Mereka tidak percaya bahwa pemilu dapat membawa perubahan dan perbaikan pada masalah bangsa.
Mereka memutuskan golput karena kebanyakan visi dan misi yang diusung para capres dan cawapres berseberangan dengan pandangan politik mereka.
Dari kondisi ini, para peserta pemilu perlu membaca pandangan dan aspirasi pemilih muda, seperti soal kesejahteraan, lapangan kerja, hingga lingkungan hidup.
Potensi Golput Pemilu 2024 Sama seperti pemilu sebelumnya, tingkat golput pada Pemilu 2024 mendatang diprediksi relatif rendah.
Hal ini terlihat dari survei Litbang Kompas yang dilakukan kepada 1.202 responden pada awal tahun ini. Litbang Kompas mengategorikan Gen Z sebagai responden berusia 17-26 tahun.
Sedangkan Gen Y merupakan responden berusia 27-33 tahun, Gen X 34-55 tahun, dan baby boomers 56-74 tahun.
Hasil survei mencatat hanya 0,6% Gen Z yang berniat golput. Dibandingkan generasi di atasnya, tercatat 1% milenial muda dan 1,3% milenial tua yang berniat tidak akan menggunakan hak pilih mereka pada Pemilu 2024.
Minat Gen Z menggunakan hak pilih dalam rangkaian pemilu mendatang pilpres dan legislatif masih cukup besar.
Kendati begitu, antusiasme kaum muda ini cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan generasi di atasnya.
Pada Gen Z tingkat antusiasme memilih capres-cawapres, partai, dan caleg berada di 67,8%. Sementara pada generasi di atasnya berada di rentang 68,1% hingga 77,9%.
(abinenobm)
