Bagi Dandung, Minahasa Utara adalah rumah kedua dan dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan bumi klabat.
Usai berdoa, Dandung kemudian tersadar dengan keberadaan saya.
Alkitab kemudian diatur kembali.
Dandung dengan senyum khasnya menyambut saya.
Bak seorang teman, kami langsung akrab.
Padahal itu pertemuan perdana dengan beliau.
Aneka kukis dan minuman dijajakan untuk saya.
Kami bercerita hampir dua jam.

Dandung juga banyak memberikan wejangan rohani yang keren.
Di Minut, Dandung bahagia bisa mengenal kultur masyarakat yang ramah dan kuat dengan budaya mapalusnya.
Dandung di setiap kesempatan, selalu datang bersama istri Anastasia Dandung, menjalankan dua fungsi yang berbeda, namun punya tujuan sama.
“Saya datang ke gereja mana saja. Karena sebagai kapolres juga harus terus berbaur. Kadang ikut memberitakan firman Tuhan bersama istri,” katanya.
Dalam perbincangan ini, Dandung berucap punya keinginan kelak bisa bertugas di Jawa Tengah (Jateng), kampung halamannya.
Impian Dandung pun terjawab.
Ia kini telah resmi dimutasi menjadi Wadir Samapta Polda Jateng.
Meski begitu, saya yakin Minahasa Utara memiliki tempat spesial di hati Dandung.
Selamat bertugas pak, semoga saat kembali ke Sulut nanti sudah menjadi jenderal.
(***)
