
Minahasa, BeritaManado.com — Di zaman yang makin modern saat ini, makin sulit menemukan anak muda yang mau menjadi petani.
Gaya bertani yang masih konvensional akan terus berhadapan pada masalah yang sama, sementara sektor pertanian butuh solusi yang lebih kekinian dan praktis.
Di tengah sulitnya menghadirkan daya tarik bagi sektor yang menjamin ketahanan pangan masyarakat ini, harapan baru datang dari Desa Taraitak, Kecamatan Langowan Utara, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.
Ada kurang lebih 107 anak muda dengan rentang usia 17-30 tahun yang tergabung dalam Rukun Pemuda Kristen Taraitak (RPKT) dengan sebagian besar anggotanya berprofesi sebagai petani.
Rukun Pemuda Kristen Taraitak ini bahkan sedang menunggu rampungnya pembangunan gudang Koperasi Rukun Pemuda Kristen Taraitak yang sedang dibangun atas bantuan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara.
Berawal Dari Usaha Pencarian Dana, Akhirnya Memutuskan Bertani
Kepada BeritaManado.com, Ketua Rukun Pemuda Kristen Taraitak, Ivan Alessandro Welang, M.Th mengungkapkan, awal terbentuknya kelompok ini yaitu pada tahun 2016 lewat usaha penggalangan dana Komisi Pemuda untuk acara Natal.
Ivan mengatakan, pada momen itu, meski sedang kesulitan dana, tapi mereka ingin menghadirkan citra pemuda yang lebih mandiri sehingga meminimalisir jenis penggalangan dana yang biasa biasa saja dan memberanikan diri mencoba hal-hal baru.
Mereka pun mencoba sektor pertanian karena wilayah mereka memang merupakan daerah pertanian dan perkebunan, dimulai dari menanam ketimun. Setelah berusaha, akhirnya mulai ada hasil panen yang hasilnya kemudian diputar lagi untuk menanam jenis tanaman lain seperti cabe merah keriting.
“Dari bertani, kebutuhan pencarian dana terpenuhi bahkan lebih dari yang kami bayangkan. Kami pun akhirnya berkomitmen untuk terus bertani,” ujar Ivan.

Jadi Peserta Program PATUA Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara
Setelah memutuskan untuk serius terjun ke dunia pertanian, Ivan pun merasa dirinya perlu menambah ilmu, wawasan dan jejaring agar usaha tani yang telah dibina bersama rekan-rekan sesama anak muda di Taraitak boleh berkembang dan terus berinovasi.
Ivan pun resmi menjadi salah satu petani binaan Bank Indonesia lewat program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) -sebelumnya bernama Petani Unggulan Bank Indonesia (PUBI)- angkatan 2021 dengan komoditas utama Cabai Merah Keriting (CMK) di bawah Kelompok Tani (Poktan) Palemboyan yang merupakan bagian dari RPKT.
PATUA diketahui merupakan salah satu program unggulan dari Bank Indonesia yang bertujuan meningkatkan kapasitas, kapabilitas dan daya saling serta memperkuat kontrol terhadap faktor-faktor yang menyebabkan inflasi. Apalagi, komoditas pangan seperti cabai, bawang merah, tomat dan lain-lain sering jadi pemicu fluktuasi harga.
Ivan pun mengaku bersyukur dan berterima kasih karena dapat menjadi bagian dari PATUA sehingga dirinya bisa mendapat pelatihan tentang budidaya, pemilihan benih, pemupukan, irigasi, iklim dan lainnya.
Selain itu, Ivan juga dilatih praktik lapangan, mendapat pendampingan teknis oleh instansi terkait hingga kurasi produk.
Tak hanya itu, dengan mengikuti program PATUA, Ivan bersyukur bisa mendapat banyak kenalan dan relasi baru sesama pengusaha tani sehingga bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman.
“Terima kasih banyak kepada Bank Indonesia atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menjadi bagian dari PATUA. Kami dapat banyak hal yang sangat membantu kami mengembangkan pertanian di kelompok tani dan RPKT, tak hanyak ilmu, tapi juga dapat banyak bantuan,” ungkap Ivan.

