Betapa tidak, di antara pelbagai generasi lintas usia, para manula hingga milenials(khusus untuk para cucu) tampak mengekspresikan lebih dari sekadar seremoni perayaan.
Dan layaknya, Tuhan itu lebih terasa kehadiran di antara berlangsungnya hajatan dari persona yang penuh pesona dan menularkan sasmita pada kewaskitaan kita tanpa mengenal batas usia dan
keyakinan.
Apalagi, hanya diukur dari kekayaan dan jabatan yang memang fana.
Karena di antara pelbagai pesona yang memancar, seorang ibu paruh baya merasa terusik dengan hadirnya seorang lelaki penuh tato di wajah dan di sekujur tubuhnya dengan kepala plontos.
Dengan aksi bagai seorang skuad cekatan, ia berdiri cekak di belakang punggung SHS yang sangat mengganggu penglihatan ibu itu atas penampilan artis Dirly.
Mungkin ibu itu dan sebagian orang tak kenal lelaki bertato itu.
Ia adalah Papar.
Lelaki yang sering bisa dijumpai di sepanjang mall boulevar dan kedai-kedai kopi.
Siapa sangka, lelaki ini sangat akrab dengan sang Duta Besar dan sering menyapanya dengan sebutan: Papi.
Pada suatu senja yang tampak murung, tiba-tiba Papar bangkit dari kaparannya dengan menyela saya:
“Kalo Papi so datang, Papar somo dapa pici berkat.”
Meski tampak lugu dan lucu, cara Papar itu adalah respon dari sebuah itikad sasmita.
Ya. Tiap persona ada hikmat pesonanya.
“Papi dan Papar, sama rasa sama rata. Papi itu berkat. Papar itu bertato.”
Oleh: Reiner Emyot Ointoe
Baca juga:
- Dr Sinyo Harry Sarundajang Rayakan Syukur HUT ke-75
- Penerbangan Internasional Perdana Manado-Davao oleh Garuda Indonesia
- Di Manila, Begini Perayaan Syukur HUT Pernikahan Kel Sarundajang-Laoh Tambuwun ke-50
