Dokter. Keduanya sungguh pengabdi & CONTOH masyarakat.
Nah, kalau guru jaman sekarang sudah menjadikan pungli di sekolah sebagai hal yg biasa, apa jadinya dgn para siswa? Ingat pepatah lama: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari….
Wahai para guru, sadarlah akan panggilan tugas pengabdian nan mulia untuk mencerdaskan bangsa ini….
DULU KITA DIJAJAH OLEH NEGARA2x LUAR….
SKARANG KITA DIJAJAH OLEH NEGARA KITA SENDIRI…
(hayatilah kata2x diatas)
KAPAN INDONESIA BISA MAJU???
kalau tradisii seperti inii blum di BUMI HANGUSKAN…
benar apa yg dikatakan ANAK DESA, jgn pertemukan dgn oknum2 yg mempraktekkan pungli yg dianggap biasa/wajar, sbntr anak anda akan menjadi seperti.biasa kan. memang skrg pendidikan sdh menjadi komersil, sekolah negeri yg semestinya gratis kini telah membayar SPP.
siapa berduit dia bisa membeli pendidikan, siapa tdk berduit akan dilayani dengan ogah-ogahan (kata ANAK DESA) tapi saya msh yakin kalau ada guru yg msh punya nurani.
@Yustus
Komentar saya ttg cara siswa Anda menulis komentar di sini memang tidak substansial, makanya saya letakkan di bagian akhir komentar tsb. secara singkat.
NAMUN saya coba menampilkan korelasinya secara objektif; maaf bila Anda tidak sempat memperhatikan. Bila para guru sudah mengkomersilkan pendidikan (tercemar atau bahkan berorientasi pada pungli/KKN), maka para siswa (generasi penerus!) akan jadi korban. Bukti korbannya adalah siswa Anda yg menulis komentar dgn cara menyedihkan seperti di atas….
Mengenai anak saya, maaf, tidak akan saya perkenankan bertemu dgn Anda (apalagi MENGHADAP ANDA–ini bahasa arogan…). Saya kuatir dia akan tercemar “budaya partisipasi” dan entah budaya negatif apa lagi yg ada pada lingkungan Anda di sana :-)
Semoga anak saya bisa terlindungi dari budaya negatif semacam itu sehingga kelak bisa berguna demi membangun Sulut & Indonesia tercinta :-)
@Cupkee Marhaenis
“yg di takutkan ini PUNGLI menjadi tradisi di dunia PENDIDIKAN….”
Sudah terjadi! Lihat saja komentar siswa & orang tua siswa di atas. Mereka sudah menganggap “partisipasi” ini sbg hal biasa, sudah dijadikan BUDAYA.
Maka jangan heran kalau Pelayanan Publik yg disajikan oleh para PNS biasanya berkualitas di bawah standar. Para PNS tsb (sebagian besar) selalu mengharapkan “tanda terima kasih” karena mengingat “pengajaran” di bangku sekolah dulu mengenai “partisipasi” kepada guru di sekolahnya.
Bila tidak diberi “tanda terima kasih”, mereka akan memberikan pelayanan ala kadarnya alias ogah-ogahan….
Padahal mereka digaji dgn uang rakyat (melalui pajak dll) untuk melayani rakyat. Ironis, bukan?
Kalau begini terus, bagaimana Sulut bisa cepat maju?
maling mana, mau ngaku.. hehehheee
yg di takutkan ini PUNGLI menjadi tradisi di dunia PENDIDIKAN….
APA KATA DUNIA???
Buat Bapak – Ibu Guru……Renungilah di hati kalian….
APA YG PERNAH BAPAK/IBU BERIKAN KEPADA NEGARA KITA…???
BENARRRRRR ITUUUUU….
MEEEEERRRRDEKAAAAAAA
indonesia memilki jiwa korupsi terbesar di dunia,,
i2 di karenakan telah di tanamkan rasa cinta uang sejak mulai dari bangku sekolah yang di dasari oleh oknum para guru dngn mengiyakan partisipasi dari ortu murid yg dianggap biasa saja….
saling sikat saling tipu………..yg kaya semakin kaya….yg miskin semakin miskin…….
