Berita Utama

Dana Mega Proyek Ratusan Miliar di Unima Tidak Jelas

“Proyek Modernisasi Unima Sarat Penyimpangan”

Dana Mega Proyek Ratusan Miliar di Unima Tidak Jelas
Stenly Ering menunjukkan bukti-bukti (foto beritamanado)

MANADO – Dosen Fakultas Teknik Unima, Stenly Ering, juga melaporkan kepada Kejati Sulut dan Kejari Tondano terkait dugaan penelitian fiktif di Unima dengan modus tanda tangan dosen dan pimpinan fakultas hanya di-scan, dan ada yang digunting dari SKnya kemudian di foto copy warna.

“Ini saya bawa buktinya, bahkan rektor sesuai peringatan saya sejak tahun lalu, telah memerintahkan kepada kepala penelitian untuk mengembalikan kerugian negara ke kas negara total Rp100 juta. Padahal total kerugian negara di Unima miliaran rupiah setiap tahun,” tutur Ering sambil menunjukkan bukti kepada wartawan usai membawa surat aduan resmi kepada anggota komisi IV DPRD Sulut Benny Rhamdani, Kamis (18/8) siang tadi.

Ering juga telah melaporkan lima proyek modernisasi di kampus Unima yang sarat penyimpangan, lokasi tender tidak jelas padahal total anggaran yang disosialisasi rektor sebesar Rp250 miliar. Kelima paket salah-satunya, tahun anggaran pertama, auditorium sudah menghabiskan anggaran Rp48 miliar.

“Tanpa papan proyek dan dikerjakan oleh satu perusahaan oleh PT Adi Karya. Ini menyalahi aturan! Juga ada pendidikan profesi guru Rp48 miliar yang tak terlihat hasilnya. Proyek-proyek ini tidak jelas penyelesaiannya,” tuturnya dengan nada tinggi.

“Ini harus diseriusi oleh penegak hukum karena mega proyek di Unima melalui dana pendidikan dari anggaran negara yang tidak kecil perlu diselamatkan,” pinta Ering. (jry)

 

10 tanggapan untuk “Dana Mega Proyek Ratusan Miliar di Unima Tidak Jelas”

  1. b ribut p ‘org’ kintal ehh.. hahahahaha
    lia jo ini ‘org unsrat’ (qt lei org unsrat, jgn samakan dgn tuh laen-laen) p jago, dp topik berita laen, dia comment laen. nda salah mmg ngn, prov betul. hahahahaha……….

  2. Tabea samua rekan rekan dan komentator2 yang peduli Unsrat. Waktu saya melepaskan jabatan sebagai Rektor Unsrat, saya katakan: Yes…I leavhe my position as Rector but my concern and responsibility to Unsrat remain. (Saya memang meninglkan jabatan sebagai Rektor tapi kepedulian dan tanggung jawab saya sebagai akademisi dan Mantan Rektr, tetap tinggal di Unsrat. Mencermati pandangan kritis ke Unsrat sekarang ini, saya juga ikut tapi menghindar menyoroti dan menilai “orang” nya. Kalau saya menganut pendekatan: “Attack the issue, not the person”. Soroti masaalah intinya dan biarlah orang yang terkait atau penyebab issue itu menjadi wacana dan urusan hukum orang dan kelembagaan yang berwenang.

    Issue yang saya liat kurang di “attack” oleh para komentator/publik ialah issue “mutu pendidikan”. Kita semua salut dan bangga dengan Program Rektor Unsrat menuju “Excellent University” yang melanjutkan program saya dulu sebagai Rektor : “Menuju Unsrat sebagai “One of The Top Ten University in Indonesia”. Banyak kemajuan yang sudah dicapai antara lain dana PNBP meningkat tajam “saldonya”, administrasi proses belajar mengajar yang makin tertib, makin disiplin, benar benar ketat ikut aturan, (walaupun makin rumit), sudah ada “e-campus management” dan yang terlihat penataan fisik kampus yang makin rapih, beberapa gedung didirikan, gedung LPPM, Lemlit serta “mobil mobil mewah banyak berkeliaran di kampus serta penampilan para mahasiswa dan mahasiswi yang makin “modern”. Dalam pembangunan fisik yang maju di kampus ini, juga akan dibangun “teaching hospital” (salut ke Pak Rektor ), walaupun saya sedikit prihatin dengan ditimbunnya “danau” dui Unsrat yang mempunyai bukan saja “fungsi ekologis” tapi juga fungsi sosial (tempat mancing warga diluar kampus dan jua ekonomi, serta dampak kesibukan “hospital” itu nnantyimnya terhadap lingungan kesehatamn ,sosial dan ekologis sekitar ).

