
MANADO – “Gerakan GERAFIM adalah gerakan separatis, karena bisa mengancam kesatuan dan persatuan NKRI” ungkap Sekjen BMI, Renata Ticonuwu dengan penuh semangat saat menggelar Konferensi Pers di Hotel Griya Sintesa Peninsula Manado, Jumat (5/8/2011) kemarin.
Ticonuwu menambahkan bila BMI sebagai ormas adat Minahasa merasa terlecehkan mengingat di Minahasa ada kelompok-kelompok yang coba merongrong kewibawaan dan semangat kemerdekaan Indonesia.
Dalam konferensi pers yang berlangsung cukup panas tersebut BMI juga meminta agar aparat penegak hukum harus menseriusi permasalahan GERAFIM.
Sebelumnya, Sabtu (30/07/11) lalu, bertempat di Hotel Formosa Manado berkempul sejumlah tokoh Minahasa yang oleh Oleh Dr. Bert Supit selaku ketua adat Minahasa mengusung draft Gerakan Federal Indonesia di Minahasa (GERAFIM) yang rencananya pada tanggal 18 Agustus 2011 akan dideklarasikan kepada Indonesia bertempat di Watu Pinawetengan. (gn)

Renata Ticonuwu terlalu apriori menyikapi permasalahn ini, perlu ditegaskan lagi bahwa objek permasalahan yang terjadi adalah penghadangan upacara bendera yang akan dilaksanakan oleh Majelis Adat Minahasa bukan GERAFIM atau apalah……Dari sekian Ormas Adat hanya BMI yang ngotot menghadang tanpa tau persis apa yang akan dilaksanakan oleh MAM di pinabetengan. Ataukah Renata Ticonuwu hanya akan memanfaatkan BMI sebagai alat menaikan popularitasnya ataukah Renata Ticonuwu so mulai jadi ahli Nujum yang belum dibilangpun dia so tau apa yang mo terjadi (PARANORMAL).
Gagasan ‘deklarasi federalisme’ dari Dr Bert Supit, selaku Ketua majelis Adat Minahasa, yang direncanakan didekalarasikan hari ini Tanggal 18 Agustus 2011 di Watu Pinabetengan.
Gagasan ini walaupun kontroversial tetapi menurut saya memiliki nilai kekayaan moral intelektual yang selalu berjuang mencari kebenaran dan mematahkan ketidak adilan yang merupakan ciri kaum intelektual dan pejuang intelktual (Socrates rela minum racun untuk membela kebenaran) dan banyak lagi tokoh tokoh cendekiawan dan filsafat yang rela mati berjuang melawan ketidak adilan dan mempertahankan kebenaran yang dimilikinya. Nilai sikap, kepedulian dan keberanian spirtual dan intelectual yang berada dibalik ‘protestantisme’ Martin Luther yang berani (dengan segala resiko) memprotes menempelkan 99 dalil protestantisme di Pintu Gereja Wittenberg. Semangat yang menyebabkan Dr Sam Ratulangi, Bung karmno, Bung Hatta dan para pejuang kemerdekaan rela dibuang dan dipenjarakan. Semangat yang berada dibalik kejuangan Nelson Mandela yang harus dipenjarakjan Penguasa Afrika Selatan.
Semangat dan keberanian menyampaikan gagasan kritis untuk menegakkan kebenaran dan mematahkan ketidak adilan ini, yang saya lihat ada dan sedang di ‘revitralisasi’ dalam gagasannya Dr Supit. merevitalisasi semangat Oom Sam untuk menghidupkan kembali semangat moral intektual yang kelihatannya makin memudar pada generasi ‘Tou Minahasa’ sekarang ini. Saya membaca, Dr Supit berontak melihat anak cucu Dr Sam Ratulangi yang makin memudar ‘idealisme’ untuk ‘patahkan ketidak adilan dan tegakkan kebenaran’, pemudaran karena pengaruh pragmatisme dan konsumerisme, pengaruh penetrasi nilai ekonomi pasar (neo-liberal) dimana hampir semuanya bisa “on sale” termasuk ‘hak hak politik dan demokrasi’ yang sudah mempunyai nilai pasar yang merupakan akar dari ‘money politik’ dalam menduduki jabatan politik dan birokrasi. Berontak melihat bagaimana “uang” telah mendominasi dan mereduksi ‘semangat idelaisme dan kejuangan’. Dulu, penilaian terhadap seseorng tokoh terutama dari integritas, kompetensi, kemampuan intelektual, moral intelektual, budaya dan relgi. Sekarang semua nilai yang substantial ini telah menjadi nomor dua oleh ‘the power of money’. Bukan lagi ‘vox populi vox dei tapi vox populi vof ‘doi’.
