Berita Utama

Jumlah Penutur Tersebar di Lima Benua, Bahasa Indonesia Bisa Jadi Sarana Komunikasi Internasional

Jumlah Penutur Tersebar di Lima Benua, Bahasa Indonesia Bisa Jadi Sarana Komunikasi Internasional
Januar Pribadi

Manado, BeritaManado.com – Secara tidak terduga, Bahasa Indonesia kini terus mengalami jumlah penutur, bukan hanya di negeri sendiri, namun juga hingga ke negara-negara di lima benua di dunia.

China, Korea dan Jepang (Asia), Australia, Amerika Serikat, Belanda dan Swiss (Eropa) hingga Suriname (Afrika) adalah beberapa dari sekian banyak negara di dunia yang sebagian warganya telah menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari disamping bahasa utama dari negara masing-masing.

Terkait fenomena ini Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara Januar Pribadi kepada BeritaManado.com, Minggu (22/3/2026) mengatakan bahwa fenomena meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia di berbagai negara merupakan perkembangan yang patut disyukuri sekaligus dicermati secara strategis.

ADVERTISEMENT

“Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat adanya tren positif melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), kerja sama antarnegara, serta meningkatnya minat akademik dan kultural terhadap Indonesia. Bahasa Indonesia tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai alat komunikasi nasional, tetapi mulai menempati posisi sebagai medium diplomasi budaya,” ungkap Januar.

Namun demikian, untuk hal terkait bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional, hal itu perlu dilihat secara lebih komprehensif.

Menurutnya, sebuah bahasa dapat menjadi bahasa internasional tidak hanya karena jumlah penuturnya yang meningkat, tetapi juga karena didukung oleh kekuatan ekonomi, politik, ilmu pengetahuan serta pengaruh budaya negara penuturnya di tingkat global.

Bahasa Indonesia sendiri memiliki sejumlah keunggulan, antara lain struktur yang relatif mudah dipelajari, sifatnya yang terbuka terhadap perkembangan, serta perannya sebagai bahasa pemersatu di negara yang sangat majemuk.

“Ini menjadi modal penting dalam proses internasionalisasi. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan, terutama dalam hal konsistensi penggunaan yang baik dan benar, penguatan ekosistem pembelajaran di luar negeri, serta peningkatan daya saing Indonesia di kancah global,” katanya.

Kedepan, peluang bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa internasional tetap terbuka, sepanjang hal itu diiringi dengan upaya yang terencana dan berkelanjutan.

Penguatan program BIPA, diplomasi kebahasaan, peningkatan kualitas sumber daya pengajar serta sinergi dengan berbagai sektor termasuk ekonomi dan budaya menjadi kunci penting dalam mendorong posisi Bahasa Indonesia di dunia internasional.

“Dengan demikian, kita tidak hanya berbicara tentang penyebaran bahasa, tetapi juga tentang bagaimana bahasa Indonesia bisa hadir sebagai representasi identitas, pengetahuan dan peradaban bangsa Indonesia di mata dunia,” tandasnya.

(Frangki Wullur)