
Penulis: Sri Surya | Manado
Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) mendatangkan 2,4 ton cabai dari Probolinggo, Jawa Timur, untuk menjaga keseimbangan pasokan sekaligus membantu menstabilkan harga cabai di Sulut di tengah tekanan akibat cuaca dan keterbatasan pasokan.
Kepala BI Sulut Joko Supratikto mengatakan langkah tersebut menjadi upaya jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Tingginya konsumsi cabai masyarakat Sulut membuat komoditas ini memiliki pengaruh cukup besar terhadap kondisi harga.
“Cabai ini memiliki andil 0,33 persen, cukup tinggi. Karena memang konsumsi masyarakat di Sulawesi Utara dan Manado dan seluruh Sulawesi Utara itu sangat tinggi terhadap cabai ini,” ujar Joko.
Menurut Joko, konsumsi cabai masyarakat Sulut diperkirakan mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan rata-rata konsumsi nasional per orang.
Sementara itu, produksi dari dalam daerah belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Kondisi itu membuat Sulut masih membutuhkan pasokan cabai dari daerah lain, termasuk Gorontalo.
Pasokan Cabai Sulut Disesuaikan dengan Kebutuhan Pasar
Joko menegaskan, masuknya cabai dari luar daerah bukan dimaksudkan untuk menggantikan hasil produksi petani Sulut.
Pasokan tambahan tersebut justru diarahkan untuk membuat ketersediaan cabai di pasar lebih seimbang.
“Oleh karena itu, kita mencoba untuk menstabilkan harga, bukan menggantikan produk yang dihasilkan oleh Sulawesi Utara, enggak, tetapi adalah kita mencoba menyeimbangkan antara pasokan yang ada sekarang supaya merata,” jelasnya.
Probolinggo dipilih sebagai sumber pasokan karena cabai yang dihasilkan dinilai sesuai dengan preferensi masyarakat Sulut, khususnya dari sisi tingkat kepedasan yang serupa dengan cabai asal Gorontalo.
Sebanyak 2,4 ton cabai dikirim dari Probolinggo melalui Surabaya dan tiba pada malam sebelumnya.
Namun, jumlah tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan cabai masyarakat Sulut.
“Memang tidak cukup 2,4 ton, tapi ini adalah awal kita untuk mencoba menyeimbangkan pasokan yang ada di sini,” katanya.
Distribusi Cabai ke Manado, Minut, dan Minsel
Pasokan tersebut mulai disalurkan hari ini ke empat area yang mencakup Kota Manado, Minahasa Utara (Minut), dan Minahasa Selatan (Minsel), dengan pembagian berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Untuk Manado dan sekitarnya, sekitar 1,4 ton cabai dialokasikan. Adapun 1 ton lainnya akan dibagi untuk wilayah Minut dan Minsel.
Harga penjualan cabai ditetapkan mengacu pada Harga Acuan Penjualan (HAP), yaitu Rp57.000 per kilogram.
“Harga namanya HAP, harga acuan penjualan. Ini sebesar 57.000 per kilogram,” ungkapnya.
Joko menjelaskan, penetapan harga tersebut mempertimbangkan kepentingan pedagang sekaligus petani.
Dengan demikian, pedagang tetap memperoleh margin, sementara petani tidak dirugikan dalam kondisi pasokan yang berlangsung saat ini.
Tekanan inflasi terhadap cabai masih menjadi perhatian karena cuaca berdampak pada berkurangnya pasokan.
BI Sulut pun mengambil pasokan dari daerah yang memiliki ketersediaan lebih banyak untuk membantu memenuhi kebutuhan pasar.
“Memang tekanan inflasi terhadap cabai ini masih terus akan terus karena masih masalah cuaca, pasokan berkurang. Tapi ada daerah-daerah lain yang memiliki pasokan yang cukup banyak, oleh karena itu kita mendatangkan dari daerah lain,” tuturnya.
Joko menyebut distribusi dari Jawa Timur ini masih merupakan tahap awal. Respons pasar nantinya akan menjadi bahan evaluasi BI Sulut untuk menentukan langkah berikutnya.
Penyaluran cabai juga diawasi bersama Satgas Pangan dan Dinas Ketahanan Pangan agar distribusinya berjalan sesuai tujuan.
“Sekali lagi ini adalah tahap awal. Nanti kita akan coba bagaimana respons di pasar. Yang jelas ini adalah supaya merata,” pungkas Joko.
Dengan pasokan cabai Sulut mulai diperkuat dari luar daerah, keseimbangan ketersediaan menjadi kunci dalam menjaga harga tetap terkendali.
