
BeritaManado.com — Matahari baru saja terbit, Rabu (17/9/2025).
Namun, pada sudut di salah satu SPBU di Kota Manado, terlihat wajah-wajah letih.
Mereka bukan pemalas, bukan pula orang-orang yang tak punya tujuan.
Mereka adalah para pejuang jalanan, yang setiap pagi seharusnya sudah mengangkut pasir, batu, atau material lain untuk membangun negeri.
Sayangnya, perjuangan mereka kini bukan lagi melawan medan berat, melainkan menghadapi antrian yang tak berujung.
Sopir-sopir dump truck, pahlawan tanpa tanda jasa di balik pesatnya pembangunan, kini merasakan pedihnya hidup.
Solar, bahan bakar yang merupakan nadi bagi mesin truk mereka, seolah menjelma menjadi barang mewah dan langka.
Waktu yang seharusnya digunakan mencari nafkah, habis terbuang berjam-jam, bahkan seharian penuh, hanya untuk mengisi tangki yang kosong.
Antrian panjang itu bukan sekadar barisan kendaraan, melainkan barisan harapan yang perlahan luntur.
“Bayangkan, untuk antri solar saja bisa sampai satu hari. Kapan bisa kerja?” lirih seorang sopir, suaranya sarat akan keputusasaan.
Derita itu tak berhenti di situ.
Di tengah penderitaan akibat kelangkaan solar, mereka juga harus menghadapi dugaan praktik curang yang membuat hati semakin perih.
Dari pengakuan sopir, barcode yang seharusnya menjadi identitas mereka, tiba-tiba tak berfungsi, dituduh telah mencapai kuota, padahal sudah berhari-hari truk mereka tak menyentuh SPBU.
Dugaan pencurian solar menggunakan barcode mereka, seolah menampar keras di tengah perjuangan yang sudah sulit.
Kisah tentang sopir yang dipersulit, dihalangi, bahkan berselisih pendapat dengan petugas SPBU, menjadi bumbu pahit yang sering.
Mirisnya, ada truk-truk lain yang diduga diberikan pelayanan spesial, mendapat jatah solar berlebih.
Sementara truk yang benar-benar digunakan untuk mencari nafkah, justru dipersulit.
Ironi yang menyakitkan.
