Tetapi kepada keluarganya, ia harus memberikan pemahaman pada anak-anaknya tentang tanggung jawab mulia yang diemban.
“Mungkin ini imunisasi alami buat kita semua. Yang penting kita semua jaga diri, pakai masker, minum vitamin dan makan teratur, istirahat, semoga kita dijaga oleh Allah SWT,” ceritanya.
Sama dengan Debryna, Rustina juga bekerja secara ikhlas dan tidak mengharapkan imbalan.
Namun ia mengaku mendapatkan insentif atau tunjangan dari pemerintah terhitung sejak Maret lalu.
“Alhamdulillah menjadi imun, dan imun buat teman-teman penyemangat,” bebernya.
Perjuangannya memerangi Covid-19 tidaklah mudah, ada pukulan berat yang sempat dirasakannya.
Seorang teman sejawat sesama tenaga medis harus meninggal di ruang ICU tempatnya bertugas, karena terpapar Covid-19.
“Ini benar-benar kaya telibat drama, bikin lemas, di saat itu secara otomatis kami yang ada di ruang ICU lemas semuanya,” kenang Rustina.
Ia pun juga berpesan agar masyarakat tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.
Terutama 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan.
“Takut boleh, tapi waspada wajib. Kalau takutnya berlebihan, imun kita jadi turun, akhirnya kita menurunkan daya tahan tubuh. Satu pesan saya, kalau ada yang masih tidak percaya, saya antar kita tur ke ruangan saya, saya perlihatkan orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati,” pesan Rustina.
Setelah mendengar pengalaman para tenaga medis itu, dr Reisa yang memandu perbincangan itu memberikan apresiasinya.
Ia berharap dengan suka duka pengalaman para tenaga medis yang bertugas di lapangan, masyarakat yang pesimis akan sadar bahaya Covid-19.
(***/Alfrits Semen)