Hanya memang, keeranian yang ada pada diri Dr Bert supit, supaya effektif, harus melalui kajian intelektual dulu supaya gagasan gagasan yang mau dideklariskan itu sebaiknya sudah melalui pengkajian dari berbagai aspek bahwa memang konsep federalisme layak diusulkan dan dideklariskan. Bagi saya yang belajar ‘ tentang perencanaan dan evaluasi strategi dan kebijakan’ melihat gagasan Dr Supit merupakan gagasan yang ‘belum perlu’ di dekalrasikan tetapi tetap perlu dikaji lebihg dahulu melalui berbagai studi, seminar, agar supaya effektif, sekaligus rekan rekan sebangsa dan setanah air kit di NKRI menilai bahwa memang kekuatan ‘orang Minahasa’ sebetulnya terletak pada ‘intelectual capacity’, pada ‘the power of mind’ seperti yang ditokohkan oleh Dr Sam Ratulangi, Mr Babe Palar, Arnold Mononutu, Mr Maramis dsb. Majelis adat Minahasa yang merayakan Hari Proklamasi di Watu Pinawetengan justru suatu langkah yang tidak perlu dicurigai.
memang, Kelompk Dr Supit ‘berhypothesa’ bahwa “Federalisme” dan ‘negara Persatuan’ merukana sistim yang relatif lebih baik dari Negara Kesatuan. Pandangan ini jangan kita langsung hukum sebagai ‘separatisme’. Memang, faktanya banyak negara yang maju karena sistiom federlisme dan negara persatruan, contohnya malaysia, USA, dsb. …Jadi sah sah saja gagasan itu. hanya saja…biarlah kita semua duduk bersama, mengedepankan ‘the power of mind’ untuk mendekati kontroversi ‘federalisme vs NKRI’ secara ilmiah, dengan ‘scientifik approach’ untuk menguji “Hypothesa Dr Bert Supit”. Seandanya saya masih Rektor Unsrat, saya akan menyelenggarakn seminar untuk membahas kontroversi ini secara akademis. …OK. Selamat HUT ke 66 Proklamasi NKRI. Dan God Bless You, My Friend Dr Supit. Si Tou Tumou Tumou Tou. Salam. Prof Lucky Sondakh, Lahir 66 Tahun lampau di dekat situs Watu Pinabetengan di Kanonang.
dan juga yang sudah menyemangati ‘para pahlawan kemerdekaan berjuang dan berontak melawan ketidak adilan dibawah kekuasaan penjajahan.
. Yaitu adanya semangat “to break the chains of injustice’ (mematahkan belenggu ketidak adilan), semangat ‘intelectual rebellious’ dan semangat ini positif.
WASPADAI INI : INGAT PENGALAMAN PERMESTA,INGAT PENGALAMAN PERMESTA ,– BANYAK PENGHIANATAN
— BANYAK BERMUKA DUA
— MINAHASA MILIK NKRI
— LAPOR PIHAK BERWAJIB BILA ADA KEGIATAN2 YANG
MENGHASUT RAKYAT MINAHASA
— WAHAI RAKYAT MINAHASA JGN MAU DIOBOK OBOK
PENYUSUP YANG TAK JELAS APA TUJUANNYA
— PERKUAT HUBUNGAN KEKELUARGAAN
— RANGKUL ANAK ANAK KITA/SAUDARA KITA/ SPY TIDAK
TIMBUL PERPECAHAN
— SO BUTUL TU PRINSIP OPA SAMRATULANGI
— KASE TRUS TU PRINSIP MAPALUS SEBAGAI SALAH
SATU CIRI KHAS BUDAYA RAKYAT MINAHASA
— TUHAN YESUS KRISTUS memberkati MINAHASA
KITA TETAP NKRI…
…TAPI DRAFT GERAFIM DARI OPA BERT KENAPA TORANG NYANDA COBA CARI TAU DAN BELAJAR….DARI DULU NEGARA FEDERAL SUDAH KITA DENGAR DAN KETAHUI …SEKARANG ADA OTONOMI DAERAH…
…KIAPA TORANG NYANDA BERDISKUSI KENAPA NEGARA FEDERAL ATAUPUN OTONOMI DAERAH TIDAK BISA BERJALAN….APA KENDALA MASALAHNYA DLL….LEBIH KHUSUS BUAT TORANG P DAERAH…
…..COBA BRIGADE MANGUNI DAN ORGANISASI-ORGANISASI YANG LAIN JUGA IKUT SERTA….
