
Jakarta, BeritaManado.com — Kematian Arya Daru Pangayunan, seorang diplomat muda, masih menyelimuti kita dengan tanya.
Ditemukan tak bernyawa dengan kepala terlakban di kamar kosnya yang terkunci dari dalam, kasus ini terasa begitu janggal.
Publik pun bertanya-tanya, apakah ini murni bunuh diri atau justru skenario pembunuhan yang rapi dan terencana?
Menanggapi kerumitan kasus ini, mantan Wakabareskrim Polri, Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto, angkat bicara.
Dengan segudang pengalamannya di dunia reserse, Bekto meyakinkan bahwa kasus semacam ini sebenarnya “mudah diungkap”. Kuncinya? Penyidik harus fokus dan jeli.
“Kasus ini mudah diungkap selama penyidik fokus, penyidik betul-betul kepingin tahu, betul-betul jeli,” tegas Bekto, dikutip dari Suara.com jaringan BeritaManado.com, Senin (14/7/2025).
Lantas, apa saja sih pilar utama yang menurut jenderal purnawirawan ini harus dipegang teguh oleh tim investigasi?
Berikut adalah lima poin krusial menurut Bekto Suprapto:
- Olah TKP yang Sempurna: Kunci Utama Pengungkapan
Bagi Bekto, Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah segalanya.
Ia menekankan bahwa polisi harus memotret TKP secara menyeluruh, mulai dari sudut pandut pandang luas hingga detail sekecil-kecilnya.
“Kunci dari mengungkapkan kasus kematian terletak bagaimana polisi mengolah tempat kejadian perkara,” jelasnya.
Foto, menurutnya, adalah bukti yang tidak pernah berbohong.
Setiap detail, mulai dari posisi korban, barang-barang di sekitar, hingga posisi lakban, harus didokumentasikan tanpa celah sedikit pun.
Ini ibarat merekam ulang kejadian sesaat sebelum tragedi.
- Autopsi Mayat yang Mendalam: Suara dari yang Tak Lagi Bernyawa
Pilar kedua adalah autopsi, di mana Bekto menegaskan bahwa mayat tidak akan pernah berbohong, berbeda dengan manusia yang masih hidup.
Autopsi forensik yang komprehensif akan menjawab dua pertanyaan vital, yakni apa penyebab kematian dan kapan perkiraan waktu kematian itu terjadi.
“Mayat tidak akan berbohong. Waktu hidup dia bisa berbohong, mayat tidak bisa berbohong,” tuturnya.
Dari autopsi inilah akan terungkap apakah ada tanda-tanda kekerasan, racun, atau penyebab lain seperti asfiksia (kesulitan bernapas) akibat lakban.
- Analisis Rekaman CCTV Secara Detail: Saksi Bisu yang Berharga
Di era digital ini, CCTV adalah saksi bisu yang sangat berharga.
Penyidik, kata Bekto, harus meneliti rekaman CCTV di sekitar lokasi dengan sangat detail.
Ini bukan hanya soal melihat siapa yang datang dan pergi, tetapi juga menganalisis waktu kejadian yang sinkron dengan perkiraan waktu kematian dari hasil autopsi.
Setiap aktivitas mencurigakan, sekecil apa pun, bisa menjadi petunjuk penting yang tak boleh terlewatkan.
- Forensik Digital pada Gawai Korban: Membuka Kotak Pandora
Ponsel korban ibarat kotak pandora yang bisa membuka seluruh misteri.
Bekto menyoroti pentingnya pemeriksaan digital forensik terhadap gawai milik korban dan orang-orang yang terhubung dengannya.
“Bagaimana pemeriksaan HP korban dan orang-orang yang terhubung dengan korban,” katanya.
Jejak digital seperti riwayat panggilan (masuk dan keluar), pesan teks, WhatsApp, hingga lokasi terakhir, semuanya bisa memberikan gambaran mengenai aktivitas dan dengan siapa saja korban berinteraksi sebelum tewas.
- Keterangan Para Saksi Kunci: Melengkapi Puzzle
Terakhir, namun tak kalah penting, adalah keterangan dari para saksi.
Polisi harus menggali informasi dari orang-orang yang terakhir kali berinteraksi dengan korban.
Keterangan ini harus dikonfrontasi silang dengan bukti-bukti lain yang ditemukan, seperti data dari TKP dan analisis digital, untuk membangun rangkaian peristiwa yang utuh dan akurat.
Dengan fokus pada kelima hal ini, Bekto sangat yakin, “tidak terlalu lama, ini akan terungkap nanti,” pungkasnya optimis.
(jenlywenur)
