Itulah sebabnya dia menjalankan pemerintahan dengan pola pengawasan ketat.
Setiap potensi ekonomi dia kelola dan awasi agar penyimpangannya sekecil mungkin. Syukur-syukur sampai titik nol, sehingga semuanya bisa dinikmati oleh warganya dalam bentuk pembangunan yang merata.
Nilai dasar revolusi mental yang menjadi puncaknya adalah gotong royong. Presiden Soekarno sebagai penggagas Pancasila menyebut gotong royong sebagai intisari kehidupan berbangsa dan bernegara warga Indonesia se-Nusantara.
“Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 di hadapan peserta Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soekarno menyatakan, gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”
Joune menerjemahkan nilai gotong royong ini dengan menjalin kebersamaan semua elemen masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan golongan, untuk bekerja sama membangun dan menikmati kue pembangunan.
Tidak ada mayoritas mendominasi minoritas dan tidak ada pula minoritas yang ditekan mayoritas.
Semuanya berjalan bersama saling bergandengan tangan dengan prinsip kebenaran berlandaskan konstitusi.

Bentuk kegotongroyongan ini diterjemahkan Joune dengan membuat nota kesepahaman dengan tiga perguruan tinggi negeri berbasis agama: Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur; Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Sulawesi Utara; dan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, Sulawesi Utara.
Dalam nota kesepahaman itu, Joune mengajak ketiga perguruan tinggi negeri tadi terlibat dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat bersama dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara.
Dengan menjalankan nilai-nilai revolusi mental ini, Joune kiranya tidak sulit dalam membuat lompatan kerja untuk membawa Minahasa Utara sesuai yang diidam-idamkan warganya; maju dan sejahtera.
Joune berprinsip, pemimpin harus bekerja di atas standart agar memberi hasil lebih.
“Kita tidak akan maju selama kita sekadar bekerja dan bekerja sekadarnya,” kata Joune.
Meskipun berlatar belakang pemeluk Kristen, Joune disukai kalangan Islam, karena karakternya yang humble, merakyat, dan mendengarkan aspirasi.
Pada pemilihan kepala daerah waktu itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara juga menjatuhkan dukungan kepada Joune.
Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyebut Joune sebagai politikus bertipe penurut. Orang Jawa bilang, ora kakean polah (tidak banyak bertingkah).
Dengan karakter mengedepankan semangat kerja tinggi, jujur, dan bergotong royong sebagai nilai dasar revolusi mental, tidaklah berlebih bila orang menyebut Joune Ganda sebagai bukan Bupati biasa dari Minahasa Utara.
(rds)
Baca juga:
