Selain penguatan regulasi dan keamanan, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan komunitas teknologi dalam membangun ketahanan siber nasional.
Menurutnya, ancaman digital tidak mengenal batas wilayah maupun sektor.
Karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi kunci untuk menciptakan sistem pertahanan siber yang kuat dan adaptif terhadap perkembangan ancaman yang semakin dinamis.
Strategi Pengembangan Talenta Digital dan AI Nasional
Desi juga menyoroti pentingnya percepatan pengembangan talenta digital nasional.
Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga ahli di bidang keamanan siber, data science, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi guna memastikan transformasi digital dapat berjalan secara aman, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
[KOREKSI: Kedepan -> Ke depan] Indonesia harus bisa menjadi negara yang unggul dan terdepan, menjadi leader bukan hanya jadi follower, pengguna dan hanya sekedar pasar konsumen dari perkembangan industri dunia digital dan AI.
Untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang digital dan AI, Desi mengusulkan sejumlah langkah strategis.
Pertama, pengembangan pendidikan digital dan AI secara terstruktur di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, termasuk pembukaan fakultas dan program studi khusus digital dan AI sebagaimana telah dilakukan sejumlah negara maju seperti China.
Kedua, peningkatan program edukasi, pelatihan, dan sertifikasi AI bagi aparatur pemerintah, pegawai BUMN, maupun sektor swasta agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi terbaru.
Ketiga, memperkuat kegiatan riset dan pengembangan (research and development/R&D) yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri untuk mendorong lahirnya inovasi berbasis digital dan AI dari dalam negeri.
Keempat, membangun industri digital dan AI nasional yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.
Kelima, memperluas sosialisasi dan literasi digital dan AI kepada masyarakat melalui berbagai forum seperti seminar, diskusi kelompok terarah (FGD), pameran teknologi, hingga forum internasional seperti ASOCIO Digital AI Summit.
Di tengah ambisi Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan digital dan AI di kawasan Asia-Oseania, Desi mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi atau tingginya tingkat adopsi teknologi.
Lebih dari itu, keberhasilan ditentukan oleh kemampuan negara dalam menjaga keamanan data, melindungi infrastruktur kritis, membangun talenta digital dan AI, serta memastikan teknologi digunakan secara etis, aman, dan bertanggung jawab.
“Transformasi digital dan AI yang kuat harus ditopang oleh keamanan digital dan AI yang kuat pula. Tanpa fondasi keamanan yang memadai, inovasi teknologi justru dapat menjadi sumber kerentanan baru bagi negara,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik peluang besar yang ditawarkan kecerdasan buatan, terdapat tantangan keamanan yang tidak boleh diabaikan.
Ke depan, agenda pengembangan digital dan AI nasional tidak hanya berbicara mengenai inovasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia mampu menjaga kedaulatan digitalnya di tengah kompetisi teknologi global yang semakin ketat dan kompleks, serta menjadi negara terdepan dan unggul dibidang teknologi digital dan AI.