Portugal 1 – 0 Ceko
portugal lolos :D
tapi ini semua ambil hikmahnya saja,kedepan pasti kota bitung lebih baik.bpk yustus akan mengajar dgn Luar Biasa utk menciptakan IPTEK & IMTAQ bagi siswa-i dimanapun bpk yustus mengajar.kawan2 yg lain juga(coment) pasti akan memberikan sumbangsih utk kemajuan kota bitung.
jaya smk 1 bitung…..jaya kota bitung…..jaya kawan2…..jayalah indonesia.
amin.
god bless torang enteru.
akhir kata senyum dan damai dibumi bitung :)
info : bpk yustus seorang guru (honorer).
Gaji sudah d kasi gede, tapi masih juga ngambil uang partisipasi, ritual yg menggunakan dengan modus partisipasi dari orang tua sudah menjadi budaya/borok dunia pendidikan…..
ini harus d revolusikan, dan para pihak dinas pendidikan harus jeli melihat ini, jangan hanya terlena bapak, ibu, sampai kapan uang partisipasi ini harus menjadi budaya d dunia pendidikan, sedangkan kinerja tidak sebanding dengan hasil,,….
hahahahahaahaha
sangat lucu saya membaca hujan koment dalam berita yang satu ini
@ pak Sam : Terima Kasih atas tanggapannya Pak. GBU.
@ Pak Lucky : Terima Kasih atas tanggapan2nya Pak.. GBU
@ Selengean : Tanya sama wartawannya apa benar konfirmasi Langsung Pas sebelum naik cetak berita ini? atau cuma COPAS tanpa recek? atau krna hal lain..?? Hanya beliau saja yg tahu.. Peace ^__^
@ Anak Desa : Terima kasih BAPAK YTH atas TANGGAPANNYA. Sebelumnya saya minta maaf sama BAPAK YTH, krna saya masih terlalu muda untuk mengomentari statement BAPAK YTH yg notabene juga dapat dikatakan sbg paman saya. BAPAK YTH memang seorang Indonesianis sejati salut buat anda BAPAK YTH. Satu hal. Apakah anak BAPAK YTH juga sudah menggunakan bahasa indonesia yg baik & Benar? Tolong hadapkan kepada saya BAPAK YTH, tenang saja saya akan berikan penilaian yg objektif. Jangan BAPAK YTH cepat menilai sesuatu tanpa objektifitas yg benar. Sungguh sangat subjektif penilaian BAPAK YTH. Tentang Partisipasi seperti yg bapak ucapkan diatas, itul adalah tanggapan BAPAK YTH, dan saya sendiri dengan tanggapannya sendiri pula. Tetapi soal bahasa, wah tidak substansial sama sekali dengan apa yg kita bahas BAPAK YTH. SEKALI LAGI SAYA MENUNGGU ANAK BAPAK YTH. & SAYA AKAN MEMBERIKAN PENILAIAN YG OBJEKTIF SEPERTI BAPAK YTH SUDAH MENILAI SISWA SAYA ^_ Terima kasih sebelumnya. GBU..
Kita amati dari pak Yustus N Janis pe cara batanggapi dan comentar maka kita dapa ukur tu kualitas pendidikan di SMK 1 Bitung, jadi kita paham dan mangarti guru di sekolah lebe utamakan tu partisipasi bukan pendidikan deng kredibilitas guru disitu kita ragukan lantaran depa cara bapikir ndaj jau beda dengan orang2 di pasar yang ndak sekolah
Rame kote kang?
#“Kalau partisipasi itu adalah hal yang biasa, karena itu bukan Pungli tapi partisipasi yang diberikan orang tua siswa kepada guru. Bisa juga diberikan bisa juga tidak dan tidak memaksa,” kata Tengker ketika dihubungi, Senin (18/6) oleh sejumlah wartawan.#
Setidaknya berita tersebut dikutip dari Sumbernya langsung berdasarkan kutipan diatas.
Saya ingin me-review statement Pak Justus “PERLU DICATAT, HAL TERSEBUT TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN GRATIFIKASI, KORUPSI & USAHA2 MEMPERKAYA DIRI SENDIRI. ”
Apakah Pak Justus tahu DEFINISI Gratifikasi? coba Pak Justus baca Penjelasan Pasal 12B Ayat (1) UU No.31 Tahun 1999 juncto UU No.20 Tahun 2001. disitu jelas ditulis DEFINISI Gratifikasi.
INGAT !!!! ANda sebagai PNS mempunyai kewajiban MELEKAT sebagai Penyelenggara Negara.
