Berita Utama

Dua Investor Asing Siap Groundbreaking di IKN

“Washington kalau kita lihat selain ada pusat pemerintahan, kantor-kantor lembaga internasional tetapi juga ada pusat-pusat kebudayaan , kesenian, museum, sehingga tetap bisa mendatangkan minat wisatawan. Dari sisi ROI, ya karena namanya juga ini sesuatu yang baru, jadi saya menduga investasi dari asing ya relatif saja, karena risiko mereka melihat belum ada perkembangan, masih sebagian besar proyek awal jadi belum mau ambil risiko apalagi dengan suku bunga global yang masih tinggi,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh ekonom INDEF Tauhid Ahmad.

Menurutnya para investor tersebut akan melihat perkembangan pembangunan IKN dalam beberapa tahun ke depan, baru akan memutuskan apakah akan berinvestasi atau tidak.

Dengan kondisi yang ada saat ini, meskipun Istana Kepresidenan dan beberapa kantor pemerintahan juga sudah terbangun, tetapi secara fungsional kegiatan pemerintahan di sana belum berjalan, apalagi dengan adanya penundaan pemindahan ASN.

Menurutnya, para investor akan berinvestasi dengan memperhatikan pasar yang ada.

Jika pasarnya belum dikatakan menguntungkan, maka para investor pun belum akan mengambil risiko untuk menanamkan modalnya di IKN.

“Saya kira dengan situasi itu, maka belum begitu besar atensi investor luar. Kalau dalam negeri mereka untuk berjaga-jaga, toh pas dibayar mereka sudah hitung dengan katakanlah status hak gunanya yang panjang seperti 80 tahun, kemudian diperpanjang dan itu sudah dihitung kalau misalnya investasi yang masuk minim, maka yang terjadi adalah pergerakan dari NJOP-nya (Nilai Jual Objek Pajak -red) sehingga in the long term, pergerakan NJOP bisa menutup besaran investasi yang mereka punyai,” ungkap Tauhid.

Lebih jauh, Tauhid menjelaskan selama ini investor asing berinvestasi di Tanah Air kebanyakan di sektor pertambangan dan jasa.

Maka dari itu, ketika IKN berfungsi sebagai ibu kota pemerintahan yang tidak disertai dengan dua sektor tersebut, maka akan cukup sulit meyakinkan untuk investor berinvestasi dalam mega proyek ini.

“Tapi kalau ada industri dan sebagainya baru investasi asing asing bergerak, karena mereka harus tahu apakah memang marketnya dalam atau luar negeri, dan sementara ini sebuah kota dan akan cenderung yang mengisi market adalah domestik, tidak orientasi ekspor dan memang daerahnya tidak diperuntukkan untuk industri tetapi untuk administratif pemerintahan,” pungkasnya.

(Sumber: voaindonesia.com)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara