Begitu mengetahui bahwa Sulut sudah dikuasai bangsa sendiri, seluruh jemaat KGPM yang memang telah lebih dahulu menyatakan keluar dari Gereja Belanda (Indische Kerk) bahu-membahu membantu para anggota TRISU yang merebut tempat militer Belanda yang berada di Minahasa Selatan, Wangurer Bitung juga yang di Tondano.
Belum lagi menjaga keamanan di daerah masing-masing sebagaimana instruksi yang diterima.
Anggota jemaat yang paling banyak bergabung di lapangan adalah para pemuda.
Dasar inilah yang kemudian pada Rapat Kerja Pemuda KGPM tahun 1990-an di Sidang Anugerah Tonsewer, sepakat menegaskan kembali 14 Februari sebagai Hari Pemuda KGPM setelah mendengar kajian ilmiah (seminar) dari ahli sejarah Drs Fendy EW Parengkuan (dosen sejarah di Fakultas Sastra sekarang FIS Unsrat dari istri dari SD Wuisan Ibu M Wuisan Tangkilisan.
Sejak itulah setiap 14 Februari, Pemuda KGPM merayakan hari Pemuda dengan salah satu agenda kegiatan melakukan Napak Tilas Merah Putih dari Desa Wakan Minsel tempat KGPM diproklamasikan keluar dari Indische Kerk dan finis di Manado.
(Frangki Wullur)
