Agama dan Pendidikan

IPAL Untuk Energi Alternatif, Kotoran Manusia Jadi Sumber Energi

Sulap Limbah Tahu dan Kotoran Manusia Jadi Sumber Energi

IPAL Untuk Energi Alternatif, Kotoran Manusia Jadi Sumber Energi
Peresmian IPAL Kotoran Manusia Teluk Dalam, Banjarmasin

BANJARMASIN – Gas Methan yang dihasilkan oleh limbah tahu dan kotoran manusia dapat dijadikan sumber energi alternatif. Pemilihan kedua limbah tersebut sebagai salah-satu bagian pemanfaatan energi alternatif. Hal itu untuk menyikapi bakal habisnya energi yang berasal sumber daya alam (SDA) seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam yang dijadikan sumber utama bahan baku energi.

Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) meresmikan dua (2) Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tahu di Tahu di Mentaos, Banjarbaru dan IPAL kotoran manusia di Lapas Teluk Dalam Kelas II A di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Ini (pemanfaatan) harus dipikirkan dari sekarang. Karena energi yang berasal dari sumber daya alam akan habis, ” buka Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M Hatta, saat pemeresmikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahu di Mentaos, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (21/03/11).

Dilanjutkan Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat itu, pemanfaatan gas metan yang dihasilkan dari pengolahan industri tahu adalah salah-satu contohnya. Untuk kapasitas produksi tahu 2100 KG per hari maka biogas yang dihasilkan 63 meter kubik per hari.

Sedangkan kebutuhan energi untuk satu (1) kepala keluarga (KK) adalah dua (2) M3. Dengan demikian potensi yang bisa dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk 32 KK. “Apabila dihitung penghematan terhadap minyak tanah maka satu (1) meter kubik biogas setara dengan 0.62 meterkubik liter maka penghematan minyak tanah dengan adanya biogas adalah 39 liter per hari. Ini penghematan cukup signifikan”

Tidak sampai di situ saja kata mantan Purek Satu (1) UNLAM, emisi karbondiokasida yang direduksi per hari sebesar 1438.5 KG. Untuk Gas Methan sebesar 57.54 KG per hari. Dengan terserapnya emisi yang dihasilkan dari limbah tahu maka efisiensi IPAL terhadap penurunan beban pencemaran sebesar 90 persen.

“Dengan pemanfaatan emisi yang dihasilkan dari industri pengelolaan tahu maka sudah mengurangi efek gas rumah kaca. Kan sayang gas metan jika tidak dimanfaatkan,” tukasnya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara