Minahasa

Jiwa Jokowi-Ahok di CNR-DJT

Jiwa Jokowi-Ahok di CNR-DJT
Kekompakan menjadi modal awal membangun Minahasa (foto beritamanado)

Tondano – Kemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) dalam Pemilukada DKI Jakarta menurut tokoh muda Minahasa, Oklen Waleleng, adalah kemenangan pemimpin muda yang bisa menjawab harapan perubahan. Begitu juga Minahasa, sosok Careig menjadi keinginan masyarakat bahwa yang muda bisa mengabdi untuk Minahasa.

“Sepanjang yang saya amati Pemilukada DKI, keinginan warga Jakarta memilih Jokowi-Ahok adalah karena figur muda dan bisa membawa perubahan. Ada banyak warga lintas partai, etnis, agama dan tentunya generasi muda yang mendukung penuh Jokowi-Ahok,” kata Oklen.

Hal yang sama, bahwa CNR-DJT sama dengan Jokowi-Ahok sebagai pemimpin bersih dan berjiwa muda. Keduanya memiliki track record yang dekat dan berjuang bersama masyarakat Minahasa. Tidak pernah terlibat kasus-kasus pelanggaran hukum maupun sosial.

“Tidak bisa serta merta partai yang sama di Jakarta, sudah pasti menang di Minahasa. Akan sangat berbeda, di sini generasi muda mendukung CNR-DJT dan track record yang sama dengan Jokowi-Ahok adalah CNR-DJT. Kedekatan CNR-DJT dengan rakyat sudah tidak bisa terbantah lagi dan inilah jawaban yang diinginkan masyarakat,” pungkasnya.

Pengamat politik dan pemerintahan Sulut, Dr Welly Areros, MSi tak menampik kalau fenomena orang muda menjadi pemimpin di negara ini. Keberhasilan Jokowi-Basuki di Jakarta diprediksi sejak awal akan juga berjaya di Minahasa.

“Figur CNR-DJT adalah presentase orang muda yang akan memimpin tanah Minahasa. Saya sudah memprediksi itu sejak jauh-jauh hari. Apalagi keduanya ditopang oleh partai besar,” ujar staf pengajar di Fisip Unsrat ini.

Olehnya putra Nusa Utara ini menilai, CNR-DJT diyakini akan mendapat dukungan signifikan nanti. “Saya teramat yakin CNR-DJT akan mampu menjadi pemimpin di Minahasa,” kata Areros yang dihubungi berada di Bandung.

Sementara itu, Taufik Tumbelaka, pengamat sosial kemasyarakatan yang dikenal alumnus UGM Jogjakarta, mengatakan ada dua hal menarik dari di Pilkada Jakarta, yakni pertarungan kaum muda dan orang tua. Muda diwakili Jokowi-Basuki sedangkan Foke-Nara adalah kaum tua. Dan fantastisnya rakyat sudah cerdas dengan memilih orang muda.

“Jokowi-Basuki sebagai orang muda akhirnya menang. Kenapa demikian karena variabel orang muda jadi pertimbangan, yakni kreatif, kaya dengan ide-ide yang segar, bekerja keras. Apalagi orang muda berada dimasa keemanasan (golden age). Nah, fenomena ini bisa diperhatikan orang Minahasa untuk memilih figur dan pasangan orang muda seperti CNR-DJT,” papar Tumbelaka yang dihubungi berada di Jakarta.

31 tanggapan untuk “Jiwa Jokowi-Ahok di CNR-DJT”

  1. KITA HERAN LEI INI MR ARORES DENG MR.TUMBELAKA KIAPA NGONI DUA SU TAIKO DENG PIKIRAN TUKANG BAPAJAK DI PASAR,TERMINAL TONDANO. HABIS BAPAJAK BAMABO. JAU SKALI PERBEDAAN JOKOWI- AHOK DENG CNR-DJT, SDH JO KITA MO CUMU, TAMANG2 DIATAS SU TULIS AKANG…………………………………………………………………………….
    ARORES-TUMBELAKA KLU JADI PENGAMAT HARUS NETRAL DENG PINTAR BACA KEADAAN.

  2. sama bagimana leh tamang,cnr bilang pa nape papa cnr bukang kong mo cari pendukung mo paksa tu aparat desa mo suruh pasang ngoni 2 pe bendera…coba jo lia tu pa pala-pala deng lurah minahasa ngoni sobeking ngoni pe ts atas nama nape papa jadi katu lurah deng pala-pala desa….so sibuk pasang ngoni pe bendera….jokowi memang suara rakyat…bukang paksaan dari satu orang pemimpin yang sedang menjabat.

