
Tondano — Pemilihan Umum (Pemilu) yang berintegritas tidak sekedar slogan semata.
Tapi itu harus diwujudnyatakan dalam pelaksanaan baik oleh si calon maupun masyarakat.
“Pemilu yang berintegritas melahirkan pemimpin yang berkualitas,” kata Sekretaris I FKUB Sulut Drs Tenni GM Assa menanggapi pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden serta pemilihan calon legislatif baik DPD RI, DPR RI, DPRD provinsi dan DPRD kota/kabupaten.
Ketua Komisi Remaja Sinode Am Gereja-gereja (SAG) Sulutteng ini mengakui, saat ini semangat demokrasi memilih pemimpin bangsa mulai dicemari dengan politik transaksional.
Dimana calon pemimpin nanti hanya ditentukan dengan berapa besar dana yang dikucurkan untuk membeli suara rakyat.
“Jadi yang akan terpilih nanti hanyalah mereka yang memiliki kemampuan finansial. Sehingga tidak dilihat lagi yang dipilih nanti apakah yang bersangkutan mampu mengawal dan memperjuangkan aspirasi rakyat,” kata Assa
Tapi, Tenni Assa yang juga wartawan senior ini mengakui, para wakil rakyat terpaksa juga melakukan hal itu, karena terjebak pada desakan konstituen yang mengimingi suaranya dengan uang.

“Meski begitu kita jangan berputus asa. Kita harus mengambil sikap tegas, walaupun resikonya tidak mendapat dukungan. Ini saya alami. Ketika mau diminta imbalan dengan suara yang akan diberikan, saya langsung katakan biar saja saya tidak dipilih dari pada memberikan uang,” tukas calon anggota DPRD Provinsi dari Dapil 6 Minahasa dan Tomohon nomor urut 3 dari Partai Demokrat ini.
Tapi Tenni juga mengakui, masih banyak warga yang bertindak rasional. Karena tidak gampang terbujuk dengan uang ataupun bingkisan.

“Di sisi lain ada kebanggaan tersendiri karena masih banyak rakyat yang tidak mudah dibeli dengan uang atau juga bingkisan,” urainya.
(rds)