Saya kutip sedikit “Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap PEMBERIAN SUAP, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut (dst …)”
Imbas dari hal ini sangatlah banyak, salah satunya adalah penerapan standar ganda terhadap “Yang Memberi” dan “tidak Memberi”.
Apapun Alasannya .. sebagai PNS yang adalah Penyelenggara Negara, Anda harus berhati – hati dalam menyikapi setiap pemberian dalam hal ini SUAP!.
Imbas yang lain? … Pak Justus dan guru – guru yang lain telah menanam Bom waktu di watak para siswa yang nantinya berpotensi menjadi koruptor jika diberi kekuasaan kelak.
“Karena akar segala kejahatan ialah CINTA uang”
Salam,
Sam
@Yustus
Saya tidak membela @Lucky. Usia saya sekarang 43 tahun. Sejak kecil saya selalu beserta orang tua menerima raport tetapi tidak pernah sekalipun orang tua saya memberikan tanda terima kasih berupa uang. Pihak sekolah maupun para wali kelas tidak pernah memberikan dorongan untuk memberikan “partisipasi” ataupun “tanda terima kasih” berupa uang.
Saya ikut prihatin seandainya orang tua Anda juga sudah mengadopsi budaya “partisipasi” seperti dalam berita ini.
Namun sekarang ini, praktek “partisipasi” saat penerimaan raport bahkan sudah dianggap BIASA oleh Kepsek Anda (setidaknya menurut BeritaManado). Itulah yang sangat kami prihatinkan. Kalau tidak percaya, baca saja komentar siswa sekolah Anda yg ikut menulis komentar di atas.
Demikiankah cara bapak & rekan2 mendidik para siswa di sekolah Anda?
Saya kutip komentar saya sebelumnya: “Imbasnya: tidak sedikit para PNS yang “mengharapkan ucapan terima kasih” atas pelayanannya kpd masyarakat PADAHAL mereka sudah digaji untuk melayani masyarakat dari uang masyarakat juga!!!”
Maksud pernyataan saya: Tidaklah mengherankan bhw bila para siswa sekolah Anda menjadi PNS nantinya akan bermental seperti itu!!!
Anda ikut bertanggung jawab, Pak Yustus….
Ironisnya, para siswa Anda nampaknya belum terdidik untuk menggunakan bahasa Indonesia dgn baik.
Lihat saja cara menulis dari: @Silvana Lauda dan @Nanda. Menyedihkan….
bapak Yustus, itu komentar dari ibu kepsek jadi si wartawan muat sesuai ucapan ibu kepsek. tapi santailah, berita kayak gini udah basi. akan dilupakan kok beritanya. kata ibu kepsek “wajar dan biasa saja” okay santai dan satu kata PEACE
satu kata PEACE
nyantai aja pak yustus :)
nyantai aja pak2 pers :)
besookk (kata org jawa) akan dilupakan beritanya
wong kasus korupsi besar dilupain dan dimaafkan apalagi hanya begini. kacang goreng. bentar lagi memasuki bulan puasa,,hayoo..apalagi mau masuk lebaran..hayooo.. nyantai aja.. mari nyanyi lagu santai.. :)
bpa/ibu wrtwan yg trhrmat sya sbgai siswi SMK N 1 Bitung, sya kberatan atas infrmasi yg yg tlah anda kluarkan mllui media elektronik in….
slma sya mngmbil raport orang tua saya tidak pernah mrsa d’pksakan oleh wli klas saya untk m’byar uang p’ngmabilan raport / (partisipasi) tsbut, i2 semua hx kerelaan atau keikhlasan dari orang tua saja…
i2 kan tidak d’pksakan…
buat bapa/ibu wartwan klau blum mnemukan infrmais yag psti, bnar, jlas dan akurat jngan dlu d’muat d’media elektronik kaya’ gini aplgi bkan hx wrga Kota Bitung yang tw, tapi sudah menduniai….
@ Lucky : Makasih atas tanggapannya.. Semoga anda menyekolahkan anak anda dengan sinergitas yg baik dengan guru anak anda. Tapi ingat anda juga pernah bersekolah & Orang Tua anda tahu apa yg anda lakukan.
