
Penulis: Jenly Wenur | Manado
RSUP Prof Dr R D Kandou Manado kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir layanan medis di Sulawesi Utara (Sulut).
Berkolaborasi dengan Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), rumah sakit ini sukses melaksanakan tindakan First Pulsed Field Ablation (PFA) Cases, perdana di Sulawesi Utara, Kamis (30/4/2026).
Metode PFA merupakan teknologi terbaru dalam dunia medis untuk menangani aritmia atau gangguan irama jantung.
Bertempat di Gedung CVBC RSUP Kandou, terobosan ini menandai babak baru penanganan jantung yang lebih efisien dan modern di Sulawesi Utara.
“Minggu ini kami melakukan tindakan ablasi dengan metode tercanggih. Alatnya sudah diadakan, namanya Pulsed Field Ablation. Ini adalah kali pertama metode tersebut diterapkan di Sulawesi Utara,” ujar Prof. Dr. dr. Starry Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, MARS, MKes, dalam konferensi persnya.
Solusi untuk Jantung Berdebar
Ketua Panitia dari InaHRS, dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa masyarakat sering kali menyepelekan gejala jantung berdebar.
Padahal, gangguan irama jantung, baik terlalu lambat maupun terlalu cepat, memerlukan penanganan serius.
Selama ini, jumlah spesialis aritmia di Indonesia memang masih sangat terbatas.
Di seluruh Pulau Sulawesi saja, tercatat hanya ada sekitar lima spesialis.
Walau demikian, Sulut harus berbangga karena memiliki satu spesialis di antaranya, dr. Benny Setiadi, Sp.JP(K), bahkan, dalam waktu dekat bisa bertambah satu lagi spesialis.
Di sisi lain, kehadiran teknologi PFA di RSUP Kandou membawa harapan baru bagi warga Sulawesi Utara dan sekitarnya.
“Metode terbaru ini jauh lebih efisien dan cepat. Tingkat keberhasilannya lebih tinggi dan tingkat keamanannya bagi pasien sangat terjaga,” jelas dr. Erika.
Kolaborasi Ahli Aritmia
Dalam tindakan perdana ini, dr. Benny Setiadi, Sp.JP(K), menjadi satu-satunya spesialis aritmia di Sulawesi Utara yang melakukan tindakan Pulsed Field Ablation.
Dengan dukungan penuh dari para ahli di InaHRS bersama timnya, tindakan kali ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat layanan aritmia di Sulawesi Utara.
“Saya berterima kasih karena mendapat dukungan dari RSUP Kandou, khususnya Dirut Starry, dan juga dari perhimpunan InaHRS,” tutur dr Benny.
Menariknya, tindakan medis ini dilakukan kepada empat pasien dengan rentang usia yang cukup lebar, mulai dari remaja berusia 13 tahun hingga dewasa berusia 50 tahun.
Tiga tindakan dilakukan pada hari Kamis, sementara satu pasien lainnya dijadwalkan pada Jumat besok.