..KITA RASA OPA BERT JUGA DENGAN GERAFIMNYA MEMPUNYAI TUJUAN YANG BAIK BUAT TORANG P DAERAH…..
Napa lei satu cuma untung nama nentau apa dorang pe kontribusi for minahasa
Sepanjang GERAFIM tidak dibuat untuk makar atau separatis serta primodial dan mengusung Sistem Federal untuk perbaikan Sistem Pemerintahan NKRI saya kira tidak harus Apriori, Menurut saya NKRI dan Otonomisasi perlu dikaji kembali karena bukan saja di Minahasa di Jawa Sumatera Kalimantan dll masih banyak daerah daerah yang belum maju di Minahasa belum ada yang makan nasi aking / makanan basi yang dikeringkan tapi di Jawa ada jadi Sistem NKRI & Otonomi Daerah yang tanggung2 perlu dikaji kembali secara ilmiah, Brigade Manguni hendaknya membuat seminar ilmiah dengan topik NKRI Otonomi Daerah VS Federal untuk Indonesia Lebih Baik beberapa Cendekiawan Sulut yg studi diluar negeri termasuk saya pernah membahas dalam diskusi tentang topik ini dan terlihat masing2 ada kelebihan dan kelemahan jadi kedua hal ini jika diupgrade untuk mendapatkan suatu Sistem yang lebih baik kenapa tidak tanpa menggunakan kata Federal pun Otonomi Daerah sudah menggunakan sistem federal baca di http://www.sulutiptek.com/ sebagai pesan tidak ada satu teori apapun dikolong langit ini yang bersifat absolut /tidak bisa berubah banyak contoh2 sistem negara yang harus beradaptasi terhadap perubahan tatanan kehidupan dunia. Salah satu kelemahan Unitari Sistem Negera Kesatuan Pembangunan Menjadi Lambat. Semoga BM dapat mengkaji lebih dalam lagi agar Indonesia menjadi lebih baik
hidup SULUT!!!
….MUDAH-MUDAHAN TORANG DENG TORANG JANGAN SAMPE ADA YANG MERASA TERSINGGUNG ATAU MERASA TERLAMPAUI…
.
…..ATOR BAE-BAE DAN BERDISKUSI DENGAN BAIK….
….ADA PERBEDAAN TORANG DENG TORANG TAPI SAMUA PASTI KITA RASA ADA SATU TUJUAN UNTUK KEMAJUAN TORANG P DAERAH….
Baik Gerafim maupun BMI jangan ribut2 atas nama adat minahasa agar jgn terjadi perpecahan di bangsa minahasa.kalau bangsa minahasa terpecah bela orang diluar akan senang.SADARLAH,…!!sampai skarangpun pembangunan di minahasa cm jalan ditempat..oleh sbab itu smua komponen masyarakat minahasa bangun dari mimpi berkepanjangan.
Saat ini pembangunan dan pendidikan orang minahasa sangat jauh tertinggal dengan suku2 yg lain.penyebabnya dari 2,yaitu dari luar daerah dan dalam daerah.Dari luar karena orang pusat tidak suka minahasa berkembang krna suku minahasa beda secara agama maupun ras.demikian juga oleh persaingan tiga sukubesar di indonesia(jawa,batak,bugis) yg mendominasi eksekutif,legislatif dan yudikatif maupun ekonomi/perdagangan.
Sedangkan dari dalam adalah korupsi,kolusi,nepotisme, toleransi yg kebablasan kepada pendatang, dan tidak ada regenerasi di sgala bidang karena tidak ingin disaingi oleh sesema minahasa yg lain.
Pesan buat BMI;jangan mengadili sesama bangsamu minahasa.qta satu leluhur toar lumimuut.
Pesan buat GERAFIM; lanjutkan perjuangan buat minahasa tanah tercinta tapi tetap dalam bingkai NKRI.Karena para pahlawan dan tokoh2 bangsa minahasa jg berjuang demi pendirian bangsa Indonesia. Bangsa minahasa bukan numpang di Indonesi tapi turut berjuang buat indonesia.
cocok kalo so bgni………