@ Herry : Hm… Militan kek, ekstrim kek, terserah anda tanggapi apa. Soal Foto bnyak yg keberatan di sekolah. Saya sudah bilang diatas FOTO.IST (Tentu saja sumbernya milik pribadi SUDAH JELAS TERPAMPANG DI FOTONYA yg bisa diambil dimana aja). SETIDAKNYA SAYA TIDAK BERKOOPTASI DENGAN ANDA TETAPI ANDA JELAS BERDIKOTOMI DENGAN CLEAR. Semoga anak anda berprestasi & membanggakan ORANG TUANYA..
sekedar iseng pengen tau, enci treesye so bekeng klarifikasi ke masyarakat bitung kah? (depe bahasa kema; press conference terhadap berita terkait), kalo cuma da se cuek akang nih berita, ouw mo menjamur ini posting (coba lihat waktu netters ba iko rame posting di berita hot line pernyataan wagub sulut terhadap pelayanan dokter puskesmas harus ‘ontime, ondesk en online praktek 24 jam melayani masyarakat). :)
bagitu jo
Memang wartawan harus cross-check dgn instansi/nara sumber terkait.
Terlepas dari itu, yg harus dicermati adalah perilaku pemberian upeti seperti itu. Nah, lihat saja sendiri. Karena sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya lalu perilaku tersebut SUDAH DIANGGAP BIASA oleh para orang tua maupun siswa.
Bagus sekali bhw hal ini diangkat oleh BeritaManado krn sesungguhnya ini adalah fenomena gunung es. Apa yg diangkat di BeritaManado ini juga terjadi di seluruh pelosok Sulut.
Upeti dalam penerimaan raport hanyalah satu bentuk. Bentuk lainnya adalah upeti berupa: membawa makanan, membawa alat2 kebersihan dll.
Yang kami prihatinkan adalah perilaku seperti itu yg jelas2 memberi contoh tidak baik kepada para siswa secara langsung.
Imbasnya: tidak sedikit para PNS yang “mengharapkan ucapan terima kasih” atas pelayanannya kpd masyarakat PADAHAL mereka sudah digaji untuk melayani masyarakat dari uang masyarakat juga!!!
Pungli berkedok partisipasi sudah membudaya di sekolah-sekolah, jadi ndak heran le kalo tiap penaikan kelas atau taong ajaran baru berita rupa bagini muncul lantaran tu partisipasi so menjadi keharusan. Jadi ndak usah mo sambunyi kalo memang ada partisopasi yg so mengarah ke pungli lantaran klo ndak ba kase kasian tu anak di sekolah, @yustus: ndak usah munafik kwa pak guru, so talalu le klo pak ndak pernah terima doi dari orang tua siswa apalagi pak mengaku wali kelas, tanggapi biasa jo kwa ndak usah sok suci
Saya tertarik dgn komentar bapak Yustus N Janis yg terkesan sangat militan membela Kepsek SMK 1, harusnya bapak kembali membaca baik2 beritanya baru berkomentar dan mati-matian membantah apa yg dikatakan oleh Kepsek bapak karena saya membaca berita ini sumbernya dari kepsek bukan fitnah atw pencemaran nama baik seperti yang bapak simpulkan.
Kalau mmg kepsek keberatan harusnya bliau yang menanggapi bukan bapak, jadi kesannya bapak Yustus kebakaran jenggot dan mengkambing hitamkan wartawan, itu yg pertama.
Yang kedua adalah keterangan foto tidak menyebutkan kalau itu diambil di sekolah yg bapak bela mati-matian, jadi tidak perlu dipermasalahkan apalagi harus dijelaskan. GBU
suara netral : mungkin foto bkn SMK 1 Bitung, tapi itu ilustrasi,tidak dijelaskan kalau foto itu dari SMK 1 Bitung, bersabar saja. berita akan hilang seiring waktu.
Berita-berita yg bernada sama termuat itu karena mereka COPY PASTE Berita itu. Itulah kelemhan para teman2 wartawan yg tidak langsung ricek sumber beritanya langsung maen cetak tanpa memperhatikan asas kebenarannya terlebih dahulu. Terus terang Kami keewa dengan ulah (OKNUM) wartawan yg memuat berita yg tidak benar. KAMI MASIH TUNGGU HAK JAWAB DARI ANDA REKAN WARTAWAN YG TERHORMAT. Ini menyangkut nama baik semua pihak termasuk anda bung wartawan. Kami sudah tentu sangat dirugikan dengan pemberitaan ini, apalagi ini memasuki tahun ajaran baru. SANGAT MEMPENGARUHI IMAGE SEBUAH INSTITUSI PENDIDIKAN YG FORMAL & MEMILIKI ATURAN.