  3. hahahahahahahahaha……………tatawa ada baca ini berita,…
    nentau ato pura pura bodoh ini,.. hanya org yang nda tau apa2, dan hanya mementingkan diri sendiri, penjilat… yang bisa setuju dengan stattment ini…. masa mo kase sama jokowi-ahok dgn cnr-djt…?????? hwahahahahaham,, rasa muntah tree…

  4. Jokowi : Muda, kurus karna memikirkan rakyat, santun, dan cerdas, merakyat.
    CNR : terlalu muda, gemuk karna makan tidur, lambat, anak papi, masih di bawah bimbingan dan kasih sayang orang tua, masih dalam masa pertumbuhan.
    kemiripannya di mana? judul berita yang aneh………..

  5. Terminologi politik dinasti itu lahir dari sebuah konteks yang paradoksal, yaitu di tengah demokratisasi malah muncul pewarisan takhta seperti di alam kerajaan.

    Demokrasi membuka pintu bagi banyak orang untuk tidak hanya memiliki hak pilih, tetapi juga merasa punya hak untuk dipilih menjadi pejabat daerah. Celakanya, mereka merasa keluarga dekat mereka pun berhak dipilih menjadi kepala daerah.

    Seolah lumrah belaka bila kini kita menyaksikan seorang gubernur memiliki anak atau adik yang menjadi bupati atau wali kota. Juga seakan lazim saja bila seorang bupati atau wali kota menjabat pada periode tertentu kemudian istrinya menduduki posisi yang sama pada periode berikutnya.

    Alhasil, seperti tidak terlampau mengherankan bila kini kita menyaksikan suami, istri, anak, atau kerabat dalam satu keluarga menguasai posisi kepala daerah.

    Itulah politik dinasti yang kian fenomenal. Meski senantiasa mengatasnamakan demokrasi karena lahir di era yang relatif lebih demokratis, para pelaku politik dinasti sesungguhnya merupakan penumpang gelap yang kemudian membajak demokrasi.

    Mereka dan keluarga merasa berhak dipilih menjadi kepala daerah, tetapi pada saat yang sama mereka sesungguhnya mengurangi, bahkan mengebiri hak politik dan kesempatan orang lain untuk dipilih.

    Demi merengkuh hak politik pribadi dan keluarga, para pelaku politik dinasti sesungguhnya telah menyerobot hak politik warga negara lain.

    Dengan pengaruh keluarga yang sedang menjabat kepala daerah, kompetisi dalam pemilu kada pun menjadi tidak sehat. Itu artinya politik dinasti hanya membuat demokrasi sakit, lama-kelamaan sekarat, dan akhirnya mati karena kembali ke zaman kerajaan.

    Itulah sebabnya pelakon politik dinasti disebut penumpang gelap yang membajak demokrasi. Mereka membajak demokrasi untuk menumpuk kekuasaan dan mewariskannya kepada keluarga. Dengan kekuasaan itu, mereka pun memupuk dan menumpuk kekayaan.

    Ketika kekuasaan dan kekayaan terpusat pada satu keluarga, pada saat itulah demokrasi menemui ajalnya. Bukankah demokrasi semestinya menghasilkan distribusi kekuasaan politik dan ekonomi yang adil?

    Oleh karena itu, kita menyokong sepenuhnya ikhtiar politik pemerintah untuk mengakhiri dominasi politik dinasti melalui Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah.

    RUU yang merupakan revisi atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah itu mengatur seorang calon kepala daerah tidak mempunyai ikatan perkawinan, garis keturunan lurus ke atas, ke bawah, dan ke samping, kecuali ada selang waktu minimal satu masa jabatan.

    Kita menyokong sepenuhnya karena RUU itu sangat demokratis. Sangat demokratis karena RUU itu hendak memberi hak politik lebih luas dan adil kepada lebih banyak warga negara untuk dipilih dalam pemilu kada.

    Oleh karena itu, sangat tidak masuk akal mereka yang mengatakan RUU Pemilihan Kepala Daerah melanggar demokrasi dan mengebiri hak politik warga negara.

  6. narasumber “HEBAT”
    yg 1 Tokoh muda yg BERPIKIRAN Warong muda dan yg 1 akademisi yg harusnya adalah GURU yg MENCERAHKAN malah jadi PROVOKATORnya SI KUMIS

  7. Pilihlah figur yang tepat untuk masa depan minahasa jangan hanya karena dia adalah *fans trus dia yang di pilih,kalau daerah minahasa berkembang otomatis kesejahteraan rakyat juga ikut naik,..jangan sampe salah pilih,.INGA..INGA….TING……!!!!

  8. yang masyarakat bukuhkan skarang bukan figur tapi pembuktian bawa figur itu mampu membangun daerah dan mampu mensejahterakan masyarakatnya,ahok sudah membuktikan dengan membangun yayasan dan membantu masyarakatnya (babel) dengan memberikan pekerjaan salah satunya dengan membiayai masyarakatnya bekerja di luar negeri danitupun membantu daerahnya mengurangi angka pengangguran selain itu juga meningkatkan devisa daerah,…itulah hebatnya ahok,….*SALUTTTTTT

  9. Nda bermutu….! Rupa songoni samua tu Butul. Ndausajo banya bicara, kalo ngoni TS ato simpatisan pa 5 calon ini, Karjajo bakuat supaya untung…! Ndausa saling Menjelekan, ndabagus itu. Itu bukang Karakter Tou Minahasa ?ª?? Om Sam ada kase tunjung patorang. Hargai perbedaan, dan sukseskan Proses Demokrasi yg sementara berjalan. Nanti bakudapa di Lapangan torang, sapa tu Orang modengar deng moiko akang. SUKSES…….!

  10. kalu jakarta ada pasukan nasi bungkus (~followernya Foke-Nara~), minahasa ada pasukan bundel (.~adaaa aja~) ; dorang pe type amper sama, kalu so ba comment so dorang tu rasa paling butul ;nda pernah sadar kalu minahasa so bertahun2 ternyata cuma jalang di tampa amper di samua aspek. Gara-gara apakahhh ??? Gara-gara rata2 orang minahasa skarang ‘jago’ pilih pemimpin.

  11. Nda bermutu….! Rupa songoni samua tu Butul. Ndausajo banya bicara, kalo ngoni TS ato simpatisan pa 5 calon ini, Karjajo bakuat supaya untung…! Ndausa saling Menjelekan, ndabagus itu. Itu bukang Karakter Tou Minahasa ?ª?? Om Sam ada kase tunjung patorang. Hargai perbedaan, dan sukseskan Proses Demokrasi yg sementara berjalan. Nanti bakudapa di Lapangan torang, sapa tu Orang modengar deng moiko akang. SUKSES…….!

  12. Nda bermutu….! Rupa songoni samua tu Butul. Ndausajo banya bicara, kalo ngoni TS ato simpatisan pa 5 calon ini, Karjajo bakuat supaya untung…! Ndausa saling Menjelekan, ndabagus itu. Itu bukang Karakter Tou Minahasa ?ª?? Om Sam ada kase tunjung patorang. Hargai perbedaan, dan sukseskan Proses Demokrasi yg sementara berjalan. Nanti bakudapa di Lapangan torang, sapa tu Orang modengar deng moiko akang. SUKSES…….!

  13. Nda bermutu….! Rupa songoni samua tu Butul. Ndausajo banya bicara, kalo ngoni TS ato simpatisan pa 5 calon ini, Karjajo bakuat supaya untung…! Ndausa saling Menjelekan, ndabagus itu. Itu bukang Karakter Tou Minahasa ?ª?? Om Sam ada kase tunjung patorang. Hargai perbedaan, dan sukseskan Proses Demokrasi yg sementara berjalan. Nanti bakudapa di Lapangan torang, sapa tu Orang modengar deng moiko akang. SUKSES…….!

  14. Tou minahasa coba berkreatif kwa masih banyak org2 yg lebe bagus mo jadi pemimpin.
    Buah tidak mungkin kalu jatuh jaoh dari pohon pasti sama,
    coba cari yg lain kwa biar fresss…..

  15. langowanese …. anak desa …… bingo ada baca ngoni dua pe koment ../… itu berita dari wartawan \nara sumber bukan dari yang bersangkutan tapi ngoni dua pe koment sama deng nara sumber pa dorang dua ….. apakah CNR DJT musti mo larang kalu wartawan ato nara sumber lain mo berkomentar ??? … menurut ngoni dua ada tu calon ciplak manta2 itu identitas jokowi / baju kotak2 kira2 itu menurut ngoni bagimana ??? kalu mmenurut kita itu nda pantas jadi pemimpin karna nda punya kreativitas dan miskin ide

  16. Yang sama dari mereka hanya sama2 “MUDA”!
    Selebihnya sama sekali tidak layak diperbandingkan. Dorang rupa bumi vs langit rupa tu @Langowanese ada bilang.

