Juga, karena istilah lockdown, physical distancing, flattening the curve yang beredar menambah kebingungan masyarakat.
Kampanye sosial ini mencoba melakukan pendekatan komunikasi dengan pesan yang lebih sederhana, mengajak publik untuk “ayo nyabun” dan melibatkan karya-karya musik – sebagai bahasa yang universal.
Gerakan #20DetikCuciCorona telah merancang serangkaian aktivitas kampanye sejak April silam.
Dengan menggandeng partisipasi sejumlah musisi secara pro bono, gerakan ini membuat sebuah playlist di beberapa platform digital dan media sosial yang memuat lagu-lagu berdurasi 20 detik untuk temani masyarakat cuci tangan tanpa berhitung.
Gerakan ini pun mendapat respon positif dari berbagai kalangan termasuk para musisi Tanah Air yang ikut berpartisipasi.
Playlist 20 Detik Cuci Corona sukses dimanfaatkan masyarakat untuk mengedukasi serta menemani mereka cuci tangan melawan corona dan sudah diperdengarkan di beberapa fasilitas umum yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
Di antaranya, telah diputar di pasar-pasar tradisional, seperti Pasar di Pacitan dan Wonogiri.
Playlist 20 Detik Cuci Corona juga digunakan oleh mobil sosialisasi di Jogja, dive center di Alor Kecil, pertokoan di Riau, Boyolali, Makassar, Jakarta, Kantor Pos di Maluku, dan Pos Jaga Militer di Papua, serta mendapat perhatian dari 4 media TV nasional, puluhan media online dari Aceh sampai Papua, hingga masuk laporan khusus majalah nasional.
(***/srisurya)
