
Penulis: Tim Redaksi
Atrium Manado Town Square 3 tampil anggun dibalut nuansa putih dan renda pada Senin (20/7/2026) sore.
Peragaan Pakaian Kebaya Noni digelar mulai pukul 14.00 WITA, mengusung tema “Peragaan Pakaian Kebaya Noni Warisan Budaya Takbenda Indonesia“, sekaligus merangkai dua momentum sekaligus: Peringatan Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli dan Hari Ulang Tahun ke-67 Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Sulawesi Utara.
Ketua Umum BKOW Provinsi Sulawesi Utara Ny. Anik Yulius Selvanus, yang menyampaikan sambutan resmi pada pukul 15.00 WITA, menyebut kegiatan ini sebagai momentum untuk meneguhkan komitmen menjaga warisan budaya di tanah Nyiur Melambai.
Ia menegaskan Kebaya Noni bukan sekadar busana putih berhias renda, melainkan simbol identitas, kesantunan, dan ketangguhan perempuan Sulawesi Utara lintas generasi.
“Perempuan adalah tiang bangsa, pelestari peradaban, dan penggerak utama keluarga serta masyarakat,” ujar Anik dalam sambutannya.
Kegiatan yang terselenggara atas kolaborasi BKOW Sulut dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Daerah, Dinas Kesehatan Daerah, serta Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara ini juga membuka layanan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi warga yang hadir.
Jejak Panjang Kebaya Noni
Ketua Umum Perkumpulan Pecinta Kebaya Noni Indonesia (PPKNI) Coreta Louise Kapoyos hadir menjelaskan latar sejarah busana yang kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tersebut.
Menurutnya, Kebaya Noni mulai populer di Sulawesi Utara dan Maluku sejak penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dibawa oleh para bangsawan Eropa yang memadukan renda khas mereka dengan kain katun nusantara.
Perpaduan itu melahirkan kebaya berwarna putih yang lekat dengan keanggunan perempuan bangsawan pada masanya, dengan ciri renda yang membingkai kerah hingga bagian bawah dan ujung lengan tanpa sentuhan bordir.
Kini, ragam itu terus dikembangkan, salah satunya lewat variasi renda dua susun yang memperkaya tampilan Kebaya Noni.
“Sekarang tugas kita untuk terus melestarikan Kebaya Noni,” kata Coreta.
Ia menambahkan, PPKNI terus mensosialisasikan Kebaya Noni agar semakin dikenal luas, termasuk mengajak berbagai pihak turut mengenakannya di ruang-ruang publik.
Ajakan Bangga Berbudaya
Dalam sambutannya, Anik menyampaikan tiga harapan utama: bangga berbudaya dengan mengenakan Kebaya Noni pada agenda resmi, dukungan penuh terhadap UMKM pengrajin renda dan desainer lokal, serta edukasi pelestarian budaya bagi generasi muda.
Ia menutup sambutan dengan menyatakan seluruh rangkaian kegiatan resmi dibuka, diiringi ucapan khas Sulawesi Utara, “Torang Samua Basudara!“