    Tapi “concern saya yang utama pada sumbang saran ke publik via media elektronik ini ialah melihat “mutu akademis” lulusan S1, S2, S3 di Unsrat.

    Di Univesitas top di Indonesia mendorong staf dosennya untuk menempuh program S2 dan S3 di Univesitas Top di dunia. Dan ini merupakan keputusan Senat PT jbs. Harus ambil S2, dan S3 di PTN terkemuka untuk bisa menjadi Dosen dan Gurubesar tetap di Kampusnya. Dengan cara ini, PTN yang dipimpiunmnya benar benar menuju PT dengan mutu global, seperti halnya. Kaliu di Unsrat, saya perhatikan mendorong staf dosennya ke PTN lainnya di Indonesia, yang yah maaf ya….semoga asal jangan asal lulusa saja (“saya punya data….sedih deh bagaimana beberapa staff dengan sangat mudah, tanpa kuliahn intensif, kualitas thesis dan disertasinya dipertanyakan, lalu sudah lulus . Cuma apa hendak di kata…aturan nya klatanya memang memungkinkan…)

    Semoga saya salah, saya membaca bartu baru ini (mungkin di Tribun.Manado), ada PS S2 di Unsrat yang alumninya hampir semuanya prestasi “Cum Laude”. Wah…saya bangga tapi geli….apakah memang ini “true excellency” atau “true liar”…apakah ini hanya merupakan ” an art of manipulation”…saya harap jangan ah. Kelulusan hampir 100 % itu akan sangat “contra productive” dalam “image Unsrat” yang mendegradasi mutu akademinya karena mau “menyenangkan” sejumlah Majhasiswa yang barangkali karena ada kepentingan dan uang? (semoga tidak dan saya cuma berhypothesa).

    Menurut saya sih…materi itu penting, bangunan bangunan penting, uang itu penting…tapi dalam pengertian “excellency” apalagi “academic excellency” marilah kita bersama perlu mengacu pada ketokohan para intelectual dan institusi intelectual yang benar benar “excellent.

    Socrates, Plato, Aristoteles, St Agustine, (para filosophers) , Newton, (teori gravitasi), Marie Currie (penemu Uranium), Eisnstei dan banyak lagi, serta “founding fathers Sulawesi Utara dan Unsrat”, Oom Sam Ratulangi, Mononutu, Maramis, Henk Ngantung , Alm Prof Lapian (Sejarahwan ) dan banyak lagi menurut saya adalah sosok sosok intelektual yang “excellent” yang meruipakan produk dari “institusi Akademi” dan menampilkan prilaku hidup intelektual yang memelihara Etika, Moral dan Integritas ke Intelectualan: Keberanian, Kejujuran Akademi, Menghormati Pandangan Orang lain.

    Indikator “excellency” yang dianut Unsrat pasti ada acuan hukumnya sesuai peraturan perundangan…yang bisa meluluskan 100 % mahasiswa “Cum Laude”. Walaupun demikian, dengan akal; sehat apalagi dengan ilmu Statistik, populasi itu tersebar secara “normal distribution” (ada juga yang “skewed to the right and the left) tapi umumnya ‘normal’ Artinya dalam populasi ityu…ada sekitar 5 – 10 % individu yang “hebat” (Ranking A+), juga 5-10 % yang “blooon” (“ranking C dan D lah), dan pada umumnya biasa biasa saja (yang ranking B ata A- lah). Jadi, benarkah semua lulusan harus “cum laude”, “super kelas” …Ah ini ndak benar ah…para pemangku borokrasi di Kampus ini.

    Memang kita bisa berdalih…itu mungkin karena aturan memungkinkan. Tapi kalau melihat produknya…kelihatannya “acuan hukum kelulusan itu harus dirobah” (ini supaya saya jangan mempersalahkan Oknum Rektor, Pembantu Rektor 1, Direktur Pasca Sarjana yang memang memang memegang amanah dan kukuasaan untuk memberikan penilaian kelulusan secara juridis.

