Pada jam 7 malam kami berada kembali di rumah Pendeta Schaafsma untuk beribadah dan menerima pengajaran agama Katolik dari Pater Johanes de Vries SJ.
Setelah itu, kami juga diberi pesan untuk selanjutnya setiap hari Minggu dan haris pesta lainnya untuk berkumpul dan beribadah di rumah bapak Daniel Mandagi.
Setelah pertemuan malam itu, kami pun kembali berpamitan untuk pulang dan Pater Johaens de Vries menyampaikan ucapan terima kasih kepada saya karena telah membantunya dalam perayaan Misa, upacara penerimaan Sakramen Permandian serta kebaktian malam dan pengajaran agama.”

Momentum bersejarah yang meungkin sudah banyak terlupakan umat Katolik Langowan saat ini kembali disegarkan kembali dengan kedatangan rombongan Imam Jesuit ke Langowan pada Minggu 4 Agustus 2024.
Kedatangan rombonan Imam Jesuit tersebut dalam rangka merayakan Misa Pertama dari Romo Tiro Angelo Supit Daenuwy SJ yang berdarah Minahasa dari sang ibu.
Momentum tersebut boleh terwujud setelah 104 tahun silam seorang Imam Jesuit terakhir melayani umat Katolik Langowan yaitu Pater Jansen SJ (sesuai catatan sejarah di Sekretariat Paroki St. Petrus Langowan).
Romo Tiro Angelo Supit Daenuwy SJ sendiri mengungkapkan kekagumannya bisa berada di wilayah paroki yang menjadi titik sentral berseminya benih iman Katolik pada 156 tahun silam.
“Saya senang bisa menyapa umat yang merupakan buah dari benih iman yang ditanam dan dirawat oleh para misionaris Jesuit pendahulu. Semoga perjumpaan ini dapat kembali menyemai benih iman khususnya panggilan untui menjadi biarawan dan biarawati untuk melayani Tuhan dan sesama,” harap Romo Tiro.
Bagi salah satu tokoh numat Katolik Langowan Eddy Kembuan, para Imam Jesuit bagaikan penabur benih iman Katolik di wilayah Paroki St. Petrus Langowan saat ini.
“Kini tugas kita bersama untuk memelihara benih iman ini agar dapat terus tumbuh dan berbuah lebat,” harap Eddy Kembuan.
Kisah ini disusun dengan menggabungkan unsur imajinatif dan data-data sejarah yang ada di Paroki St. Pertrus Langowan.
(Frangki Wullur)
