
Reformasi sebenarnya menjadi sebuah etape kebangkitan demokrasi, tetapi kemudian terjadi pengingkaran.
Pengingkaran pertama, ketika Gus Dur dilengserkan oleh sebuah gerakan kecil para Pemuka Reformasi. Mega pun tampil menggantikan Gus Dur.
Perjalanan demokrasi bangsa ini telah melewati tiga etape.
Etape pertama (1945 – 1965) selepas ini hadir kemerdekaan. Soekarno Hatta dll sebagai dirigen demokrasi Indonesia. Cukup merdu suara demokrasi Indonesia kala itu.
Negara baru ini cepat mendapat pengakuan dan diperhitungkan. Kala itu partai nasionalis dan partai agama berdampingan atas nama kebangsaan Indonesia.
Tetapi kemudian “dominasi politik” Soekarno mengalami gesekan panas antara komunisme, nasionalisme, agama, dan militer.
Soekarno kala itu dikritik karena madzhab Nasakom (nasionalisme agama komunisme). Lahirlah sebuah gerakan anak muda dan mahasiswa Angkatan 66 sebagai gerakan demokrasi.
Angkatan ini kemudian mendapat pendampingan militer nasionalis. Soekarno turun, dan Soeharto tampil.
Etape kedua (1967 – 1998) untuk alasan memerangi komunisme muncul kekuatan politik Orde Baru dan tongkat komando dipegang penuh oleh Soeharto.
Di etape ini peran politik militer cukup dominan. Otoritarian Orde Baru kemudian melekat pada Soeharto, ini juga yang memunculkan perlawanan rakyat (tidak hanya buruh, mahasiswa, dan kelompok perlawanan).
Masa ini peran politik militer juga hadir dominan. Bahkan sempat muncul faksi-faksi. Kekuasaan orde baru pun hancur berkeping-keping kemudian menjadi puing sejarah bangsa ini.
Etape ketiga (1998 – 2023), ditandai dengan tumbangnya Orde Baru muncul Etape Reformasi.
Ini tidak bisa diklaim sebagai gerakan kelompok tertentu, sebab rakyat telah menangis menjerit lebih dahulu sebelum mahasiswa dan kaum buruh turun ke jalan.
Sebelum Gus Dur, Amin Rais, Megawati, Mochtar Pakpahan, berteriak sambil mengepalkan tangan, rakyat sudah berteriak minta kebebasan dari otoritarian.
Etape ini melegakan rakyat untuk dua tahun awal.
Pengingkaran pada spirit dan cita-cita reformasi juga muncul diantara pemimpin. Gus Dur dilengserkan oleh elite kepentingan.
Mega tampil memimpin bangsa ini. Rupanya reformasi belum tuntas, belum beres.
Beberapa bagian konstitusi berubah. Struktur parlemen berubah, sistem Pemilu berubah, dengan target demokrasi makin kuat, Otonomi daerah dibuka (sedikit).
