Bisnis dan Ekonomi

Dulu Hanya Bisa Dinikmati Bangsawan, Kacang  Goyang Cap Maleo Kini Bisa Dibeli di Alfamart

Dulu Hanya Bisa Dinikmati Bangsawan, Kacang  Goyang Cap Maleo Kini Bisa Dibeli di Alfamart
Kacang goyang Cap Maleo kini dijual di Alfamart Bolmong Raya

Manado, BeritaManado.com — Kelezatan yang dinikmati dari suatu makanan didapat dari perpaduan berbagai rasa yang menyatu sempurna.

Rasa ini yang kemudian membuat siapa saja menjadi nyaman dan ingin terus memakannya dalam berbagai kesempatan.

Hal itulah yang akan dirasakan saat menikmati kudapan dari bumi Totabuan, yaitu kacang goyang Cap Maleo.

ADVERTISEMENT

Perpaduan kacang tanah pilihan yang dipadu dengan  gula pasir, dimasak dengan cara tradisional dengan waktu yang cukup lama, menghasilkan makanan ringan dengan kualitas kelezatan tiada duanya.

Saat menikmati kacang tanah berbalut dengan gula pasir yang telah menjadi karamel memberikan sensasi rasa yang tak terkalahkan oleh makanan lainnya.

Saat gigitan pertama rasa dari karamel yang dimasak dengan api kecil, sehingga menghasilkan kematangan yang sempurna, akan langsung terasa.

Setelah itu, rasa guriih dari kacang tanah pilihan yang telah dikupas kulit arinya, akan berpadu sempurna  dengan rasa manis.

“Memang lezat rasanya, saya biasanya ngemil kacang goyang ini,”  kata Fitriah, warga Manado.

Apalagi kata Fitriah, ketika pergi ke Kotamobagu atau Bolmong selalu menyempatkan diri untuk membeli kacang goyang Cap Maleo di Alfamart karena rasanya sudah tak diragukan lagi.

Hal yang sama juga diungkapkan Mutiah, warga Paal Dua mengatakan, kacang goyang Cap Maleo memiliki rasa yang enak dan terkenal sebagai makanan khas dari Kotamobagu.

“Saya suka karena rasanya lezat,” kata Mutiah.

Mutiah pun mengatakan, saat kacang goyang Cap Maleo sudah makin mudah didapatkan karena sudah tersedia di Alfamart se-Bolmong Raya.

Owner Kacang Goyang Cap Maleo Drs. Hi. Zainul Armyn Lantong didampingi istrinya Hj Treystien Hapulu SE dan Manajer UD Totabuan Harianto Simbala, S.Kom saat ditemui di rumahnya menceritakan, awal mula usaha kacang goyang dimulai sejak 1983 oleh mertuanya.

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut secara perlahan-lahan terus berkembang hingga saat ini.

Pada saat itu mertuanya berpikir bagaimana cara melestarikan makanan khas para raja yang begitu istimewa kepada masyarakat.

“Dulunya makanan ringan tersebut hanya disajikan untuk para raja dan bangsawan saja maupun para tamu terhormat,” kata Zainul.

Namun setelah berjalannya waktu, warga Motoboi Kecil Kota Kotamobagu yang mengetahui pembuatan kacang goyang menyajikannya untuk momen spesial, seperti hari raya Idul Fitri, Natal maupun yang lainnya.

“Kemudian mertua saya yang kebetulan keturunan bangsawan membuka usaha kacang goyang agar makanan tersebut dapat dinikmati masyarakat, bukan hanya pada saat momen tertentu saja, melainkan setiap saat. Sekaligus juga melestarikannya,” ungkap Zainul.

Usaha yang dilakukannya sejak puluhan tahun lalu tersebut, merupakan yang pertama di Kotamobagu, bahkan di Sulawesi Utara, baru kemudian tumbuh, usaha-usaha lainnya yang sejenis.

“Jadi, UD Totabuan yang pertama membuat usaha kacang goyang. Sedangkan saat ini, kami merupakan generasi kedua,” katanya.

Suami dari Hj Treystien Hapulu SE menjelaskan, untuk pembuatan kacang goyang cukup rumit, meskipun bahan dasarnya terdiri dari kacang tanah dan gula pasir, namun memerlukan waktu cukup lama, sekitar 7-8 jam.

Disebut kacang goyang, karena dalam pembuatannya memang untuk memadukan kacang tanah dan gula harus digoyang-goyang, agar tercampur dengan sempurna.

Itu sebabnya, masyarakat menyebutnya kacang goyang.

Untuk tahap awal pembuatan kudapan dengan rasa manis dan gurih, kacang tanah dengan kualitas terbaik, dipanggang dalam oven dengan waktu tertentu.

Kemudian, setelah dirasakan tingkat kematangannya sesuai, didiamkan beberapa saat agar dingin.

Setelah itu, kulit arinya dikupas satu per satu, agar kacang tanah tersebut menjadi bersih.

Dalam proses pengupasan ini juga untuk menyortir kacang-kacang yang sudah rusak, untuk kemudian dipisahkan dari yang baik.

Dengan demikian kacang tanah yang digunakan memang terbaik.

Setelah selesai, kemudian dilanjutkan penyampurkan dengan gula pasir yang sebelumnya sudah cairkan.

Proses tersebut dilakukan di atas tungku yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga api yang keluar sesuai dengan kebutuhan.

Proses ini terbilang merupakan inti dari pembuatan kacang tanah inilah yang memerlukan kesabaran dan ketekunan, karena harus dilakukan antara 6-8 jam.

Lamanya proses pencampuran tersebut bukan tanpa alasan, melainkan untuk mendapatkan produk yang berkualitas.

Tak heran kacang goyang buatan UD Totabuan yang diberi nama cap Maleo banyak dicari pada saat Idul Fitri maupun Natal.

Selain itu, produk yang memiliki warna putih dan coklat tersebut banyak dijadikan buah tangan, bagi warga Manado yang tinggal di pulau Jawa maupun lainnya.

Pembuatan yang masih secara manual dan tradisional sengaja masih dipertahankan, untuk menjaga kualitasnya.

Tak ayal kacang goyang cap maleo memiliki banyak keunggulan dibandingkan produk sejenis daerah lain, di antaranya gulanya tidak mudah hancur jika terkena benturan sehingga aman jika dibawa melalui pesawat maupun paket pengiriman.

Beberapa tahun lalu pernah ada dari satu di antara perguruan tinggi di pulau Jawa membuatkan mesin untuk proses penggoyangan, namun hasilnya, tidak sama dengan yang dilakukan secara manual.

“Makanya saya kembali lagi, ke cara-cara tradisional, dengan cara manual,” ucap Zainal.

Untuk daya tahan produk, tak perlu diragukan lagi, saat ini jika penyimpanan dan dengan packing yang baik, produk tersebut bisa awet hingga 2 tahun.

Dalam satu hari pria yang sangat menyayangi anaknya ini mengaku memproduksi kacang goyang sebanyak 150 kilogram, atau dalam sebulan sekitar 3 ton.

Untuk bahan baku kacang tanah, pihaknya tidak mengalami kesulitan, namun untuk gula pasir, dirinya saat ini mulai khawatir, karena harga yang terus merangkak naik.