
Jakarta – Dr Theo Leo Sambuaga, MIPP (TLS) bikin kejutan. Memperingati ulang tahun ke-75 dan peluncuran otobiografi, Theo undang 300an tokoh nasional.
Sesungguhnya Theo berulang tahun pada 6 Juni (sama persis dengan Bung Karno) namun baru dapat dilaksanakan 22 Juni 2024.
Peringatan HUT dirangkai dengan peluncuran buku otobiografi.
Maka, terjadilah reunian ratusan tokoh nasional di Grand Ballroom Mulia Hotel Senayan Jakarta, Sabtu 22 Juni 2024.
“Reunian ini lintas partai, lintas generasi dan lintas idelogi politik,” komentar Rosiana Silalahi, Pemimpin Redaksi Kompas TV.
Rosi -demikian presenter televisi perempuan Indonesia ini suka disapa- menilai Theo bikin surprise.
Kenapa surprise, karena semua tokoh penting dalam sejarah Indonesia berhasil dikumpulkan dalam satu pertemuan akbar.
“Padahal ini kan sepertinya acara peringatan ulang tahun sebagaimana biasanya,” ujar Rosi yang hari itu didaulat menjadi moderator Panel Diskusi tanpa judul.
Topiknya ya membahas Siapa Theo Sambuaga. Kendati ada empat panelis, Rosi justru turun ke lantai tamu.
Perempuan berpengaruh ini menyapa beberapa tokoh dengan khas Rosi. Ceplas-ceplos.
Rosi menemui dan mewawancarai Wapres ke-6 Tri Sutrisno, Wapres ke-10 dan 12 Jusuf Kala, Aburizal Bakrie, Akbar Tanjung, Guntur Sukarnoputra, Ginanjar Kartasasmita dan Jenderal (Purn) Wiranto.
Yang menarik perhatian dan dapat aplaus hadirin adalah ketika Rosi menyapa Tokoh Sentral Peristiwa Malari atau 15 Januari 1974 yaitu dokter Hariman Siregar.
Hariman yang pada 1974 adalah Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia didaulat Rosi.
Kenapa abang marah sama Theo. Anda menulis itu dalam testimoni di buku otobiografi Theo: Pemikir Pejuang – Pejuang Pemikir. Berkarya Bagi Bangsa.
Hariman menepis Rosi, “Saya tidak marah sama Theo. Kami kesal saja karena dia masuk Golkar. Tapi itu pilihan Theo. Dia itu konsisten dengan koreksi terhadap ketidakadilan di negeri ini,” kata Hariman Siregar mengkritisi dan memuji Theo lalu disambut riuh hadirin.
Pasca peristiwa Malari, Theo yang adalah Wakil Ketua Umum DM-UI 1973-1974 bersama puluhan aktivis mahasiswa 1970an ditangkap aparat negara lalu dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer di Jakarta.
Selain Theo dan Hariman ada pula Gurmilang Kartasasmita, Judilhery Justam dari UI, John Pangemanan dari Sekolah Timggi Olahraga (STO), Jesse Monintja, Remmy Leimena dan lainnya.
Ketika di RTM Budi Utomo Jakarta Pusat, Theo bertemu tahanan politik lainnya seperti Dr. Dorojatun Kuntjorojakti, dokter Marsilam Simanjuntak, Adnan Buyung Nasution, Yap Thiam Hien, Rahman Tolleng dan sebagainya.