berikut ini adalah istilah2 baru dan unik yang digunakan dalam praktek KKN;
– Kasus Angie ;
Apel Washington = Dollar
Apel Malang = Rupiah
Pelumas = UANG
– Kasus Pemkot Semarang ;
Susu Kaleng = UANG
Nyam-nyam = Pemberian Uang
Luwak = Yang meminta uang (“pengemis” stou kang :P)
– Kasus SMK1 Kota Bitung…dan mungkin di beberapa sekolah lainnya:
“Partisipasi” = “Pungli” = UANG
(akan di update kembali jika muncul istilah baru)
So boleh mo buat akang iklan stou kang :D
“Nyam-nyam” membuat “Luwak” menjadi gemuk. Tersedia dalam “Susu Kaleng” rasa “Apel Washington” atau “Apel Malang”. Jika tutup kaleng susah di buka gunakan “Pelumas” atau ada yang mau “Partisipasi”? :D
O re’en neh mo jadi apa lei torang pe daerah ini…. kitya re deng ngoni.
nah…lhooo….pegimana ni wartawan online berita manado, coba luruskan dulu ni masalah, jangan sampai artikel yg diboomingkan di media online adalah asbun. kalopun ini hoax yah ga mungkin lah karena berita ini di muat dalam segmen berita bitung dan online dibuat/dipost oleh beritamanado.com
bukan hanya di media online beritamanado dimunculkan segmen bitung dlm berita PUNGLI di Sekolah, silahkan disearch juga di media online manadotoday.com dan hariankomentar.com dan so pasti berita seperti langsung menjamur dan silahkan di searching google.
terus terang – terang terus hehe philips
sunggu sangat disayangkan bila apa yang dimuat oleh beritamanado.com adalah tidak benar alias karang2 supanya booming, dan disatu sisi merugikan orang lain.
hayooo bersihkan yang kotor dan luruskan yang babengko, kalo nemau maso ‘got deng jurang’
Saya siswa SMKN I Bitung. saya liat sendiri, dan saya sendiri ibu guru ksh pulang itu doi. Klu mmng itupun ada uang partisipasi biarjo dorang kan org mampu n ucapan terima ksh krn sdh berhasil. Qta juga klu mampu ta ksh lebe no ta p guru. Org yg muat info diatas sdh mematikan / melecehkan sklh kami yg sy banggakan ini. biar jo paling ada org yg hanya menjatuhkan nama baik sklh kami lebih khusus torang p kepsek ktx mprkaya diri. Brp sih besaran uang partisipasi itu spi bisa seorg wartawan katakan: mprkaya diri seorg KEPSEK. Info ini adalah info yg tdk mendasar, tdk benar. Hanya pelecehan ut sklh favorit kami. krn trng p sklh so gaga, trng p guru hmpir smua sdh profesional. eeeh….eeeh….. so nda ada kerjaan sih? Klu suka data yg akurat dtng jo p trng p sklh no ….. jgn A S B U N ……….
KAMI GURU-GURU SMK NEGERI 1 BITUNG YANG SUDAH SEMPAT MEMBACA BERITA INI BERANGGAPAN :
STATEMENT INI TIDAK MANUSIAWI………….
SADIS……………………………………………………..
SATU LAGI :
YANG PERLU DICATAT, :
1. FOTO DIATAS BUKAN DIAMBIL DI SMK NEGERI 1 BITUNG
2. TIDAK ADA GURU YANG IDENTIK DENGAN FOTO DIATAS.
3. KEMIRIPAN RUANG TIDAK ADA
4. JANGAN MENGHAKIMI
Saya a/n: Orang tua dari salah satu siswa SMK N I Btg sebagai tanda ucapan terima ksh krn anak saya sdh berhasil.. Memberi uang partisipasi itu adalah kerelaan kami ORTU. Bukan seperi apa yang di copy oleh salah satu wartawan ut di muat di majalah elektronik itu hanya memperindah atau wartawan punya kerja kan begitu. klu tidak ada info yg di muat drmn mereka juga mendptkan keejahteraan. Utk itu bpk/ibu wartawan yg terhormat jgn muat berita yg tdk benar.Bpk/ ibu wartawan ini mungkin, tantu nda ada anak stau ada sklh kan? Spi nda pernak ksh ucapan terima ksh pd guru anakx bpk / ibu wartawan.
Saya Yustus N. Janis, saya seorang guru yang juga adalah wali kelas, saya sangat terkejut dengan pemberitaan ini yang sudah menjadi permasalahan regional (akhirnya) dan bahkan mendunia. Kami di SMK Negeri 1 Bitung selalu melaksanakan segala sesuatu berdasarkan aturan dan mohon diklarifikasi soal pungli tersebut dan wartawan yg memberitakan berita ini tidak pernah mengkonfirmasi langsung dengan pimpinan kami. Berita ini hanya HOAX dan 100% merupakan TINDAKAN PENCEMARAN NAMA BAIK, PEMBOHONGAN PUBLIK DAN USAHA MENCIPTAKAN SUSANA YANG TIDAK KONDUSIF. Kami merupakan institusi pendidikan yang menjungjung asas kependidikan, SAUDARA2 SEKALIAN JIKA ANDA MENERIMA RAPORT WAKTU KECIL ATAU MENGAMBIL RAPORT ANAK ANDA, PASTI ANDA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA WALI KELAS ANDA/ANAK ANDA DENGAN BERBAGAI CARA SALAH SATUNYA IKHLAS & RELA BERBAI SEDIKIT KELEBIHAN ANDA DENGAN MEREKA (PARA WALI KELAS) HAL ITU MERUPAKAN SESUATU YG BIASA KAMI HADAPI. PERLU DICATAT, HAL TERSEBUT TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN GRATIFIKASI, KORUPSI & USAHA2 MEMPERKAYA DIRI SENDIRI. PEMERINTAH JUGA TIDAK AKAN TUTUP MATA TERHADAP HAL YANG SANGAT TIDAK ETIS INI KARENA PEMERINTAH JUGA ADALAH PERSON YANG TERDIDIK & TIDAK AKAN TERPROVOKASI DENGAN HAL NEGATIF INI. KAMI TUNGGU JAWABAN ANDA SAUDARA WARTAWAN ENK.
Bitung—Kepala Sekolah (Kepsek) SMK Negeri 1 Kota Bitung, Treesje Tengker menganggap Pungutan Liar (Pungli) berkedok partisipasi di sekolahnya adalah hal yang biasa. Karena menurutnya, uang partisipasi tersebut merupakan kerelaan orang tua siswa yang diberikan ke tiap walikelas ketika mengambil rapor.
adooooo….. DAPA TAKO ini PERNYATAAN KEPSEK SKM N1 BITUNG noooh…. ni Enci Treesye da anggap PUNGLI adalah suatu hal yang biasa….ou mateeee… ada patus ini ortu2 banyak ba’utang/kredit for depe anak pe guru2….
sekali PUNGLI adalah PUNGUTAN LIAR dan itu kurang lebe sama jo deng KORUPSI mangarti kah nyandak ni Enci Treesye ?
kalo mau di anggap suatu hal yang lumrah dan biasa, buatlah PROGRAM ANGGARAN untuk kegiatan PARTISIPASI.
stauuu aah… torang pe guru kwak tu lebeh PANDE, mo apa leiii…
kita yakin sekali, materi/artikel online perihal tersebut di atas, di baca juga oleh Pak SekProv, asisten I & III kota bitung dan sangat berharap juga SeKot ada babaca.
bagitu jo. sukses for bitung
Ketahuan jika oknum kepala sekolah SMK 1 ini hanya mengejar materi bukan berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, apa gaji dan tunjangan guru di sekolah SMK 1 ini tidak cukup sampai harus mencari tambahan pendapatan lewat “partisipasi”, sangat memalukan !
Guru adalah org tua kedua anak2 diluar rumah, pemberian yg Sgt sedikit saat terima raport justru menjadi beban moril ortu krn balas Budi jadi jelas motifnya beda dgn pungli
pakta integritas dikpora d tanyakan publik,kepsek blm paham gratifikasi ,apa belanja langsung nggak cukup ?untk atk ? seribu harapan untk fungsi pengawasan dprd bitung, ingat murid di sana ribuan loh? pemerhati pendidikan
musti so kwa bilang bagitu ibu kepsek…!!!!!
ortu ba hutang, nda ta buka leh itu mata..pahlawan tanpa tanda jasa tersirat
so bagitu,sapa banya doi didahulukan. Sekolah telah menjadi komersil