
Manado, BeritaManado.com – Pembatasan sosial dilakukan semua negara yang terdampak COVID-19.
Jika di Indonesia banyak warga membandel, hal itu tidak berlaku Melbourne, Australia.
Pemerintah setempat cukup tegas bahkan memberlakukan denda bagi siapa saja yang melanggar.
Jeffry Liando, warga Kawanua di Melbourne merasakan itu.
Di sana kata dia, keadaan darurat diumumkan sejak 16 Maret hingga 13 April.
Namun, karena belum terkendali, diperpanjang lagi sampai 11 Mei 2020.
Alhasil kata Jeffry Liando, Melbourne sebagai kota kosmopolitan yang ramai dengan aktifitas bisnis mendadak sepi.
“Padahal kota ini menjadi pusat kreasi para seniman, budayawan, hipster, anak muda dan mahasiswa. Malam hari, kami penuh dengan night club, bar dan café. Kini semua berbanding terbalik,” bebernya.
Kala itu, kisah Liando, sebagian besar maskapai seperti Qantas dan Jetstar menghentikan aktifitas.
Negara bagian Victoria ikut menutup semua akses.
“Penerbangan luar negeri sempat berlaku untuk WNI yang ingin kembali ke Indonesia, itupun dengan penerbangan dua kali seminggu,” katanya.
Kegiatan Kawanua Melbourne ditangguhkan
Sama dengan Indonesia, Melbourne mewajibkan pekerja beraktifitas dari rumah.
Semua perkantoran di kawasan Central Business District tutup.
“Sejak itu pembatasan benar-benar berlaku. Acara pernikahan hanya dihadiri maksimal lima orang. Pemakaman ditoleransi 10 orang,” tutur Liando.
Pada pembatasan tahap tiga, Pemerintah Victoria semakin serius dengan aturannya.
Hanya dua orang dibolehkan berkumpul di tempat umum.
Kata Jeffry, warga boleh keluar untuk belanja kebutuhan, ke dokter atau rumah sakit.
“Kalau melanggar siap-siap didenda sebesar AU$1,652 setara Rp 16 juta per orang dan AU$9,913 atau Rp96 juta untuk bisnis,” tegasnya.
Sebagai Secretary Kawanua Melbourne Australia Inc, Jeffry Liando dan kawan-kawan memutuskan menangguhkan semua acara yang direncanakan sampai situasi kondusif.
“Langkah itu sebagai implementasi mendukung social distancing,” terangnya.
Praise and worship virtual

Untuk beribadah, pihaknya membuat akun Kawanua Virtual via Zoom. Meskipun terisolasi dan dilanda kesepian, semangat keimanan para Kawanua bertambah.
“Dari situ ide-ide bermunculan seperti mengadakan praise and worship virtual via Zoom. Beberapa kesempatan juga diselingi dengan kuis Alkitab dari gawai,” beber Liando.
Program Peduli Kawanua Melbourne

Ia menjelaskan, pandemi COVID-19 juga berdampak kepada Kawanua di Melbourne.
Beberapa diantaranya kehilangan pekerjaan.
“Teman-teman kita juga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Kawanua Melbourne Australia Inc kemudian mengumpulkan dana membelikan bahan makanan dan membagikan kepada Kawanua yang membutuhkan.
Pengadaan bahan baku ini juga tidak mudah karena stok di supermarket sangat langka.
“Ciri khas Kawanua itu adalah solidaritas dan tetap kompak. Itu yang kami lakukan di sini,” tandasnya.
Warga Kawanua yang tetap bekerja

Jeffry menambahkan, Kawanua yang tetap bekerja di tengah pandemi juga masih banyak.
Salah satunya adalah Willie Cornelis yang sudah 30 tahun di Melbourne.
Willie Cornelis adalah putra Minahasa dari Desa Kema, Kabupaten Minahasa Utara.
Kini ia bekerja di salah satu perusahaan besi dengan standar protokol kesehatan ketat.
(Alfrits Semen)
Baca juga:
