
Jakarta, BeritaManado.com — Anggota Bawaslu RI, Herwyn J.H. Malonda, menegaskan bahwa demokrasi tidak bisa dijaga sendirian.
Menurutnya, generasi muda khususnya pemilih pemula, memiliki peran vital untuk memastikan Pemilu nanti berlangsung bersih dari politik uang, hoaks, dan kecurangan.
“Generasi muda harus jadi cahaya yang menerangi kegelapan untuk menghalau politik uang, hoaks, dan kecurangan. Kita ingin pemilih pemula menjadi lilin yang menerangi jalan demokrasi,” ujar Herwyn Malonda melalui pesan WhatsApp kepada BeritaManado.com, Sabtu (27/9/2025).
Herwyn yang kini menjabat Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Diklat Bawaslu RI, menekankan pentingnya mempersiapkan diri sejak dini agar pesta demokrasi lima tahunan tidak terciderai oleh tekanan, intimidasi, maupun godaan politik uang.
Sosok Akademisi dan Pengawas Pemilu Berpengalaman
Herwyn Malonda dikenal sebagai figur yang konsisten mengawal demokrasi sejak era reformasi.
Pria kelahiran Minahasa, 30 Januari 1972 ini, pernah memimpin Bawaslu Sulawesi Utara sebelum dipercaya sebagai anggota Bawaslu RI periode 2022–2027.
Berbekal latar belakang akademik di bidang pendidikan, hukum, hingga doktor ilmu lingkungan dari Universitas Brawijaya, Herwyn dinilai sebagai sosok yang memadukan disiplin ilmu dan pengalaman lapangan dalam membangun sistem pengawasan pemilu yang kredibel.
Tantangan Pemilu
Menurut Herwyn, Pemilu nanti akan menjadi momentum strategis bagi demokrasi Indonesia.
Pasalnya, komposisi pemilih muda dan pemilih pemula diperkirakan terus mendominasi.
Pada Pemilu 2024, generasi milenial dan generasi Z bahkan mencapai lebih dari separuh total pemilih.
“Dengan jumlah yang besar, pemilih muda bukan hanya penentu hasil, tetapi juga penentu kualitas demokrasi kita. Bila mereka berani menolak politik uang dan hoaks, maka Pemilu nanti akan menjadi sejarah baru demokrasi Indonesia,” jelas Herwyn.
Peran Bawaslu
Sebagai lembaga independen, Bawaslu terus memperkuat program pengawasan partisipatif, termasuk melibatkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas sipil.
Herwyn menambahkan, pengawasan berbasis teknologi dan literasi politik menjadi kunci untuk menghadapi maraknya disinformasi di era digital.
“Bawaslu tidak bisa bekerja sendirian. Kita mengajak seluruh elemen bangsa, terutama anak muda, untuk mengawasi bersama. Demokrasi harus kita jaga sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang,” tutup Herwyn.
(rds)
