Selain itu, Gubernur juga memastikan renovasi Gedung Pingkan Matindas dan Gedung Pramuka sebagai pusat seni pertunjukan dan galeri seni, serta pengembangan museum baru di Lawangirung.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas seni dalam penyusunan Rancangan Perda Pemajuan Kebudayaan, Pokok-Pokok Pikiran Daerah (PPKD), serta agenda pekan kebudayaan daerah.
Diskusi kemudian berkembang ke isu-isu strategis lainnya seperti pemberantasan korupsi, pembenahan SDM ASN, pemetaan aset pemerintah, hingga solusi mengatasi antrean SPBU dan persoalan mafia tanah.
Sofyan Jimmy Yosadi, salah satu peserta dialog, menyebut pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam.
“Gubernur menunjukkan ketulusan dan komitmen yang tinggi. Beliau mendengarkan, memberi solusi, bahkan berdialog hingga dini hari. Kami sangat menghargai keterbukaannya,” ungkap Yosadi, yang juga Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulut.
Sementara itu, budayawan Pitres Caroles Sombowadile menilai momen tersebut menjadi awal baru bagi dunia seni dan budaya Sulut.
“Malam itu adalah hulu semangat baru untuk membenahi dunia kesenian dan kebudayaan di Bumi Nyiur Melambai,” ujarnya penuh harap.
Pertemuan di Wisma Negara itu pun menjadi momentum penting yang menegaskan arah baru kebudayaan Sulawesi Utara—sebuah kolaborasi hangat antara pemerintah dan para pelaku seni di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus.
(SJS/RDS)
