Akibatnya, roda ekonomi para sopir pun tersendat.
Pendapatan mereka menurun drastis, memaksa banyak dari mereka untuk menganggurkan truk dan berpuasa kerja selama hingga berminggu-minggu.
Mesin yang seharusnya bergemuruh, kini terdiam.
Setir yang seharusnya berputar, kini terabaikan.
Dan di balik kesunyian itu, ada keluarga yang menanti setoran, ada perut-perut yang menanti untuk diisi.
William Luntungan, seorang aktivis yang bersuara untuk mereka, menyebutkan masalah ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Ia khawatir jika para sopir terus-menerus sulit mendapatkan solar, dampaknya akan terasa pada pembangunan daerah.
“Siapa yang angkut pasir dan batu untuk pembangunan,” tanyanya.
William yang duduk bersama para Aliansi Sopir Dump Truck Sulut, hanya ingin satu hal yakni mendapatkan hak solar, agar bisa kembali bekerja, kembali mencari nafkah, dan kembali menjadi bagian dari roda pembangunan negeri ini.
Jika seruan ini tak didengar, mereka siap turun ke jalan, menemui gubernur, untuk menyampaikan keluhan yang sudah terlalu lama terpendam.
“Kami siap menggelar aksi akhir bulan ini, para sopir ingin mendapatkan kepastian dan pemimpin daerah,” tandasnya.
(Alfrits Semen)