Peran Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (KPw BI Sulut), Joko Supratikto dalam siaran persnya saat panen perdana bersama RPKT Taraitak mengatakan, dengan mempertimbangkan konsistensi penanaman CMK didukung jumlah lahan yang cukup luas yaitu 4 hektare dan tentunya semangat yang tinggi dari para petani muda RPKT dalam membudidaya komoditas Cabai, maka pada tahun 2024 KPw BI Sulut menyalurkan bantuan Program Ketahanan Pangan kepada Poktan Palemboyan berupa hand tractor, sprayer, bibit untuk kebutuhan 4 Ha CMK, aneka pupuk, mulsa, fungisida dan insektisida.
Melalui program bantuan ini bukan hanya untuk pengendalian inflasi tetapi juga mendorong lahirnya petani milenial yang produktif dan berdaya saing melalui penerapan Good Agriculture Practices (GAP).
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan keberlanjutan sektor pertanian dan mendukung program Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan.
Terbaru, pada 24 Juli 2025, Bank Indonesia Sulut kembali ke Taraitak untuk melaksanakan panen bersama komoditi CMK yang diketahui telah berhasil panen berkali-kali.
Turut hadir Bupati Minahasa dan Wakil Bupati Minahasa serta jajaran pemerintah desa setempat.
Pada momen tersebut, RPKT ketambahan bantuan 1 unit traktor untuk meningkatkan kinerja di lahan pertanian.
Bank Indonesia juga turut andil dalam pembangunan Gudang Koperasi RPKT di mana peletakan batu pertama dilaksanakan setelah pelaksanaan panen bersama dengan Bupati dan Wakil Bupati Minahasa.

Inovasi RPKT
Setelah mendapat ilmu dan dukungan dari Bank Indonesia, RPKT pun terus berinovasi demi meningkatkan volume produksi dan kualitas hasil panen.
Apalagi dengan gaya bertani yang makin modern dan canggih, menambah semangat dan motivasi untuk terus berkembang.
Inovasi yang dilakukan yaitu belajar menanam jenis komoditas lain agar hasil panen makin beragam.
RPKT juga sedang dalam pembentukan koperasi pertanian sebagai bentuk komitmen untuk lebih serius, tidak hanya sebagai petani tapi juga petani muda yang modern.
Para anak muda ini pun semangat menanti rampungnya pembangunan Gudang Koperasi RPKT.
“Kami berusaha untuk membangun gudang ini karena kami butuh tempat penyimpanan hasil panen dan kebutuhan pertanian yang memadai sehingga waktu simpannya bisa lebih lama. Gudang ini juga bisa jadi tempat sortir jadi hasil panen boleh berkualitas dan naik kelas sehingga nilai pasarnya boleh naik dan kami terbuka untuk seluruh warga desa bahkan luar desa,” ucap Ivan Welang.
Dengan adanya gudang ini, maka petani tidak perlu menjual rugi hasil panen karena tidak punya tempat penyimpanan, semua sudah bisa di gudang. Petani pun terbantu, baik untuk menjaga kualitas hasil panen, juga perekonomian.

Sinergitas bersama Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Minahasa, Pemerintah Desa dan Apresiasi
Begitu tiba di lahan pembangunan gudang Koperasi RPKT pada 24 Juli 2025 lalu, Kepala Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto tidak henti menyampaikan kekagumannya kepada para anak muda desa yang dengan sepenuh hati menjadi petani.
BI menegaskan pentingnya kolaborasi strategis antara pemerintah, Bank Indonesia, dan petani muda dalam menghadapi tantangan inflasi pangan, khususnya pada komoditas cabai yang selama ini menjadi penyumbang utama inflasi di Sulut.
“Generasi muda harus menjadi aktor penting dalam pertanian modern berbasis inovasi. Dukungan BI diharapkan mampu mendorong petani milenial agar lebih produktif dengan penerapan Good Agriculture Practices (GAP),” lanjut Joko.
Dukungan juga datang dari Bupati dan Wakil Bupati Minahasa, Robby Dondokambey dan Vanda Sarundajang.
Bupati Robby menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada RPKT atau Rukun Pemuda Kristen Taraitak atas semangat dan dedikasinya dalam mengembangkan sektor pertanian, khususnya dalam komoditas hortikultura seperti cabai merah keriting ini.
Ini bukan hanya sekadar panen biasa, tetapi merupakan panen yang kesekian kalinya, yang menunjukkan adanya keberlanjutan dan keberhasilan dari pola tanam serta manajemen yang baik.
Terlebih lagi, sebagai Bupati Minahasa, dirinya sangat mengapresiasi karena kegiatan ini merupakan bagian dari program binaan Bank Indonesia, yang sejak awal telah memberikan pendampingan, pelatihan, hingga penguatan kelembagaan kepada para petani dan kelompok pemuda di desa ini.
“Hal ini merupakan contoh konkret dari sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas masyarakat dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan sekaligus mendukung upaya pengendalian inflasi daerah,” kata Robby.
Lanjutnya, penguatan produksi cabe melalui model tanam yang terencana dan berkelanjutan seperti yang dilakukan RPKT, sangatlah strategis dalam menjaga stabilitas harga pangan di pasaran.
“Melalui kegiatan panen ini, kita tidak hanya bicara soal hasil panen secara fisik, tapi juga bicara tentang kemandirian, kreativitas pemuda, serta kontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi daerah,” ucap Robby.
