Agama dan Pendidikan

Usai Lewati Badai, Tim Kesenian SMP Negeri 3 Manado Berhasil Raih Medali Emas di FLS2N

“Semangat dan kerja keras serta kemauan anak-anak untuk mau dilatih itu menjadi pertimbangan kami hingga akhirnya kami tetap survive,” ujar Delfison, Sabtu (4/9/2021).

Badai pun berlanjut, di mana untuk bisa tetap melaksanakan latihan maka ada pengorbanan yang harus diberikan yaitu waktu, tenaga bahkan materi karena proses latihan yang tidak bisa dilaksanakan secara virtual.

Tim kesenian pun melaksanakan latihan di sekolah meski frekuensi latihan tidak seintens tim kesenian tahun sebelumnya.

Dengan tetap mentaati protokol kesehatan, tim kerja dan anak-anak yang masuk tim pun berlatih dengan membawa bekal masing-masing dari rumah.

Tantangan selanjutnya yaitu memaksimalkan berbagai alat musik yang ada, properti untuk lomba yang kebanyakan swadaya hingga seragam.

Tim ini merelakan tidak memiliki seragam baru untuk tahun ini karena tidak adanya anggaran yang tersedia, sehingga terpaksa harus menggunakan seragam dari tim sebelumnya.

“Bersyukur banyak yang mendukung kami. Anak-anak Sanggar Seni Mandiri juga menaruh perhatian besar kepada adik-adiknya sehingga turut membantu. Tentu juga terima kasih kami kepada Kepala SMP Negeri 3 Manado Ibu Dra. Jenny Etty Pande MSi yang meski tinggal melanjutkan kepemimpinan dari Kepsek sebelumnya tapi boleh bersama kami sampai saat perekaman gambar. Terima kasih juga kepada para orang tua karena mengizinkan anak mereka latihan di sekolah setiap hari,” kata Delfison Pertama.

Sanggar Seni Mandiri sebagai tim produksi juga punya andil besar dalam raihan medali ini, bahkan para kakak-kakak turun tangan langsung membantu adik-adiknya, diantaranya pada kameramen dan make up dibantu Clearyn Maria Bertila Scholastika Lumeling (Nanda), Avey Ang Wansaga dan Sania Mamonto, Penata musik tari (baru pertama kali menata musik untuk tari) Yohanis Takumansang, audio dibantu Jordan Johanis (Ka Odang).

Dari pantauan BeritaManado.com, selama pelaksanaan FLS2N khususnya masa seleksi dari tingkat kota, provinsi hingga mengirim perwakilan ke tingkat nasional, masalah yang dihadapi hampir sama yaitu alokasi anggaran yang kurang memadai.

Akhirnya, peserta yang menjadi perwakilan kota atau provinsi sekalipun harus berjuang mencari dana dari luar, seperti menjual makanan, proposal atau dari donatur.

Cara itu jelas tidak berlaku saat ini karena pandemi Covid-19 yang membuat ekonomi warga terganggu.

Hal ini berbeda dengan provinsi lain yang justru menaruh perhatian ekstra pada kegiatan ini sehingga para peserta dapat mengekspresikan kreativitasnya dengan maksimal.

Usai Lewati Badai, Tim Kesenian SMP Negeri 3 Manado Berhasil Raih Medali Emas di FLS2N
Para peserta sedang mengikuti pengumuman via zoom meeting

Delfison Pertama pun berharap, berbagai lomba seni seperti FLS2N dan lainnya apalagi yang melibatkan anak-anak dan remaja boleh mendapat perhatian dari Pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi, terutama karena yang dibawa dan dipertaruhkan adalah nama daerah.

“Baik itu dinas-dinas terkait, kepala daerah, wakil rakyat, pimpinan sekolah bahkan sampai ke orang tua, kiranya ada perhatian. Jangan anggap remeh seni sementara mengagungkan sisi akademis. Tidak semua anak hebat dalam akademik, tapi bisa saja mereka berpestasi di kesenian. Tolong dukung, motivasi anak-anak untuk bisa mengasah talenta, minat bakat yang ada. Dengan medali emas ini, kiranya kesenian daerah tidak lagi dianggap remeh tapi boleh lebih dihargai lagi di daerah sendiri,” pungkas Delfison.

Selain musik tradisional, tim kesenian SMP Negeri 3 Manado juga berhasil membawa tim tari tradisi menjadi finalis dalam ajang FLS2N 2021 dengan membawakan tari bertajuk Sumikolah.

Menariknya, pelatih tari tim ini, Imas Salsabillah Winata adalah senior di tim tari tradisi Tim Kesenian SMP Negeri 3 Manado dan baru kali ini menjadi pelatih untuk lomba sekelas FLS2N namun langsung berhasil mewakili Sulawesi Utara di tingkat nasional.

Atas prestasi yang diraih ini, salah satu tim kerja yang juga merupakan manager Sanggar Seni Mandiri Harry Patriori Malomba mengaku bangga karena seluruh tim telah bekerja keras dan mau diasah.

“Latihan anak-anak ini terbilang keras. Tidak hanya skill yang dipentingkan tapi juga kesiapan mental anak-anak, attitude dan disiplin. Makanya bangga juga mereka berhasil ada sampai di sini. Tapi ini belum akhir, kita masih harus terus berkarya ke depan melestarikan kesenian daerah,” kata Harry.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara