
MANADO, BeritaManado.com — Malam Keakraban antara Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Mayor Jenderal TNI (Purn) Yulius Selvanus dan para seniman serta budayawan Sulut di Wisma Negara Bumi Beringin, Selasa (21/10/2025), berubah menjadi forum dialog kebudayaan yang penuh makna.
Sekitar seratus seniman dan budayawan hadir dalam kegiatan bertema “Malam Keakraban Gubernur bersama Seniman Sulawesi Utara” yang digelar oleh Biro Protokoler Pemprov Sulut.
Acara ini menjadi kelanjutan dari aksi seni Gerakan Seniman dan Budayawan Sulut (GEMAS) yang sempat menyoroti isu rencana alih fungsi Taman Budaya Sulut menjadi SPBU.
Sebelumnya, pada 16 Oktober 2025, para seniman menggelar aksi bertajuk “Panggung Kebudayaan: Taman Budaya adalah Rumah Kita” di Taman Budaya Manado.
Aksi tersebut kemudian berlanjut dengan pertemuan para perwakilan seniman dengan Wakil Gubernur Dr. Victor Mailangkay, SH, MH, untuk menyerahkan sembilan tuntutan terkait pemajuan kebudayaan di Sulut.
Setelah kembali dari kunjungan ke Jakarta, Gubernur Yulius langsung meninjau Gedung Pertunjukan Pingkan Matindas dan kolam renang Sario yang akan direnovasi.
Ia kemudian mengundang para seniman untuk berdialog secara langsung di Wisma Negara.
Dalam sambutannya, Gubernur Yulius dengan tegas membantah isu bahwa Taman Budaya akan dijadikan SPBU.
“Itu tidak benar. Komitmen kami sejalan dengan arahan Presiden, yakni memajukan pariwisata Sulawesi Utara, dan tentu saja itu erat kaitannya dengan kebudayaan,” ujar Gubernur.
Ia menegaskan, meski anggaran daerah terbatas, dirinya berkomitmen untuk terus mendukung sektor kebudayaan bahkan dengan dana pribadi bila diperlukan.
Suasana malam itu penuh kehangatan. Setelah makan malam, berbagai atraksi seni ditampilkan.
Gubernur Yulius bahkan turut membaca puisi bersama seniman Aldes Sambalao, diiringi petikan gitar klasik Welly Pangkey.
Ia juga bernyanyi dan menari Masamper serta Pato-pato bersama para seniman, menciptakan suasana akrab yang jarang terlihat antara pemimpin daerah dan pelaku seni.
Sekitar pukul 21.30 WITA, Gubernur mengundang perwakilan seniman untuk berdialog tertutup.
Hadir dalam pertemuan itu antara lain Eric Dajoh, Pitres Sombowadile, Alex Ulaen, Sofyan Jimmy Yosadi, Aldes Sambalao, Rikson Karundeng, Denny Taroreh, Alfred Pontolondo dan Yasri Badoa.
Dialog berlangsung hampir lima jam hingga pukul 02.30 dini hari.
Gubernur membahas sembilan tuntutan seniman satu per satu, memberi penjelasan, solusi, dan bahkan tantangan agar para pelaku seni ikut aktif dalam pembangunan kebudayaan Sulut.
“Taman Budaya akan dipertahankan dan diperindah. Lahan di sekitarnya akan diatur agar lebih bermanfaat, termasuk area UMKM dan sarana olahraga. SPBU yang dibangun nantinya tetap menjadi bagian dari aset pemerintah,” jelas Gubernur.