    Bakaca bae2 kwa.
    Ini depe nama pelecehan voor dorang Jokowi-Ahok kalo mo disamakan deng tu dua calon di atas….

    Dapa sayang kang… Rupa ndak ada calon lain yg lebe bermutu voor Minahasa ini kali….

  17. hahahaha…. ini lucu ; deng langsung dapa lia tu biongo… masa kwa’ Jokowi-Ahok mo kase banding deng CNR-DJT..?!@#$ buka mata deng telinga pa fakta yg ada; dorang pe beda rupa bumi deng langit. Jokowi-Ahok punya segudang pengalaman & presasti sedangkan CNR-DJT???? CNR setahu kita dia nda lebe dari anak mami-papi, krn itu dia gampang terjun di politik, DJT??? Penganut politik ‘abal-abal’ nda jelas depe personality concept dalam berpolitik. So itu orang minahasa jangan iko-iko jadi biongo. (walaupun banya orang luar so cap bagitu)

  18. seragam bisa diambil contoh tapi kepemimpinan belum tentu…. CNR anak dari SVR… apakah minahasa sebuah kerajaan????? atau sebuah kabupaten??????
    kalau DJT yang jadi bupati saya setuju…. bukan CNR

  19. Keberhasilan dari Jakowi-Ahok adalah karena keduanya mempunyai keunikan khusus yang bisa di lihat rakyat dan tidak terselubung dan tentunya keberhasilan mereka tidak terlepas dari kejujuran dan hasil yang mereka lihatkan dan buktikan membangun daerah dan rakyatnya. Menyamakan Jakowi-Ahok dengan CNR-DJT atau contoh yang lain yi memakai baju sperti Jakow-Ahok adalah suatu kesimpulan yang tentunya saya kira tidak mempunyai dasar yang kuat. Walaupun CNR-DJT atau calon-calon yg lainnya adalah calon yang masih muda tapi sebetulnya mereke belum mempunyai faktor -faktor yang bisa mendukung kemampuan diri untuk membawa perubahan bagi daerah Minahasa. Ketidakmampuan calon-calon ini bisa di lihat dari cara-cara mereke yang kurang kreatif dan malah hanya meng-copy ide dan lainya dari figur-figur calon dari luar daerah. Saya lihat calon-calon yang akan maju di Kab, Minahasa belum ada yg mempunyai kemampuan khusus(special ability and skills) untuk membawa Kab Induk ini ke arah yang lebih maju. Yang kita butukan di Minahasa adalah calon yang berani untuk berpikir dan mempunyai ide yang tajam yang bisa di terapkan dan dilaksanakan. Jangan hanya mengangkat karakter tapi sebaliknya kemampuannya. Semoga!!

  20. biar mo putar2 CNR-DJT so pasti menang , jadi kader deng simpatisan ,rapatkan barisan for satu putaran. Saatnya yang muda mengabdi. lanjutkan….!!!!

  21. itu cnr so sama jo deng perpanjangan tangan svr. Pimpin Minahasa so 8 tahun mar nda maju-maju kong itu korupsi pe banyak mulai dari gaji cpns ke pns, tunjangan, jasa dll yang selalu diperlambat sampai beberapa bulan. Ini cnr so sama deng foke nara yang incumbent dan didukung partai golkar demokrat

  22. … ol ….. coba baca ulang itu pokok berita …… yg di angkat persamaannya adalah mereka mewakil yg muda bukan dari partai mana mereka berasal.

  23. ..69 CAFE ./… butul sto perubahan ada pa HAG mr hag so tua so plang …. jadi memang sto ada perubahan mr so plang boleh jadi perubahan terjadi nanti pada tahun ke 5 kalu dia ta pilih … cuma rupa brat kalu hag mo jadi soalnya sampe skarang dia nda pernah sosialisasikan dis pe latar belakang dia pe usaha di irian… tu di minahasa nemau tuu da jadi di minut kong jadi di minahasa……..

  24. minahasa pada intinya ingin berubah. dan perubahan itu bkn pada figur pangeran cnr. kalau beliau terpilih sama juga bohong. pada intinya masyarakat minahasa ingin perubahan. figur itu ialah HAG RJM

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara