
Manado – Sebagai Kota Model Ekowisata, Manado diharuskan memiliki sebuah ciri khas yang menjadi tanda tentang Kota Manado. Menjawab tantangan ini maka diciptakan sebuah entitas yang berasal dari jati diri asli Kota Manado dari keberagaman agama, budaya dan sosial yaitu sebuah corak original batik dengan nama “Kaeng Manado”.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Manado, Prof DR Julyeta PA Lumentut Runtuwene dalam materinya yang dibawakan pada Seminar Kaeng Manado, mengatakan bahwa keberagaman yang ada di Kota Manado diwujudkan dalam corak yang ada didalam Kaeng Manado ini. “Dari berbagai corak yang ada semuanya mewakili keberagaman yang ada di Manado. Dimana semuanya terwakili di sini. Oleh sebab itu Kaeng Manado menjadi ciri khas tersendiri yang menggambarkan tentang kota Manado,” tutur Istri tercinta Walikota Manado tersebut.
Selanjutnya, sejarawan Sulut, DR Ivan Kaunang menjelaskan bahwa terciptanya Kaeng Manado sebagai sebuah jawaban untuk menunjukan keaslian kota Manado sebagai sebuah kota yang multi etnis. Dimana corak yang ada terdiri dari lilin,coral reef, ikan dan ikan purba coelacanth. “Ini merupakan jawaban yang tepat untuk menjawab bagaimana Manado dapat dikenal lewat Kaeng Manado ini,” jelas akademisi ini.
Drs Reiner Ointoe mengatakan bahwa sebagai sebuah produk kontemporer budaya, maka Kaeng Manado merupakan strategi untuk mempromosikan kota Model Ekowisata.
Seminar yang diadakan oleh Dinas Parawisata dan Kebudayaan kota Manado ini mengambil tema “Inspirasional Dibalik Kaeng Manado” ini dibuka oleh Kepala Disparbud kota Manado, Hendrik Warokka S.Pd, DEA menjelaskan bahwa seminar ini atas hasil kerjasama antara Disparbud dengan Tim Penggerak PKK kota Manado.
Peserta yang hadir sendiri sangat mengapresiasi diadakannya seminar ini. Dan dari usulan yang ada diharapkan Kaeng Manado ini dapat dibuatkan peraturan daerahnya agar tidak hanya menjadi tren yang sementara. Seminar yang berlangsung pukul 14.00–17.00 Wita di Lion Hotel Manado. (tr-01)