    Saya pernah menguji Mahasiswa S2 di Unsrat yang menurut saya analisa statistiknya kelihatannya benar tapi tidak konsistent dengan “hukum biologis dan ekonomi”…penggunaaan ilmu statistik yang salah kaptrah, “senjata makan tuan”…tapi dengan mudah diluluskan dengan predikat “sangat memuaskan”….wah…giman yah …..kasihan kan orang tua murid yang mengeluarkan biaya banyak untuk menyekolahkan anaknya lalu berhasil dengan “aspal” : “Asli Idjazagnya, tapi diragukan keaslian Mutu Akademinya.

    Ok para pejabat diumUnsrat ya…..maaf atas pandangan kritis saya ini…tapi saya sekedar menggugah publik dan anda semua …untuk kembali ke nilai originil “academic excel;lency” yang harus ditunjukkan oleh mutu dari karya karya akademi ( skripsi, thesis, publikasi jurnal dsb) yang dipublikasi sesudah lulus dan lolos uji akademi yang jujur, transparan dan diakui secara meluas kebenarannya oleh “academic community” secara nasional dan internasional…
    Ok…Mari kita trus doakan supaya semua kita dan para pemangku jabatan di Unsrat, dosen, mahasiswa dan semuanya makin menghayati nilai “Si Tou Tumou Tumou Tou and “be blessed with the power of wisdom and holy spirit” menjabarkan program Rektor Unsrat yang luar biasa…”Unsrat Menuju Excellent University”…Slamat bekerja. TUhan Memberkati.

    Selamat bekarja. Tuhan Memberkati. Viva Unsrat. Syalom. Prof. Ir. Lefrand Winston Sondakh, Dip.Ag.Econ; M.Ec’; Ph.D (Faculty of Economic Studies, University of New England, Armidale, Australia (1974- 1984), sekarang sebagai Wkl Ketua Komite Pendidikan KADIN Pusat, Seniour Advisor UPH, dan Konsultan Ekonomi dan Bisnis dan sewaktu2 konsultan politik (waktu weekend saja…soalnya belum pensiun). Praise The Lord, Masih Kuat Katuk Eh…..

  3. nih orang unsrat kw, orang yang sama yang nda senang pak rektor unsrat kng cuma ada ganti-ganti nama. kalau memang ngana berani, beking sama dengan mner stenly ering ada beking, jangan cuma jadi penunggang. nda heran memang kapa ngana nda tapake di fakultas. hhaha

  4. kapa? ngni dua orang unsrat dgn tole saki hati karna nda dapa jatah dari boss?? hahaha.. so itu bakaca kwa kalo nda dapa. jgn cuma jd provokator dsini. baca kwa, samua proyek itu ada dp tender yg jelas. jgn cuma asal lamu prov(okator).
    kapa ngana mo suruh dosen teknik unsrat yg mo pi balapor. ngana sandiri jo tuh p balapor ke dpr, kejaksaan, dll tuh RS,gedung lemlit, dgn tuh laen2. kalo lombo jangan kwa m ba stel dsni.
    kalo ngna suka ngna yg berbage tuh proyek di lemlit, jadi rektor kwa supaya nda gigi jari.hahahahaha
    trg pe rektor mmg licin skali prov. licin berbage berkat for dorang yang membutuhkan. kcuali ngni dua noh katu, prov sejati kwa.. wakakakakaaa

  5. Bongkar jo, proyek penelitian lemlit banyak yang fiktif, duit penelitian diambil padahal penelitiannya ndak ada, banyak skripsi mahasiswa dibajak ganti sampul rubah isi sedikit dijadikan proyek penelitian.. sudah bertahun2 begitu nda ada yang mau maju untuk bongkar proyek2 fiktif

  6. kalu di unsrat so biasa itu bagi2 proyek penelitian lemlit oleh rektor dan ibu rektor buat para dekan, guru besar serta konco2 rektor sebagai balas jasa atau tanam budi.susa mo bongkar sto kang, rektor kan mantan ketua kpu sulut yang dikenal licin he he he

  7. ayoo para dosen unsrat yang punya info dan bukti korupsi di unsrat (bangunan rumah sakit, gedung lembaga penelitian, penerimaan mahasiswa baru) kita sama-sama bawa ke dpr, kejaksaan, media semua bukti itu
    mana itu dosen teknik unsrat, jangan kalah dengan YUNIOR di unima. jangan malah keenakan jadi pengawas dan konsultan di preoyek tersebut kwak

  8. Judul dan pelapornya yang salah, semua pelaksanaan proyek di Unima semua sudah berjalan sesuai aturan. Tendernya sangat jelas karena diikuti oleh orang proyek si pelapor. Kesan dari laporan ini sangat sarat dengan kepentingan pribadi pelapor.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara