Berita Utama

Generasi Muda Diminta Jadi Pembawa Damai di Sulawesi Utara, FKUB-Kemenag Gelar Dialog Kerukunan di Mitra

Generasi Muda Diminta Jadi Pembawa Damai di Sulawesi Utara, FKUB-Kemenag Gelar Dialog Kerukunan di Mitra
Dialog Kerukunan yang digelar FKUB Sulut bekerja sama dengan Kemenag Sulut di BPU Watuliney, Minahasa Tenggara, Kamis (10/12/2025). Foto: Ist

Minahasa Tenggara, BeritaManado.com — Generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

Pesan ini disampaikan Kakanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Drs. KH. Ulyas Taha, M.Pd., saat menjadi pembicara dalam Dialog Kerukunan yang digelar FKUB Sulut bekerja sama dengan Kemenag Sulut di BPU Watuliney, Minahasa Tenggara, Kamis (10/12/2025).

Dalam kegiatan bertema “Merajut Damai Sulawesi Utara: Rekonsiliasi Lintas Iman untuk Pemulihan Sosial dan Kerukunan”, Taha tampil bersama Ketua FKUB Sulut, Pdt. Lucky Irwan Rumopa, M.Th..

Turut hadir Pengurus FKUB Sulut Dr. Muhamad Taher Tanggung dan Dr. Feybe Lumanauw, Ketua FKUB Minahasa Tenggara Pdt. Daniel Bastian, M.Th., Sekretaris FKUB Minahasa Tenggara Pdt. Vera Solang, M.Th., Plt. Sekretaris Kecamatan Belang Karling Hasang, perwakilan Kemenag Sulut serta Hukum Tua Watuliney Tengah Ferry Woinalang.

Peserta dialog adalah tokoh pemuda lintas agama dari Watuliney Raya dan Molompar Raya.

Taha menegaskan, kerukunan bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan komunitas pemuda lintas iman.

Ia mengajak generasi muda untuk aktif menciptakan suasana damai dan menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik.

“Kita harus menghargai keberagaman. Generasi muda harus tampil terdepan menjaga kerukunan dan perdamaian. Mulailah dengan kegiatan positif seperti membersihkan rumah ibadah bersama, hilangkan kecurigaan, dan hiduplah saling menghargai,” ujar Taha yang juga Ketua PWNU Sulawesi Utara.

Senada dengan itu, Ketua FKUB Sulut Pdt. Lucky Rumopa mengingatkan pentingnya sikap inklusif dalam kehidupan sosial.

“Jangan menutup diri. Mari kita terbuka dalam bergaul dengan saudara-saudara berbeda agama. Toleransi adalah fondasi hidup rukun,” kata Rumopa.

Ia menilai dialog lintas pemuda ini merupakan langkah konkret memperkuat persatuan dan kreativitas generasi muda dalam membangun bangsa.

Kolaborasi lintas iman dinilainya penting agar stabilitas sosial tetap terjaga.

Beberapa tokoh pemuda lintas agama yang hadir juga menyampaikan pandangan mereka.

Mereka menilai peristiwa yang sempat terjadi di Watuliney hanyalah kesalahpahaman yang kemudian dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

“Situasi seperti itu dapat merusak persatuan. Karena itu kita harus bersatu demi hal-hal positif,” ujar para perwakilan pemuda.

Dialog ini diharapkan menjadi momentum memperkuat rekonsiliasi, memperbaiki komunikasi antarumat beragama, dan mendorong generasi muda menjadi agen pembawa damai bagi Sulawesi Utara.

(rds)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara